Pemaparan Kinerja Industri Jasa Keuangan Periode Triwulan 1 – 2022

12

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Dalam upaya mendukung pemulihan ekonomi nasional, Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung terus mendorong sektor jasa keuangan untuk lebih aktif dalam menyalurkan pembiayaan di sektor ekonomi, khususnya yang terdampak pandemi Covid-19, sehingga dapat bangkit dan pulih kembali untuk menopang perekonomian daerah dan nasional.

Penyaluran kredit/pembiayaan ke sektor industri pengolahan sampai dengan triwulan 1 2022 mencapai Rp 4.220.270.206, meningkat 6,11% dibandingkan dengan triwulan 1 2021 yang sebesar Rp 3.977.442.543.

Demikian juga di sektor perdagangan besar dan eceran, penyaluran kredit/pembiayaan di triwulan 1 2022 sebesar Rp 16.174.944.268, meningkat 8,97% dibandingkan posisi Maret 2021 yang sebesar Rp 14.843.549.201.

Selain itu, di sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga meningkat 12,59% dari posisi Maret 2021 sebesar Rp 549.425.613 menjadi Rp 618.589.017 di bulan Maret 2022.

Sektor real estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan juga mengalami peningkatan sebesar 11,11% dari triwulan 1 2021 sebesar Rp 866.785.491 menjadi sebesar Rp 963.079.012 di triwulan 1 -2022.

“Semakin terkendalinya penanganan Covid -19 yang berdampak pada aktivitas sosial ekonomi yang semakin tinggi, sangat membantu pemulihan ekonomi di sektor riil khususnya sektor-sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Lembaga pembiayaan baik perbankan maupun multifinance, fintech P2P lending dan securities crowd funding sudah semakin percaya diri untuk menyalurkan kredit kepada sektor-sektor terdampak Covid-19 tersebut. Hal ini diharapkan akan semakin mempercepat pemulihan ekonomi baik di daerah maupun secara nasional, “ungkap Kepala OJK Provinsi Lampung Bambang Hermanto dalam acara pemaparan kinerja industri jasa keuangan periode triwulan 1 – 2022 di Hotel Sheraton Bandar Lampung, Kamis (19/5).

Kinerja perbankan, pertumbuhan penyaluran kredit di Provinsi Lampung memiliki peningkatan yang lebih baik, yaitu sebesar 5,05% dibandingkan dengan peningkatan secara nasional yang berada di angka 2,47% dengan share kredit Lampung terhadap nasional sebesar 1,19%.

Penyaluran kredit/pembiayaan perbankan posisi triwulan 1-2022 di Provinsi Lampung mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan triwulan 1-2021 (yoy) yaitu meningkat sebesar Rp 3,46 miliar atau 5,05% yaitu dari sebesar Rp 68,45 triliun menjadi sebesar Rp 71,91 triliun.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan triwulan 4-2021 (ytd) mengalami penurunan sebesar Rp 111 miliar atau 0,15% yaitu dari sebesar Rp 72,02 triliun menjadi sebesar Rp 71,91 triliun.

Penurunan ini disebabkan adanya penurunan kredit pada bank umum konvensional sebesar Rp 307,67 miliar yang disumbang dari sektor ekonomi perantara keuangan yang menurun cukup signifikan sebesar Rp 667.74 miliar (-15,29%).

Khusus untuk Kredit UMKM mencatat angka pertumbuhan cukup signifikan yakni 21,62% dari Rp 20,77 triliun menjadi Rp 25,26 triliun dengan share terhadap total kredit meningkat dari 30,35% menjadi 35,13%.

Total aset perbankan di Provinsi Lampung posisi triwulan 1-2022 tercatat mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan triwulan 1-2021 yaitu meningkat sebesar 13,45% dari sebesar Rp 97,53 triliun menjadi sebesar Rp 110,65 triliun.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan triwulan 4-2021 total aset perbankan di Provinsi Lampung juga tercatat meningkat sebesar 2,54% dari sebesar Rp 107,91 triliun menjadi sebesar Rp 110,65 triliun.

Untuk penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) posisi triwulan 1-2022 tercatat mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan triwulan 1-2021 yaitu meningkat sebesar 9,51% dari sebesar Rp 54,24 triliun menjadi sebesar Rp 59,40 triliun.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan triwulan 4-2021 penghimpunan DPK Provinsi Lampung juga tercatat meningkat sebesar 0,75% dari sebesar Rp 58,95 triliun menjadi sebesar Rp 59,40 triliun.

Kinerja kualitas kredit di triwulan I 2022 juga semakin membaik dibandingkan triwulan I 2021 dan triwulan IV 2021 dengan adanya penurunan rasio NPL dari 4,95% dan 4,55% menjadi 4,33%. Sedangkan untuk rasio NPL Kredit UMKM sedikit mengalami peningkatan dari 3,53% dan 3,88% menjadi 3,94%.

