Songsong General Assembly TPO 2021 di Sumut, Gaet Wisata Domestik dan Bangsa Serumpun

134

SERGAI-SUMUT, BERITAANDA – General Assembly Tourism Promotion Organization Asia Pasific (TPO-AP) resmi ditutup oleh Walikota Oh Keo Don di Paradise Hotel Kota Busan, Jumat (27/9/2019) malam.

Event dua tahunan tersebut telah dihadiri sebanyak 124 city members dari Asia Pasific.

“Indonesia hadir dengan sepuluh kabupaten/kota. Sedangkan Kota Surabaya adalah anggota TPO dan telah menjadi sister city Kota Busan selama 25 tahun,” kata Bupati Sergai Ir H Soekirman yang disampaikan kepada Kadis Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Drs H Akmal, M.Si melalui WhatsApp langsung dari Busan, Ahad (29/9/2019).

Diceritakan Soekirman, dalam event tersebut Walikota Surabaya Tri Risma Harini sangat bersyukur menjadi sister city kota ini, banyak kemajuan yang dicapai.

Selain Risma, turut didaulat Datok M.Burhan selaku Walikota Taiping Malaysia. Beliau mengajak seluruh anggota TPO, untuk membesarkan kue tourism bersama-sama.

Masih dalam momen di Busan, bupati mengisahkan, ketika Rapidin Simbolon bersua dengan Walikota Surabaya, spontan Risma tanya, apa kabar Pak Bupati Samosir?. Apakah Danau Tobanya sudah bersih?. Dengan senyum Rapidin Simbolon menjawab, ya bu, sudah semakin baik.

Pertanyaan penting dan menggelitik, mengingat Sumut telah dinobatkan melalui voting sebagai tuan rumah General Assembly ke-10 tahun 2021 mendatang. Kesempatan ini adalah ajang penting dalam membangun dunia kepariwisataan di Sumatera.

Menjelang penutupan, Gubernur Sumut Edy Ramayadi melalui Ria Telaumbanua selaku Kadis Pariwisata Sumut mengemukakan, bahwa Pemprov Sumut akan bergotong-royong dengan kabupaten/kota untuk mensukseskan TPO dimaksud. Selanjutnya, General secretary Mr.Kim Soo iL menyerahkan bendera TPO kepada Provinsi Sumut untuk dikibarkan dan disukseskan bersama.

Menyongsong General Assembly TPO 2021, Sergai mengandalkan wisata desa dengan menitik beratkan pada wisata pangan atau wisata tani, dan wisata budaya. Jargon pangan, pariwisata, dan budaya (pataya) semua akan jadi modal Sergai menggaet wisata domestik dan bangsa serumpun Malaysia.

Lebih lanjut dijelaskan Soekirman, terdapat 3 negara bagian yang sepakat untuk pertukaran pelancong, yakni Kotabahru Kelantan, Taiping dan Kuala Kangsar Perak. Dalam waktu dekat akan dijajaki agar kedua bangsa serumpun saling jual beli paket wisata yang tersedia.

Bupati mengaku tidak mudah menjadikan suatu desa sebagai obyek wisata. Plenary Session Sergai mengemukakan kekhawatiran atas generasi milenium yang ternyata paling tinggi jumlahnya di sektor pariwisata hingga 70 persen. Sayang dengan teknologi informasi (IT), mereka umumnya kurang sentuhan sosial dan budaya masyarakat.

“Mereka asyik dengan gadget hingga melupakan social behaviour dan interaksi. Jangankan bangun asimilasi atau akulturasi budaya, bangun inter relasi pun hanya pada teman dalam grup virtual saja,” katanya.

Oleh karenanya, hal inilah yang hendak dimanfaatkan dengan menjual paket wisata desa, agar generasi milenium sambil melancong melihat realitas sosial, down to the earth.

Hal senada juga diamini oleh praktisi wisata Nepal yang terkenal dengan ekowisata dan budaya. Mereka menyatakan taraf hubungan generasi milenial dengan gadget telah mengancam pelestarian adat dan budaya. Dengan demikian, apa yang dipaparkan Sergai merupakan upaya restorasi budaya masyarakat melalui pengembangan wisata desa.

“Mudah-mudahan apa yang dihasilkan plenary session dan paralel session dalam TPO Asia Pasific akan mendorong desainer di Sergai lebih bersemangat dalam mengembangkan industri jasa tersebut,” ucapnya penuh harap.

Bupati Soekirman yang hadir didampingi Ketua TP PKK Ny Hj Marliah Soekirman dan Kadis Poraparbud Sudarno bercerita, dengan iringan lagu sendu ‘arirang’ yang dinyanyikan anak pelajar Kota Busan, peserta 9th GA Asia Pasific larut dalam keharuan yang dalam dan semangat persahabatan untuk saling menghidupkan pariwisata dan meraih kemakmuran negara.

Tiada pandang beda bangsa, agama dan politik, arirang yang merupakan lagu sendu mengingatkan masyarakat Korea yang dulu miskin, tertekan korban perang, dan tiada sempat membalas penjajah, kini terbalaskan dengan kerja keras sampai berhasil menjadi negara kaya dan diperhitungkan di dunia.

Apalagi sepakbola Korea Selatan telah menjadi inspirasi kawasan negara Asia sebagai watak bangsa, cerdas, gigih, percaya diri, dan tidak ego, kemampuan individu dan kerjasama, sehingga teamwork yang telah disegani lawan.

Meskipun belum pernah mencapai juara dunia, tetapi sepakbola Korsel sudah diketahui yang terbaik di Asia. Mudah-mudahan dengan semangat teamwork itu pula, jargon TPO bangun kemakmuran bersama dan kemitraan (partnership) dapat segera terwujud. (Dipa)

Bagaimana Menurut Anda