Triwulan 3-2021: Kinerja Perbankan Industri Jasa Keuangan Provinsi Lampung Tunjukkan Perkembangan

6

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Memasuki triwulan 4-2021 saat ini, tentunya pencapaian dan perkembangan industri jasa keuangan di Provinsi Lampung pada periode triwulan 3-2021 patut diapresiasi dan menjadi perhatian. Karena di tengah situasi pandemi Covid-19 yang saat ini cenderung melandai, industri jasa keuangan tetap menjaga kinerjanya menjadi lebih baik.

“Kinerja perbankan industri jasa keuangan khususnya di Provinsi Lampung pada triwulan 3-2021 menunjukkan perkembangan yang baik,” kata Bambang Hermanto selaku Kepala OJK Provinsi Lampung, melalui siaran pers, Senin (6/12).

Aset perbankan pada triwulan 3-2021 mengalami pertumbuhan sebesar 7,43% (Rp 7,771 miliar) dari Rp 96.792 Miliar menjadi sebesar Rp 104.563 miliar, jika dibandingkan dengan triwulan 3-2020 (yoy). Hal ini sejalan dengan penyaluran kredit yang tumbuh sebesar 5,28% (Rp 3.751 Miliar) dari sebesar Rp 67.269 miliar menjadi Rp 71.020 miliar (yoy) dan penghimpunan dana pihak ketiga yang tumbuh sebesar 6,31% atau Rp 3.649 miliar (yoy).

“Hal ini tentunya memberikan dampak positif terhadap perekonomian Provinsi Lampung,” ujarnya.

OJK juga terus mencermati pergerakan rasio NPL perbankan yang per posisi September 2021.

Pada triwulan 3 tahun 2021, kualitas kredit perbankan di Provinsi Lampung cukup terkendali di tengah faktor eksternal yang masih belum sepenuhnya membaik, meskipun telah terjadi pertumbuhan ekonomi positif pada 2 triwulan terakhir.

Rasio kredit bermasalah (NPL) masih dibawah threshold 5% dan mulai menunjukkan trend menurun dari periode triwulan sebelumnya, posisi Juni 2021 sebesar 4,98% menjadi sebesar 4,86% (menurun 0,12%).  Hal ini terlihat dari penurunan nominal kredit bermasalah sebesar Rp 37,806 miliar, yaitu dari Rp 3,491 triliun (Juni 2021) menjadi Rp 3,454 triliun posisi September 2021.

Tiga sektor ekonomi penyumbang kredit bermasalah terbesar antara lain sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi sebesar Rp 1,64 triliun atau 47,52% dari total NPL. Pedagang besar dan eceran sebesar Rp 1,18 triliun (34,21%) dan penerima kredit bukan lapangan usaha sebesar Rp 342,89 miliar (9,93%).

Potensi kenaikan NPL ini juga telah diingatkan oleh OJK selaku regulator di sektor jasa keuangan dan telah jauh-jauh hari diantisipasi oleh perbankan dengan menjaga kecukupan pembentukan cadangan kerugian aktiva produktif serta lebih selektif dalam penyaluran kredit dan pelaksanaan restrukturisasi kredit.

Kinerja industri keuangan non bank untuk sektor industri keuangan non bank (IKNB), kinerja perusahaan pembiayaan di triwulan 3-2021 secara year on year dalam melakukan penyaluran pembiayaan terkontraksi sebesar Rp 278 miliar atau 3,52% (yoy) menjadi sebesar Rp7.627 miliar.

Penurunan terbesar terjadi pada industri pengolahan yang turun sebesar Rp 415 miliar (55,73% yoy) diikuti aktivitas transportasi dan pergudangan yang turun sebesar Rp 112 miliar (14,33% yoy).

Penurunan tersebut disebabkan oleh pembatasan mobilitas yang terjadi pada triwulan 3-2021 dan perusahaan pembiayaan lebih selektif dalam penyaluran kredit.

Untuk modal ventura, Aset Perusahaan Modal Ventura (PMV) di Lampung terkontraksi sebesar 8,54% atau sebesar Rp 5,06 miliar. Salah satu penyebab turunnya aset PMV ini akibat terbatasnya sumber pendanaan.

Untuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM), posisi Agustus 2021 total aset LKM meningkat sebesar Rp 2,31 miliar atau 8,34% (yoy). Namun secara ytd menurun sebesar Rp 1,83 miliar atau 5,74% disebabkan adanya penarikan penyertaan modal untuk LKM yang berasal dari PNPM dan kebijakan LKM yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan pinjaman.

Sementara dari sisi DPK, terdapat peningkatan sebesar Rp 2,04 miliar atau 30,14% (yoy), yaitu Rp 6,77 miliar posisi Agustus 2020 menjadi Rp 8,82 miliar pada posisi Agustus 2021.

Sedangkan secara year to date (ytd) juga meningkat sebesar Rp 691 juta, yaitu Rp 8,12 miliar pada Desember 2020 menjadi Rp 8,82 miliar pada Agustus 2021.

Untuk dana pensiun, jumlah aset dana pensiun di Provinsi Lampung meningkat sebesar Rp 10,17 miliar atau 6,67% yoy.

Sejalan dengan peningkatan aset, investasi dana pensiun di Provinsi Lampung juga mengalami peningkatan sebesar Rp 9,80 miliar atau naik 6,57% (yoy).

Peningkatan investasi dana pensiun di Lampung didorong oleh peningkatan kinerja pasar modal maupun pasar uang sebagai salah satu pilihan investasi aset dana pensiun.

Sementara di industri asuransi, data per bulan September 2021, kinerja asuransi baik asuransi jiwa maupun asuransi umum yang berbasis konvensional atau syariah, kecuali asuransi jiwa syariah, menunjukkan peningkatan jika dibandingkan posisi September 2020.

Terdapat kenaikan pada indikator pendapatan premi/kontribusi sebesar 0,66% dan kenaikan pada indikator klaim/manfaat bruto sebesar 0,08%.

Kinerja Industri fintech peer to peer lending dan pasar modal untuk industri layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (fintech peer to peer lending), jumlah pelaku fintech P2P lending menurun jika dibandingkan di awal tahun sebanyak 148 entitas menjadi sebanyak 104 entitas.

Penurunan jumlah entitas disebabkan oleh tidak terpenuhinya persyaratan dan ketentuan, pelanggaran prinsipil dan rekonstruksi persiapan untuk penguatan modal, infrastruktur IT, peningkatan performa credit scoring system serta perbaikan syarat-syarat administratif untuk perizinan.

Selanjutnya, pada sektor pasar modal, nilai transaksi efek di Provinsi Lampung selama tahun 2021 cenderung menurun, namun nilainya lebih baik jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2020.

Peningkatan nilai transaksi efek ini didorong oleh peningkatan jumlah investor dan peningkatan pemahaman masyarakat Lampung melalui kegiatan edukasi yang banyak dilaksanakan baik oleh regulator, industri, akademisi maupun influencer.

Jumlah investor di Provinsi Lampung berdasarkan single investor identification (SID) hingga posisi September 2021 adalah sejumlah 137.063 investor atau bertambah 70.404 investor dibandingkan posisi Desember 2020.

Jumlah investor di Provinsi Lampung sebanyak 2,15% dari investor secara nasional yang mencapai 6.356.442 investor. (Katharina Yanuarti)

Bagaimana Menurut Anda