Sekolah Mulai Dibuka, PTM Terkendala Waktu yang Terbatas

10
Suasana pembelajaran tatap muka (PTM) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Rawalaut Kota Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Rawalaut Kota Bandar Lampung termasuk salah satu sekolah yang diizinkan melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) di masa pandemi Covid-19.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik di sekolah tersebut, A.B Harianto S. Pd mengaku, bahwa anak didiknya sangat mentaati protokol kesehatan (prokes). Di ruangan kelas, mereka memakai masker, face shield, juga kaca pembatas di meja.

“Ketentuan belajar di sekolah ini, sehari hanya dua jam, dimulai sejak pukul 07.30 WIB. Dan pelaksanaanya cuma hari Senin sampai Kamis. Tapi, untuk sementara siswa kelas IX saja, sedangkan siswa kelas VII dan VIII masih belajar di rumah (online),” terang Harianto kepada BERITANDA, Senin (20/9).

Dia juga menjelaskan, PTM di SMPN 1 Rawalaut Kota Bandar Lampung sudah dimulai sejak Senin (13/9) yang lalu. Hari ini merupakan pekan kedua.

“Dari 11 kelas yang ada untuk siswa kelas IX, kami pecah menjadi 6 kelas. Setiap kelasnya dibagi dua, kelas A dan B. Masing-masing kelas maksimal hanya 16 orang siswa,” ujarnya lagi.

Langkah pertama sebelum kami menjalankan PTM, lanjut dia menerangkan, sekolah wajib mendapat persetujuan dari komite dan orang tua murid. Ini merupakan peraturan dari Satgas Covid, dengan menyebar angket.

“Angket ditujukan kepada orang tua murid yang anaknya siap mengikuti PTM terbatas dengan mengisi angket, dan ditandatangani di atas materai. Kalau tidak bersedia, pembelajaran akan kami lakukan secara offline,” papar dia.

Untuk belajar tatap muka yang baru dimulai ini, sekolah harus siap protokol kesehatan. Di pintu masuk sekolah, pihaknya melakukan cek suhu dan menyediakan hand sanitizer, tempat cuci tangan, juga tissu.

“Di sekolah ini juga siswa memperoleh tiga perlindungan di dalam kelas, yaitu memakai masker, kemudian kami sediakan face shield, juga meja yang di desain khusus dibatasi dengan kaca acrylic, ” katanya.

Kemudian, lanjut Harianto, kendala dari pembelajaran tatap muka ini ada. Terkait kurikulum misalnya. “Mata pelajaran Bahasa Indonesia enam jam, Matematika lima jam, IPA enam jam, itu semua jadi satu jam, kata dia.

“Untuk pencapaian kompetensi memang agak terganggu. Namun demikian, kami memahami hal tersebut. Kan ini katanya kebijakan untuk memulai langkah awal belajar secara riil, tatap muka (berkumpul). Artinya kan, fokusnya bukan target kompetensi, yang penting kita selamat. Alhamdulillah bisa terbebas dari Covid-19 nantinya,” ungkap Harianto lagi.

Sementara menurut Joko Indarjo, S.Pd yang merupakan guru mata pelajaran IPA, bahwa dalam memberikan materi pelajaran tidak ada kendala, karena belajar tatap muka. Hanya waktunya itu saja yang terbatas.

“Untuk IPA kan kegiatannya ada praktikum, ada diskusi, ini menjadi terkendala, kan mereka belajar di meja masing-masing. Karena kondisi Covid-19 jadi terbatas. Belajar di kelas pun pasti nggak boleh diskusi, siswa dibatasi per individu satu meja dan dibatasi dengan kaca. Cara penyampaian materi pelajaran kalau tidak ada LCD-nya, kita menggunakan white board, juga ceramah dan tanya jawab,” tutur dia.

Di akhir kata, dirinya berharap semoga pandemi ini segera berlalu, sehingga sekolah menjadi normal kembali. Menurut Joko, lebih senang belajar normal, ngajarnya enak, siswa bisa berkumpul dan ceria.

“Sementara selama Covid ini terbatas, tidak mengejar target dan kurikulum, semua diperingan. Saya sebagai guru tidak puas, karena anak – anak cara memperoleh pengetahuan hanya sebagian, tidak menyeluruh,” tutupnya.

Sedangkan Kevin, siswa kelas IX yang ditemui di sekolah tersebut mengaku senang bisa masuk sekolah lagi. “Kami belajar di ruang kelas dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes), yaitu memakai masker dan menjaga jarak, di sini juga kantinnya nggak buka,” tutur dia singkat. [Katharina Yanuarti]

Bagaimana Menurut Anda