TBBR Sekadau Buka Keramat ‘Pulo Kabayan’ Mondi

53

SEKADAU-KALBAR, BERITAANDA – Satu lagi warisan adat budaya masyarakat Dayak di Kabupaten Sekadau dibuka.

Kamis (29/10/2020) pagi, Ormas Tariu Borneo Bangkule Rajank Kabupaten Sekadau bersama Pemerintah Desa Mondi Kecamatan Sekadau Hulu mengadakan ritual pembukaan keramat pulo kabayan dan penanaman pantak di desa setempat.

Ritual pembukaan tempat keramat bagi warga Sub Suku Dayak Jawan ini dipimpin Panglima Jilah, Agustinus, yang juga Ketua Ormas Tariu Borneo Bangkule Rajank se-Tanah Kalimantan. Turut serta dalam acara itu perangkat desa dan ormas TBBR Kabupaten Sekadau, serta pihak perusahaan perkebunan sawit PT. Agro Andalan (AAN).

Kepala Desa Mondi, Lukas Ito, menjelaskan bahwa pulo kabayan secara historis dari cerita para orangtua bahwa, di tempat ini pada zaman dahulu adalah perkampungan yang hilang dikarenakan adanya abu gelap.

“Tempat ini sekarang menjadi tanah keramat dan tidak disentuh masyarakat, sekarang kita buka,” kata Lukas.

Dikatakan kades, polu kabayan akan tetap dilestarikan untuk mayarakat. Lukas menegaskan bahwa kegiatan itu tidak bertujuan lain dan murni kegiatan adat budaya, tanpa maksud tujuan lain.

“Semoga kedepan akan didukung untuk dijadikan aset wisata di Desa Mondi. Juga semoga ada dukungan pihak perusahaan dalam pengembangan wisata polu kabayan,” tukas dia.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Budaya Kabupaten Sekadau, Gunawan menyatakan, kebudayaan tidak lepas dari masyarakat Dayak yang lahir dan hidup di tanah Kalimantan.

“Melestarikan budaya dan tradisi merupakan tanggung jawab kita. Pemerintah sudah mengeluarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2011 tentang cagar budaya dan UU No. 5 Tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan, dengan tujuan pelestarian budaya,” papar Gunawan.

Dijelaskan Gunawan, kami sudah berusaha mendata aset cagar budaya di Kabupaten Sekadau. Sampai saat ini terdata 13 cagar budaya yang telah didata serta mendapatkan legalitas. Dipaparkan dia lagi, syarat benda cagar budaya adalah, benda dengan usia minimal 50 tahun lalu dan masih dirawat oleh masyarakat.

“Terkait pulo kebayan harus ada catatan sejarah, atau makalah oleh masyarakat, mahasiswa atau peneliti yang melestarikan. Dalam proses legalitas ada format yang harus diisi,” pesan Gunwan.

Kegiatan ini di akhiri dengan silaturahmi antar pihak pemerintah daerah, ormas TBBR dan perushaan di lokasi kegiatan serta makan siang bersama. (Arni)

Bagaimana Menurut Anda