Dinkes OKI Himbau Pedagang Tidak Jual Makanan Mengandung BTP B2

240

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengingatkan kepada para pedagang di wilayah Bumi Bende Seguguk, agar tidak membeli lagi ke agen yang menjual bahan makanan mengandung bahan tambahan pangan berbahaya (BTP B2).

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OKI HM. Lubis, S.KM, M.Kes melalui Kasi Kesehatan Lingkungan Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan Kabupaten OKI, Uli Arta, Kamis (23/5/2019) di Kayuagung.

Katanya, Pemkab OKI terus melakukan pemantauan dengan mendatangi pasar-pasar besar hingga pasar kalangan yang ada di desa, untuk memberikan penjelaskan kepada para pedagang tentang bahayanya formalin, borak dan pewarna makanan.

“Terus dan terus diingatkan tentang bahan tambahan pangan berbahaya (BTP B2) yang selalu ditemukan. Tentunya, bahan kimia tersebut bisa memberikan efek yang buruk pada kondisi kesehatan seseorang, terlebih jika dikonsumsi dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Masih katanya, ketika sedang melakukan pemeriksaan, tindakan yang kita lakukan pada saat ditemukan bahan berbahaya di dalam makan tersebut, kami menegaskan kepada pedagang agar tidak lagi mengambil bahan makan tersebut di agennya, dan menegur pedagang yang bersangkutan agar bahan makanan tersebut tidak lagi dijual. Jika masih, maka pihak kepolisian akan melakukan penyitaan kepada dagangan mereka.

Uli juga menjelaskan, berikut ini adalah risiko yang mungkin saja terjadi karena disebabkan oleh bahan makan berbahaya tersebut.

Seperti formalin, dikenal dengan nama lain air super, merupakan zat yang biasa digunakan untuk mengawetkan mayat, pembunuh kuman, perekat kayu lapis, serta disinfektan kandang hewan.

“Bentuknya adalah larutan jernih berbau menyengat. Jika anda mengkonsumsinya dalam jangka panjang, maka ancaman kesehatan seperti kanker, kerusakan otak, hati, dan paru-paru bisa saja menghantui,” ujarnya.

Sedangkan boraks, lanjutnya, serbuk kristal berwarna putih atau padatan berwarna kuning ini biasa digunakan untuk mengawetkan kayu. Selain itu, boraks biasa dicampurkan dalam pembuatan kaca/gelas serta produksi pupuk.

“Pedagang jahil sering memasukkannya dalam ramuan makanan seperti baso atau mie, agar bertekstur kenyal. Padahal, efek jangka panjang dari boraks sebagai bahan pangan dapat membahayakan fungsi saraf, ginjal, dan juga hati,” tandasnya.

Lalu kemudian, tambahnya, pewarna berbahaya rhodamin B dan methanil yellow adalah pewarna yang sering disalahgunakan untuk memberikan warna pada makanan. Meskipun terbukti tidak aman, nyatanya masih banyak makanan khususnya kerupuk atau minuman es.

“Pewarna berbahaya ini jika dicampurkan dalam makanan dalam memberikan kerusakan pada hati dan ginjal seseorang. Bukan tidak mungkin, kanker kandung kemih juga bisa muncul akibat penggunaan jangka panjang bahan kimia tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Camat SP Padang Herliansyah Hilaluddin, S.STP, M.Si melalui Kasih Trantif Kecamatan SP Padang, Iwan, menghimbau kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dan teliti dalam berbelanja, karena dampaknya dapat membahayakan keluarga.

“Kemarin ketika kita bersama tim dari Dinas Kesehatan, Polsek SP Padang dan lainnya melakukan pemeriksaan terhadap bahan makanan di salah satu pasar kalangan, menemukan bahan makanan yang mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks dan pewarna makanan,” katanya sembari menjelaskan, bahwa pihak Kecamatan SP Padang bersama Puskesmas dan Polsek SP Padang akan terus melakukan pemantauan. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda