Warga Semabi dan Landau Kodah Buka Tiang Perdamaian dengan Prosesi Adat

27
Prosesi adat pembukaan tiang perdamaian di batas Desa Semabi dan Landau Kodah atas sanksi adat kepada salah satu LSM dan kelompok warga SP1 Landau Kodah Sekadau Hilir. (BERITAANDA)

SEKADAU-KALBAR, BERITAANDA – Masyarakat Desa Semabi dan Desa Landau Kodah, Rabu (4/11/2020) siang, mengadakan ritual pencabutan tiang perdamaian di perbatasan kedua desa. Prosesi adat ini dibuka dengan makan siang.

Tiang perdamaian ini dipasang pengurus adat Desa Semabi sejak beberapa waktu lalu, menyusul adanya permasalahan klaim hak pengelolaan lahan di kedua desa oleh salah satu LSM yang menyatakan mendapatkan kuasa dari sekelompok warga SP 1 Landau Kodah.

Beberapa langkah penyelesaian permasalahan telah dilakukan pihak – pihak terkait, sehingga salah satu kelompok warga mendapatkan sanksi adat oleh pengurus adat Dayak dan Melayu Desa Semabi.

Kepala Desa Semabi, Jamri menjelaskan, bahwa ritual adat ini sebagai bagian dari adat permasalahan eks lahan transmigrasi di Desa Semabi dan Landau Kodah.

“Dibatas desa telah dipasang patok adat, yang setelah acara ini akan dibuka untuk memberikan ketentraman kepada masyarakat di desa kami dan juga di Landau Kodah,” ujar Jamri.

Dipaparkan Jamri, lahan yang diklaim LSM dan sekelompok warga SP1 Landau Kodah tersebut saat ini merupakan bagian dari lahan yang telah diserahkan warga kepada perkebunan kelapa sawit dan masuk dalam HGU perusahaan.

Sebelumnya, ditegaskan Jamri, masyarakat Semabi dan Landau Kodah telah berpuluh tahun mengelola lahan tersebut dengan luasan ratusan hektare. Setelah ada perusahaan perkebunan sawit, masyarakat menyerakan sebagian lahan ke perkebunan.

“Setelah sekian lama, lalu ada pihak yang mengklaim sebagai pengelola lahan, dahulu tidak ada yang mengurus lahan itu,” timpal Jamri.

Parahnya lagi, LSM yang diberi kuasa sekelompok warga SP1 Landau Kodah itu membuat laporan kepada aparat hukum di tingkat provinsi tanpa melakukan koordinasi kepada pihak desa, kecamatan dan kabupaten.

Hal tersebut membuat warga di Desa Semabi merasa resah dan tidak tenang, karena tanpa proses konfirmasi atau mediasi di tingkat bawah. “Akibatnya antar warga hampir terjadi konflik di tingkat bawah,” tukas Jamri.

Atas dasar tersebut, akhir bulan Oktober lalu, diadakan pertemuan perangkat desa, forkompinca kecamatan, tokoh adat dan masyarakat dengan pihak LSM dan kelompok warga SP1 Landau Kodah yang mengklaim pengelola lahan, mendapat sanksi adat.

“Hari ini merupakan bagian dari proses adat, semoga dengan proses ini tidak ada permasalahan antar warga lagi kedepan,” pinta Jamri.

Proses ritual pembukaan tiang perdamaian ini juga dihadiri Yanto Linus selaku kepala desa dan tokoh adat Desa Landau Kodah, serta aparat keamanan dari Kepolisian Sektor dan TNI Koramil XV Sekadau Hilir, Kodim 1204 SGU. (Arni)

Bagaimana Menurut Anda