Menjauhkan Sikap Bodoh Amat di Tengah Pandemi Covid-19

492

Oleh: Meli Andini (Mahasiswi UIN Raden Fatah Palembang)

BERITAANDA – Saat ini, Indonesia butuh menjalin komitmen yang baik dengan imbauan yang dibuat pemerintah untuk mengatasi pandemic Covid-19. Karena pandemi ini bukan merupakan tanggung jawab pemerintah saja, melainkan peran rakyat yang seharusnya ikut andil dalam mematuhi imbauan pemerintah.

Ketika pemerintah mengeluarkan imbauan, maka yang bekerja atas itu adalah masyarakat. Tindakan egois dan sikap bodo amat, adalah kunci menyebarnya Covid-19 di Indonesia, Maka dari itu, rakyat harus memilih untuk patuh atau membiarkan pandemi ini merajalela di tanah air dengan memakan banyak korban jiwa, dan memiskinkan tiap kepala keluarga.

Mengapa dengan Covid-19?, seberapa mematikan Covid-19 bagi yang terjangkit?. Dari banyaknya kasus yang kita lihat, maka terlintas didalam pikiran bahwa virus Covid-19 ini sangat berbahaya. Hingga saat ini, virus yang berasal dati Wuhan, China ini, sudah menjadi musuh besar bagi sebagian besar negara di dunia, dengan jumlah pasien positif tertinggi di Amerika, Spanyol, Italia, dan Prancis.

Kasus pertama virus Covid-19 ini pertama kali dilaporkan terdeteksi di Wuhan, China, pada 31 Desember tahun lalu. Bahkan outbreak Covid-19 ini sudah dideklarasikan sebagai kasus darurat bagi kesehatan masyarakat secara global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 30 Januari lalu.

Dikutip dari woldometers.info, sejak 22 Januari lalu hingga saat ini, kasus Covid-19 sudah mencapai 2.182.025 kasus, dengan angka kematian sebanyak 145,513 dan 547,094 orang dinyatakan sembuh. Tentunya, jumlah tersebut bukan merupakan jumlah yang kecil, mengingat ada ratusan ribu pasien ODP yang masih menunggu hasil test swab keluar.

Di Indonesia sendiri, kasus Covid-19 ini sudah mencapai angka 5 ribu lebih kasus, dan dengan tambahan 380 orang pasien positif yang satu diantaranya, merupakan warga wilayah Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Kasus tersebut, merupakan kasus pertama pasien positif Covid-19 di Musi Banyuasin (Muba) yang baru diketahui pada 15 April lalu, setelah korban dinyatakan baru pulang dari Prabumulih untuk melayat, padahal Prabumulih merupakan wilayah yang ditetapkan sebagai zona merah Covid-19.

Bisa dikatakan, kasus pertama positif Covid-19 di Muba adalah kasus kecolongan, karena pada Selasa 17 Maret 2020 lalu, Bupati Muba Dr. Dodi Reza Alex Noerdin sudah mengambil langkah pertama dengan mengeluarkan surat edaran resmi untuk meliburkan peserta didik jenjang SD-SMP sederajat. Kemudian, para kepala sekolah serta dewan guru juga diminta untuk mengimbau orangtua/wali murid agar tidak mengajak anak-anaknya keluar kota, guna menghindari dampak negatif penyebaran virus Covid-19.

Tindakan yang dikatakan cepat dan tanggap, dikeluarkan oleh pemerintah bahkan jauh sebelum kasus pertama positif Covid-19 di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) diumumkan, yakni pada 24 Maret 2020 lalu. Selain itu, pada 1 April 2020, pemkab memperketat pintu masuk dari dan ke Muba, yang dianggap merupakan salah satu solusi untuk mencegah terjadinya penyebaran virus Covid-19 di wilayah Muba.

Bupati Muba juga mengimbau agar seluruh masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, termasuk solat berjamaah di masjid, menjaga kesehatan diri, dengan memperkuat daya tahan tubuh dan rajin mencuci tangan dengan sabun.

Sayangnya, masih ada warga nakal yang melanggar himbauan tersebut. Bahkan imbauan untuk melakukan solat di rumah saja, dianggap tidak baik oleh sebagian jamaah, karena dianggap menduakan Tuhan sebagai sumber ketakutan dunia. Lalu, berdosakah bila meninggal dalam keadaan yang menularkan penyakit?. Semua memang tergantung dari apa yang dijatuhkan Yang Maha Kuasa untuk kita, hidup dan mati, memang tidak ada yang bisa menentukan, termasuk virus Covid-19 ini sekalipun. Namun, menjaga keamanan dan kedamaian bersama bukankah termasuk dari sebagian amal ibadah kita di dunia?.

Ini bukan sepenuhnya membicarakan tentang kasus positif pertama di Muba, termasuk menuliskan stigma buruk terhadap si pengidap Covid-19 ini, namun untuk mengedukasi masyarakat untuk membantu pemerintah mengatasi permasalahan Covid-19. Imbauan dari pemerintah jangan dianggap sekadar imbauan. Beberapa media juga menjadikan kasus yang membuat Italia menjadi salah satu negara yang paling banyak terjangkit Covid-19, yakni tidak mendengarkan imbauan dari pemerintah dan merespon dengan sikap bodo amat, sebagai cerminan dari ketidakpatuhan masyarakat yang berakhir buruk bagi kelangsungan hidup.

Namun, ini juga bukan tentang Italia lagi, melainkan tentang sebagian masyarakat Indonesia yang lambat merespon imbauan pemerintah dengan bijak. Bukan sekali dua kali media televisi memberitakan kalangan muda di Indonesia, yang masih ramai berkumpul di tengah keramaian tanpa menjaga jarak, lalu ada seorang pria yang saat ditegur oleh aparat untuk meninggalkan sebuah warnet, malah adu mulut dan menganggap bahwa imbauan tersebut hanya berlaku untuk anak kecil saja.

Lantas, apakah Virus Covid-19 ini memilih tubuh seseorang sebagai mangsanya?, tentunya tidak. Kasus Covid-19 ini tidak memandang usia, kaya atau miskin, bahkan pejabat atau orang biasa, karena semua bisa terjangkit tanpa terkecuali.

Bisa dibilang, seribu lebih kasus positif Covid-19 di Indonesia masih belum sepenuhnya menyadarkan masyarakat, karena terbukti respon yang didapat hanyalah sikap bodo amat. Padahal Covid-19 yang saat ini dinyatakan sebagai sebuah pandemi, tidak seharusnya direspon dengan sikap bodo amat, mengingat penyebaran virus ini terjadi begitu cepat melalui berbagai cara, dikutip dari laman alodokter, seseorang dapat tertular Covid-19 melalui berbagai cara, yaitu:

  1. Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita Covid-19 batu atau bersin.
  2. Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah menyentuh benda yang terena cipratan ludah penderita Covid-19.
  3. Kontak jarak dekat dengan penderita Covid-19, misalnya bersentuhan atau berjabat tangan.

Untuk kasus di Muba, bisa dijadikan pembelajaran bagi wilayah lainnya yang saat ini dinyatakan negatif Covid-19. Kasus positif pertama Covid-19 di Muba ini menjadi pembelajaran bahwa pentingnya mematuhi imbauan dari pemerintah demi kenyamanan bersama. Menghindari kontak jarak dekat dengan orang lain ditengah pandemi, hingga rajin cuci tangan merupakan metode atau langkah pertama untuk mengurangi dampak penyebaran Covid-19.

Bagaimana Menurut Anda