Banyak Agen LPG ‘Nakal’ Jual Gas Tanpa Merujuk HET Pemprov Lampung

306

LAMPURA-LAMPUNG, BERITAANDA – Tidak banyak yang mengetahui harga eceran tertinggi (HET) gas LPG senilai Rp18.000.

Dari pantauan di lapangan, sejumlah agen yang ada di Kabupaten Lampung Utara (Lampura) justru menjual gas LPG dengan harga Rp20.000 hingga Rp22.000.

Agen resmi penjual gas LPG, bahkan tidak menerakan HET standar tersebut yang seharusnya menjadi salah satu kewajiban untuk diketahui pengecer atau konsumen. Dengan demikian, harga jual gas LPG menjadi tidak stabil, bahkan memberatkan warga yang saat ini menjadikan gas sebagai salah satu kebutuhan sekunder rumah tangga.

Seperti yang ditemukan awak media ini di lapangan, yaitu di warung – warung penjualan gas LPG di Kecamatan Abung Barat dan di sekitarnya di Lampung Utara.

Menurut keterangan Melda, salah satu pemilik warung sebako sekaligus penjual gas LPG. Dirinya menjual gas kepada warga sebesar Rp25.000 pertabung dikarenakan dirinya mengambil ke agen sebesar Rp20.000.

“Saya jual Rp25.000 mas, soalnya saya ngambil ke agennya Rp20.000,” ujarnya.

Menurut dia, dirinya tak tau kalau harga HET-nya seperti itu. Sebab, di agennya tidak ada sejenis banner yang menunjukan harga HET-nya.

“Ya, kami lihat di agennya tidak ada banner ataupun pemberitahuan soal harga HET LPG. Ya terpaksa kami sebagai warung menjual harga segitu,” tuturnya.

Di tempat terpisah, media ini telah menemukan warung yang sama menjual gas LPG 3 Kg. Dan mirisnya, harganya pun berbeda dengan warung sebelumnya, mencapai Rp28.000. Sehingga masyarakat mengeluh dengan harga LPG yang bervariasi ini.

“Saya jual Rp28.000 pak pertabungnya. Sebab saya ngambil ke agennya Rp22.000,” ujar Adin.

Menurut keterangan Adin, dirinya tak tahu harga HET sebenarnya. “Saya juga kaget pak, kok mahal bener, sehingga warga pun pernah marah-marah ke saya, karena harganya mahal,” katanya pada saat dikonfirmasi media ini, Sabtu (25/1/2020).

Dengan harga gas LPG ukuran 3 Kg atau yang sering disebut gas melon di Lampung Utara, belum sesuai dengan ketentuan. Sebab dari pantauan di lapangan, banyak warung yang menjual LPG jauh dari harga HET-nya. Artinya, pangkalan diduga ‘nakal’ yang menjual gas melon di atas harga eceran tertinggi (HET). Sementara, harga normal gas LPG tabung 3 Kg ini hanya Rp18.000. Namun, harga jual di warung bisa mencapai paling Rp25.000 hingga Rp28.000.

“Sering kali masyarakat menjerit karena harga gas yang disubsidi oleh negara, tiap tabungnya melebihi harga HET,” ujar Rohayati, warga Lepang kepada media ini, Sabtu (25/1/2020).

Dia menambahkan, pihak pemerintah daerah (pemda) harus melakukan penertiban terhadap pangkalan-pangkalan gas yang nakal. Sehingga, masyarakat tidak menjadi resah saat membeli gas 3 Kg ini.

“Kami sendiri yang mengalami sendiri, dan membeli tabung 3 Kg harganya melebihi HET, Rp25.000 sampai Rp28.000,” sambungnya.

Selain itu dirinya berharap kepada pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan terhadap pendistribusian akhir tabung elpiji 3 kilogram tersebut berada di pangkalan. Sehingga, yang perlu  diawasi adalah pendistribusiannya, mulai dari agen hingga masuk ke pangkalaan.

“Kami berharap pemda dapat segera melakukan pengawasan dan penerbitan terkait harga LPG yang sudah melampaui harga HET-nya,” harap warga.

Informasi terhimpun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menggelar rapat bersama PT. Pertamina dan Hiswana Migas di ruang rapat Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah, Selasa (3/12/2019) sialm. Hasil rapat tersebut disepakati, Harga Eceran Tertinggi (HET) gas LPG ukuran 3 Kg di Lampung sebesar Rp18.000.

Dalam rapat itu, Pemprov Lampung juga sepakat membentuk tim terpadu bersama PT. Pertamina dan Hiswana Migas untuk memantau harga gas LPG 3 Kg. (Katrine)

Bagaimana Menurut Anda