PHC Buktikan Hasil, Saatnya Petani Lampung Beralih ke Pupuk Hayati Cair

5

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Langkah Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melalui program Desaku Maju patut mendapat perhatian serius, khususnya dari kalangan petani. Program ini bukan sekadar wacana, tetapi telah menunjukkan hasil nyata di lapangan, terutama melalui inovasi Pupuk Hayati Cair (PHC).

PHC hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar. Berbahan dasar limbah rumah tangga seperti air cucian beras dan air kelapa, pupuk ini diolah menjadi nutrisi tanaman yang terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus hasil panen.

Di tengah ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan kerap langka, PHC menjadi alternatif yang murah, mudah diterapkan, serta berkelanjutan.

Sejak diluncurkan pada 2025, program PHC telah menjangkau 500 titik di 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung.

Hingga April 2026, sebanyak 31.327 petani telah mengaplikasikan PHC di lahan seluas 25.697 hektare, terutama untuk komoditas padi.

Hasilnya pun tidak bisa dianggap remeh. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, penggunaan PHC mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 24,95 persen dan jagung sebesar 21,72 persen. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan cerminan perubahan nyata di lapangan.

Testimoni para petani semakin memperkuat data tersebut. Gapoktan Barokah di Desa Bumiwijaya, Lampung Utara misalnya, mengaku hasil panen padi meningkat dari 6 ton menjadi 7,5 ton setelah menggunakan PHC.

Sementara itu, petani melon di Tanggamus menyebut kualitas buah menjadi lebih baik dan hasil panen meningkat signifikan dibandingkan saat masih menggunakan pupuk konvensional.

Tak hanya meningkatkan produktivitas, PHC juga berdampak pada kesehatan tanaman. Daun menjadi lebih hijau, batang lebih kuat, serta serangan hama cenderung menurun.

Hal ini membuktikan bahwa pendekatan organik bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan jangka panjang untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan.

Lebih jauh, PHC menjadi bagian dari strategi besar membangun kemandirian desa. Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pada 2027 seluruh 2.651 desa mampu memproduksi dan menggunakan pupuk organik cair secara mandiri.

Target tersebut disusun secara bertahap, mulai dari 500 desa pada 2025, meningkat menjadi 1.500 desa pada 2026, hingga menjangkau seluruh desa pada 2027.

Jika target ini tercapai, dampaknya tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga efisiensi biaya dan stabilitas harga.

Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan pupuk dari luar. Desa memiliki cadangan sendiri, sebuah langkah strategis yang selama ini jarang disentuh kebijakan daerah.

Dalam konteks ekonomi, PHC juga membuka ruang baru. Petani tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen input pertanian. Perputaran ekonomi pun terjadi di desa, memperkuat daya tahan ekonomi lokal.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Pendampingan teknis, konsistensi penggunaan, serta perubahan pola pikir petani menjadi kunci keberhasilan program ini.

Peralihan dari pupuk kimia ke pupuk organik tidak bisa terjadi secara instan. Dibutuhkan edukasi berkelanjutan dan bukti nyata, yang kini mulai terlihat.

Penghargaan KWP Award 2026 yang diraih Gubernur Lampung sebagai penggerak ekonomi agrikultur dan ketahanan pangan menjadi legitimasi atas arah kebijakan tersebut. Namun lebih dari itu, keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana PHC mampu bertahan dan berkembang di tingkat petani.

Pada akhirnya, Desaku Maju bukan sekadar program pemerintah. Ini adalah taruhan besar bagi masa depan pertanian Lampung.

PHC telah membuktikan potensinya, tinggal bagaimana petani memanfaatkannya secara maksimal. Saatnya beralih. Dari ketergantungan menuju kemandirian. Dari biaya tinggi menuju efisiensi. Dari keraguan menuju pembuktian. PHC bukan sekadar pupuk, melainkan jalan baru bagi petani Lampung untuk maju. (*)

Bagaimana Menurut Anda