Indonesia Berpeluang Menjadi Pemimpin Ekonomi Halal Global

10

PALEMBANG, BERITAANDA – Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin ekonomi halal global. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia serta posisi strategis sebagai penghubung kawasan Asia Pasifik dan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Indonesia memiliki modal kuat untuk memimpin industri halal dunia.

Hal tersebut disampaikan pengusaha nasional asal Palembang, Arsjad Rasjid, saat memberikan kuliah umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

Dalam kesempatan itu, Chairman B57+ Asia Pacific Chapter ini menegaskan, bahwa cita-cita menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi halal dunia hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

“Membangun ekosistem halal itu seperti membangun rumah. Tidak bisa sendirian. Butuh gotong royong. Dan kita punya modal yang tidak sedikit untuk memimpin,” kata Arsjad, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, potensi ekonomi halal global sangat besar. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, nilai ekonomi halal dunia mencapai USD 2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 3,56 triliun pada 2029.

Meski memiliki populasi Muslim terbesar di dunia dengan lebih dari 240 juta jiwa, Indonesia saat ini masih berada di peringkat keempat dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI). Posisi tersebut berada di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

“Malaysia ada di peringkat pertama, sementara kita di peringkat keempat. Padahal Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia dan posisi geografis yang sangat strategis. Masa kita kalah dengan Malaysia?” ungkapnya.

Arsjad menjelaskan, Indonesia memiliki keunggulan sebagai penghubung antara kawasan Asia Pasifik dan negara-negara anggota OKI. Keunggulan tersebut dapat menjadi modal utama untuk memperluas pasar produk dan layanan halal Indonesia ke tingkat global.

Dalam kapasitasnya sebagai Chairman B57+ Asia Pacific Chapter, Arsjad juga mendorong penguatan kerja sama ekonomi antarnegara. B57+ merupakan inisiatif strategis yang digagas Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) untuk menghubungkan pasar di 57 negara anggota OKI serta negara-negara mitra lainnya.

Ia mengatakan, B57+ Asia Pacific berfokus pada tiga agenda utama, yakni meningkatkan perdagangan antarnegara OKI melalui jaringan bisnis yang terstruktur, memperkuat arus investasi ke dalam ekosistem halal lintas negara, serta merumuskan rekomendasi kebijakan agar produk halal lebih mudah diterima di pasar internasional.

“Yang membedakan B57+ dari inisiatif multilateral lainnya adalah ukurannya. Kami berbicara tentang perdagangan nyata, investasi nyata, dan dampak nyata, bukan sekadar deklarasi,” terangnya.

Selain itu, Arsjad menekankan bahwa ekonomi halal tidak bersifat eksklusif. Menurutnya, pengembangan sektor halal harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk pelaku usaha non-Muslim, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian nasional.

Ia berharap Indonesia dapat memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki untuk memperkuat posisinya sebagai pemain utama ekonomi syariah dunia sekaligus mewujudkan target menjadi negara nomor satu dalam ekonomi halal global. (Febri)

Bagaimana Menurut Anda