BEM UI Juluki Jokowi ‘King Of Lip Service’, Begini Tanggapan Pemuda Muhammadiyah dan IMM Magelang

26

MAGELANG-JATENG, BERITAANDAPemuda dan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Magelang memberikan tanggapan terkait tindakan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mengkritik sekaligus menjuluki Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai The King of Lip Service.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Kabulaten Magelang, Novi Setiaji mengatakan, mengkritik itu sah-sah saja, apalagi sebelumnya Presiden mengatakan dirinya butuh dikritik.

“Mengkritik itu sah sah saja, apalagi sebelumnya Presiden mengatakan dirinya butuh dikritik,” kata Novi pada BERITAANDA, Rabu (30/6).

Novi juga mengatakan masyarakat perlu tahu kronologi yang terjadi yang menyebabkan BEM UI menjuluki Presiden Jokowi sebagai The King of Lips Service alias raja pembual.

“Intinya kalau segala bentuk kritik ke pemerintah, siapapun itu saya pasti dukung asalkan tidak melanggar norma maupun melanggar hukum,” pungkasnya.

Tindakan Rektorat UI yang memanggil pengurus BEM UI untuk meminta keterangan terkait maksud dan tujuan kritik tersebut turut disayangkan oleh Novi Setiaji.

“Saya juga menyayangkan pihak kampus yang melakukan pemanggilan kepada mahasiswanya karena kritik yang disampaikan, karena kampus merupakan wadah untuk mereka bereksplorasi pemikiran- pemikiran, dan juga kritik pada pemerintah,” kata Novi.

Sependapat denga Novi, Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Magelang, Ahmad Fauzi menyatakan dukungannya kepada siapa saja yang menyampaikan kritikannya termasuk BEM UI.

Ketua IMM tersebut memandang kritik yang disampaikan BEM UI merupakan keresahan yang ada terhadap pemerintah.

“Itu sebagai bentuk keresahan dengan apa yang terjadi saat ini, bagi saya tidak ada yang salah dengan pernyataan itu karena tentunya apa yang dilakukan BEM UI adalah bentuk dari kebebasan berpendapat,” kata Fauzi.

“Seharusnya dapat menjadikan bukti bahwa mahasiswa sebagai agent of change adalah oposisi yang sesungguhnya bagi pemerintah tanpa adanya kepentingan politik apapun,” imbuhnya.

Ia menilai tindakan BEM UI tersebut bisa dijadikan cambuk untuk mahasiswa lain dapat berpikir kritis.

“Saya rasa juga yang dilakukan BEM UI bisa dijadikan cambuk untuk mahasiswa-mahasiswa lainnya untuk kembali pada fitrahnya yang mampu berpikir kritis melihat problematika yang ada, dan mampu memberikan pemikiran-pemikirannya untuk masa depan,” ujarnya.

Fauzi juga menanggapi pemanggilan dari pihak kampus terkait kritik yang disampaikan, menurutnya terkesan memberikan tekanan ke mahasiswanya.

“Saya heran, pihak Rektor UI terkesan memberikan tekanan kepada para mahasiswanya untuk tidak bersuara dan tidak masuk ke ranah tersebut,” pungkas Fauzi. [Faisal]

Bagaimana Menurut Anda