Di Tengah Pandemi Corona, PLN Indralaya Reaktif Soal Tunggakan Listrik

275
Petugas PLN Indralaya sedang melakukan pemutusan meteran pelanggan dalam Kecamatan Payaraman. (Sumber foto akun FB Memet)

INDRALAYA – OI, BERITAANDA – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia akhir-akhir ini diketahui berimbas signifikan dengan kehidupan masyarakat. Bahkan selain di bidang kesehatan yang terdampak, ekonomi masyarakat juga nyaris lumpuh.

Di tengah hal itulah, tentunya diberbagai aspek juga turut terganggu, termasuk kewajiban masyarakat dalam membayar tagihan listrik PLN, khususnya pelanggan prabayar.

Seperti yang dialami oleh Suardi (65), warga Desa Tebedak II Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir ini. Lantaran tidak dapat membayar tagihan listrik selama dua bulan, dirinya harus menerima konsekuensi diputus aliran listrik (dicabut meteran) yang ada di tempat tinggalnya pada Selasa (30/6/2020) siang.

Namun dengan pemutusan tersebut, menurut Slamet Juwanto (anak dari Suardi), apa yang dilakukan  pihak PLN terkesan berlebihan dan tidak ada toleransi sama sekali, padahal dirinya sudah meminta keringanan agar bisa melunasi 3 hari kedepan.

“Tunggakan orangtua saya itu lebih kurang sebanyak Rp500.000, kami sadar itu kewajiban yang harus dibayar, cuma tahu sendiri pak, ekonomi saat ini lagi lumpuh lantaran dampak corona, kemudian kedua orang tuasaya juga dalam keadaan sakit,” tutur Slamet dengan berkaca air mata.

Sebelum pemutusan itu, lanjutnya, ia juga meminta tolong kepada petugas agar dapat memberikan keringanan hingga tiga hari kedepan untuk melunasinya, mengingat orangtua serta dirinya juga dalam keadaan tidak memegang uang sejumlah itu.

“Namun petugas tidak peduli, kata salah satu dari mereka, dibayar saja sekarang pak untuk menghindari pemutusan. Terpaksa karena tidak bisa menyediakan, akhirnya meteran di rumah orangtua saya dicabut,” imbuhnya.

Di tempat berbeda, Adiwinata yang juga warga setempat turut menyayangkan sikap reaktif pihak PLN. Menurutnya, PLN juga hendaknya melakukan pertimbangan mendalam serta memberikan solusi terbaik dan jalan keluar yang seadil-adilnya.

“Saya sebagai jurnalis sekaligus salah satu pelanggan, menyayangkan sikap reaktif yang dilakukan petugas. Seberapa besar sih kerugian PLN sehingga tidak ada lagi kebijakan yang bisa dilakukan, oke kita akui ini memang salah pelanggan, cuma idealnya pihak PLN juga harus memiliki kepekaan bahwa saat ini masyarakat sedang mengalami kemerosotan ekonomi,” terangnya.

Sambung salah satu jurnalis media ini, pun PLN juga sering mengabaikan keluhan pelanggan yang acap kali menderita akibat seringnya listrik byarpet, termasuk mempertanyakan apakah tidak lebih besar biaya operasional yang dikeluarkan saat eksekusi ke lapangan dibanding biaya tunggakan pelanggan.

“Nah itu, kalau misal lebih besar biaya operasional petugas dibanding tunggakan pelanggan, apalagi faktanya saat ini masyarakat terdampak corona, pihak PLN harusnya lebih bijak, paling tidak beri kelonggaran atau kesempatan lagi sedikit biar bisa membayar,” sambungnya.

Kalau soal seperti ini, menurutnya, PLN terlalu sangat reaktif. Sedangkan soal keluhan pelanggan yang mengalami kerugian akibat seringnya padam listrik, bahkan diketahui berjam-jam cenderung diabaikan.

“Harusnya PLN juga memberikan kompensasi atas seringnya listrik padam, entah faktor disengaja atau tidak, apalagi ketika cuaca hujan atau tebas bayang yang sering dilakukan,” pungkasnya.

Sementara Manajer PLN Wilayah Indralaya, Ronaldo, saat dikonfirmasi via WhatsApp belum memberikan respon. (Adie/tim)

Bagaimana Menurut Anda