Kinerja Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) kinerja perusahaan pembiayaan di Provinsi Lampung tumbuh 3,44% (yoy) atau 2,57% (ytd) dengan nilai piutang pembiayaan per Maret 2022 tercatat sebesar Rp 7,9 triliun dan NPF yang membaik dari sebelumnya 2,68% pada Desember 2021 menjadi 2,48% pada Maret 2022.

Peningkatan piutang perusahaan pembiayaan di Provinsi Lampung didorong oleh jenis pembiayaan modal kerja dan investasi dengan mayoritas sektoral mengalami pertumbuhan positif.

Untuk kinerja perusahaan asuransi, pendapatan premi asuransi di Provinsi Lampung menurun sebesar Rp353,05 M atau 43,76% (yoy).

Penurunan pendapatan premi disebabkan oleh penurunan premi asuransi konvensional baik jiwa maupun syariah yang masing-masing turun sebesar Rp 251,79 miliar atau 51,19% (yoy) dan Rp 118,1 miliar atau 40,79% (yoy).

Sementara klaim asuransi di Provinsi Lampung meningkat sebesar Rp 29,16 miliar atau 11,73% (yoy).

Penurunan pendapatan premi asuransi disebabkan adanya kanal distribusi keagenan asuransi khususnya asuransi jiwa dan asuransi PAYDI (Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi) yang belum optimal menyusul adanya pengaturan yang lebih ketat pada tata cara penjualan produk asuransi jiwa khususnya unit link sebagaimana diatur dalam SE OJK No.5/SEOJK.05/2022 mengenai PAYDI.

Selain itu ada perubahan pembayaran premi untuk mengcover kredit konsumtif dari perusahaan asuransi yang memiliki Kantor Cabang/kantor Perwakilan di Lampung kepada perusahaan asuransi yang tidak memiliki kantor di Lampung sehingga tidak tercatat dalam statistik kinerja keuangan wilayah lampung.

Kinerja industri fintech peer-to-peer lending dan pasar modal pertumbuhan kinerja fintech P2P Lending di Provinsi Lampung dari sisi outstanding meningkat Rp 284 miliar atau 102,9% (yoy) dan dari sisi akumulasi penyaluran pinjaman kepada borrower meningkat Rp 2.194 miliar atau 89,28% (yoy).

Sementara akumulasi dana yang diberikan oleh lender di Provinsi Lampung terkontraksi sebesar Rp 70 miliar atau 85,37% (yoy).

Terdapat 1 perusahaan fintech P2P lending berizin di Provinsi Lampung, yaitu Lahan Sikam yang telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp 139,62 miliar.

Kinerja pasar modal pada triwulan I 2022 mencatat SID total di Provinsi Lampung tumbuh sebesar 115,97% (yoy) atau lebih rendah jika dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 156,56% (yoy).

Jumlah investor di Provinsi Lampung berdasarkan SID hingga Maret 2022 adalah sebanyak 197.541 investor atau 2,37% dari total investor nasional yang mencapai 8.326.357 investor dengan jumlah investor terbanyak berada di Kota Bandar Lampung sebesar 74.723 investor atau 37,82% dari total investor di Provinsi Lampung.

Jenis SID didominasi oleh SID Reksadana yang meningkat sebesar 125,39% (yoy), SID Saham yang meningkat sebesar 126,49% (yoy), dan SID SBN yang meningkat sebesar 44,75%.

Sementara untuk SID E-BAE (Elektronik-Biro Administrasi Efek) tidak mengalami penambahan jumlah sejak tahun 2020 sebanyak 1 investor.

Hingga triwulan I-2022, transaksi pasar modal yang terdiri dari transaksi saham dan reksadana di Provinsi Lampung menurun sebesar Rp1.435,34 Miliar atau turun 16,48% (yoy).

Penurunan terbesar disebabkan oleh penurunan transaksi saham di Provinsi Lampung yang turun sebesar Rp 1.418,83 miliar atau turun 16,51% (yoy).

Kondisi yang sama ditunjukkan dengan transaksi pasar modal secara nasional yang turun sebesar Rp291.459,24 miliar atau turun 18,91%.

Dalam acara media update tersebut juga dipaparkan upaya OJK Lampung melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) untuk mempermudah masyarakat khususnya para pelaku usaha UMKM mengakses informasi dan kredit yang murah, mudah dan cepat yang disediakan oleh lembaga jasa keuangan di Lampung melalui website Pasar Kredit Murah Lampung yang dapat diakses di www.pakemlampung.id.

Website ini selain menjadi ajang business matching secara online antara UMKM dengan penyedia produk jasa keuangan dari Bank Umum, Bank Umum Syariah, BPR, BPRS, Lembaga Pembiayan Ekspor Impor (LPEI), Pegadaian, PNM, Fintech P2P lending dan Bank Wakaf Mikro. Juga ditujukan untuk memerangi rentenir dan pinjol ilegal yang kerap tidak membantu masyarakat namun justru membebani pelaku usaha UMKM dengan lilitan utang. (Katharina)

Bagaimana Menurut Anda