TNWK Adalah Kita: Paradigma Baru Jaga Way Kambas untuk Masa Depan Gajah Sumatra

8

LAMPUNG TIMUR, BERITAANDA – Pemerintah mulai menerapkan paradigma baru dalam pengelolaan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung. Jika sebelumnya pengelolaan lebih berfokus pada perlindungan kawasan, kini pendekatan tersebut diperluas menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, akademisi, hingga berbagai pemangku kepentingan.

Semangat kolaborasi itu dirangkum dalam slogan ‘TNWK Adalah Kita’, yang menegaskan bahwa pelestarian kawasan konservasi merupakan tanggung jawab bersama.

Paradigma tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja Deputi Bidang Dukungan Program Strategis Presiden Sekretariat Presiden Kementerian Sekretariat Negara RI, Marsekal Muda TNI Dedi Saprudin Samsudin, ke Taman Nasional Way Kambas. Dalam kunjungan itu, ia didampingi Ketua Tim Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra, Brigadir Jenderal TNI Sriyanto, serta Kepala Balai TNWK MHD Zaidi.

Kegiatan diawali dengan diskusi strategis di Aula Balai TNWK yang membahas penguatan mitigasi interaksi negatif antara Gajah Sumatra dan masyarakat, yang hingga kini masih menjadi tantangan di wilayah sekitar kawasan konservasi.

Menurut Dedi, slogan TNWK Adalah Kita bukan sekadar jargon, melainkan mencerminkan perubahan cara pandang dalam mengelola kawasan konservasi. Masyarakat yang tinggal di sekitar Way Kambas tidak lagi diposisikan sebagai pihak di luar kawasan, tetapi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ekosistem yang harus dijaga bersama.

Ia menegaskan, keberhasilan konservasi tidak mungkin hanya mengandalkan Balai TNWK. Diperlukan sinergi lintas sektor yang melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, hingga komunitas lokal.

Pendekatan kolaboratif tersebut juga diarahkan untuk membangun koeksistensi yang harmonis antara manusia dan Gajah Sumatra. Berbagai langkah mitigasi konflik satwa liar akan terus diperkuat agar aktivitas masyarakat tetap berjalan tanpa mengancam kelestarian habitat gajah.

Dedi menilai menjaga Way Kambas merupakan komitmen lintas generasi. Karena itu, seluruh pihak memiliki tanggung jawab memastikan kawasan konservasi tetap lestari, sehingga generasi mendatang masih dapat menyaksikan Gajah Sumatra hidup di habitat alaminya, bukan hanya melalui buku atau dokumentasi.

Selain membahas upaya konservasi, Dedi juga menyoroti pentingnya tata kelola pembangunan di kawasan TNWK. Ia meminta setiap pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan agar menghasilkan keluaran sesuai dengan perencanaan.

“Komitmen harus menjaga kualitas pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang sudah disampaikan sehingga menghasilkan output yang memang sesuai dengan yang direncanakan,” ujar Dedi, Jumat (24/7/2026).

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan yang melibatkan pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan, serta seluruh pemangku kepentingan agar setiap program berjalan sesuai target.

Menurutnya, besarnya anggaran yang dikelola harus diimbangi dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel. Proses pengadaan barang dan jasa juga harus memiliki landasan hukum yang kuat agar seluruh pihak dapat bekerja dengan kepastian hukum dan terhindar dari persoalan administratif.

Melalui semangat TNWK Adalah Kita, pemerintah berharap Taman Nasional Way Kambas tidak hanya menjadi benteng terakhir pelestarian Gajah Sumatra, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam menjaga warisan alam Indonesia bagi generasi mendatang. (*)

Bagaimana Menurut Anda