Batang Toru Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekadar Wacana

2

TAPANULI SELATAN, BERITAANDA – Bentang Alam Batang Toru tidak lagi cukup dibahas melalui riset dan forum akademik. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) mendorong hasil kajian ilmiah segera diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi nyata untuk memulihkan kawasan pascabencana, menjaga ekosistem, sekaligus memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Pesan itu disampaikan Bupati Tapsel H. Gus Irawan Pasaribu saat menghadiri Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pascabanjir Besar 2025 di Hotel Santika Dyandra Premiere Medan, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan yang digelar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara bersama Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia (UI) tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, NGO, pemerhati lingkungan, dan pegiat konservasi.

Gus Irawan mengatakan bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025 menjadi pukulan besar bagi Tapsel. Kawasan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, Sungai Garoga, dan sejumlah sungai lainnya menjadi wilayah yang terdampak parah.

Banjir bandang dan longsor dalam bencana tersebut menyebabkan 95 orang meninggal dunia serta merusak lebih dari 3.000 hektare lahan persawahan. Perkebunan dan permukiman warga juga ikut terdampak.

Yang lebih serius, bencana tersebut mengubah aliran Sungai Batang Toru dan Garoga di sejumlah lokasi.

“Bencana ini membuat sungai-sungai Batang Toru dan Garoga membentuk aliran baru yang di beberapa wilayah melintasi desa maupun perkebunan masyarakat,” ujar Gus Irawan.

Perubahan aliran sungai membuat sejumlah lahan pertanian dan perkebunan terendam cukup lama. Kerusakan lingkungan pun langsung berimbas terhadap perekonomian masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi Tapsel yang sebelumnya berada di atas 5 persen terkoreksi menjadi sekitar 2,49 persen pada triwulan terakhir 2025. Padahal, sekitar 44 persen struktur ekonomi daerah ditopang sektor pertanian yang menjadi salah satu sektor paling terdampak bencana.

Pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi kembali naik menjadi 3,49 persen. Namun, angka tersebut masih belum mampu menyamai kondisi sebelum bencana.

Karena itu, Gus Irawan menilai penelitian multidisiplin tentang Batang Toru memiliki arti penting. Kajian tersebut melibatkan akademisi dari UI, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sumatera Utara (USU), dan Universitas Nasional (UNAS).

Menurutnya, hasil penelitian harus menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah pemulihan dan pembangunan.

“Kami berharap dari riset dan diskusi ini ada rekomendasi kepada kami di Tapanuli Selatan, bagaimana menjaga alam dan ekosistem Batang Toru. Kami tidak akan mampu melakukannya sendiri, apalagi kewenangannya tidak seluruhnya berada di pemerintah kabupaten,” tegasnya.

Gus Irawan juga menyoroti perhatian besar dari tingkat nasional hingga internasional terhadap Bentang Alam Batang Toru. Namun, menurutnya, perhatian tersebut jangan berhenti pada diskusi dan kajian.

Ia mendorong adanya dukungan nyata, termasuk pengembangan carbon credit dan skema ekonomi berbasis lingkungan yang mampu mempertemukan kepentingan konservasi dengan kesejahteraan masyarakat.

“Apapun yang kita lakukan, pertanyaan mendasarnya adalah manfaat apa yang bisa dirasakan masyarakat. Partisipasi masyarakat itu mutlak. Kalau masyarakat tidak merasakan manfaatnya, kita akan berhadapan dengan masyarakat,” katanya.

Kepala BBKSDA Sumatera Utara Novita Kusumawardani mengatakan Bentang Alam Batang Toru memiliki posisi strategis bagi Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah.

Kawasan itu merupakan habitat penting orangutan Tapanuli, salah satu spesies dengan nilai konservasi sangat tinggi dan wilayah persebaran yang terbatas.

Menurut Novita, survei BBKSDA bersama mitra menunjukkan populasi orangutan Tapanuli mengalami penurunan. Meski tingkat penurunannya relatif lebih kecil dibandingkan orangutan Sumatera dan Kalimantan, kondisi tersebut tetap menjadi alarm bagi keberlangsungan spesies.

“Karena orangutan Tapanuli hanya ada di Batang Toru, penurunan sekecil apa pun dampaknya akan sangat luar biasa bagi kelangsungan spesies tersebut,” jelas Novita.

Ia menegaskan konservasi tidak boleh hanya berorientasi pada perlindungan keanekaragaman hayati. Masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan harus menjadi bagian utama dari strategi tersebut.

“Tidak mungkin kita bicara konservasi hanya soal keanekaragaman hayati. Kalau masyarakat lapar, akan muncul gangguan lagi. Masyarakat harus menjadi aktor utama, bukan hanya objek,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Jatna Supriatna dari I-SER FMIPA UI menilai persoalan Batang Toru harus ditangani melalui pendekatan multidisiplin.

Kondisi geografis yang terjal, karakteristik geologi, material vulkanik, serta curah hujan ekstrem menjadi faktor yang dapat memperbesar risiko erosi dan longsor.

Pada saat yang sama, tekanan terhadap habitat orangutan Tapanuli akibat konversi kawasan, pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan, longsor, hingga potensi kebakaran juga harus ditekan.

Jatna menilai konservasi dan ekonomi masyarakat tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan melalui pengembangan ekonomi hijau.

Hasil hutan bukan kayu seperti kopi, kakao, dan madu, misalnya, dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi tanpa menghilangkan fungsi ekologis kawasan.

Peluang lain juga terbuka melalui carbon credit, payment for ecosystem services, ekowisata berbasis satwa liar, hingga trust fund untuk mendukung pembiayaan konservasi jangka panjang.

“Solusinya harus multidisiplin dan interdisiplin. Kita harus mencari bagaimana orangutan dan Bentang Alam Batang Toru bisa tetap lestari, tetapi pada saat yang sama masyarakat memperoleh manfaat ekonomi,” ujarnya.

Diseminasi hasil studi tersebut diharapkan menjadi pijakan bersama untuk memperkuat pemulihan pascabencana, penataan ruang, perlindungan DAS, konservasi keanekaragaman hayati, dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Bagi Pemkab Tapsel, Gus Irawan menegaskan, hasil kajian harus menjadi titik awal untuk bergerak, bukan akhir dari sebuah diskusi.

“Acara ini jangan berhenti di sini. Ini justru menjadi pemicu untuk kelanjutannya. Apa yang bisa kita lakukan sekarang, kita lakukan. Kami sangat terbantu dengan kajian-kajian ini dan berharap terus diberikan rekomendasi serta dukungan untuk menjaga ekosistem Batang Toru,” pungkasnya. [Anwar]

Bagaimana Menurut Anda