Aktivitas Anak Krakatau Meningkat, Warga Lampung Selatan Diminta Waspada dan Pakai Masker

12

LAMPUNG SELATAN, BERITAANDA – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali meningkat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan meminta masyarakat tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker serta pelindung mata saat beraktivitas di luar ruangan, terutama jika terjadi hujan abu vulkanik.

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III (Siaga). Sejak Jumat (4/9/2026), gunung api tersebut tercatat mengalami erupsi berulang yang disertai semburan lava pijar atau lava fountain dengan ketinggian diperkirakan mencapai 100 hingga 400 meter dari puncak kawah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, khususnya potensi dampaknya terhadap masyarakat di wilayah pesisir.

Berdasarkan informasi yang diterima BPBD Lampung Selatan pada Sabtu (5/9/2026), aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.

Data Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin mencatat kolom abu vulkanik mencapai sekitar Flight Level (FL) 480, atau setara kurang lebih 14,6 kilometer di atas permukaan laut. Abu vulkanik dilaporkan bergerak ke arah barat mengikuti pola angin di lapisan atmosfer atas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Maturidi mengatakan, hingga saat ini aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau belum berdampak terhadap aktivitas masyarakat di wilayah Lampung Selatan.

“Dapat kami laporkan bahwa kondisi saat ini Gunung Anak Krakatau aman. Walaupun terkadang masih melakukan erupsi, akan tetapi tidak memengaruhi warga masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah,” kata Maturidi dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Meski kondisi masyarakat masih berjalan normal, Maturidi menegaskan kewaspadaan tetap menjadi prioritas. Pemkab Lampung Selatan melalui BPBD bersama perangkat daerah terkait terus memperkuat pemantauan dan kesiapsiagaan.

Pemantauan dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta petugas vulkanologi di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran.

Selain itu, Desa Tangguh Bencana di Desa Rajabasa dan Pulau Sebesi terus diaktifkan sebagai bagian dari langkah mitigasi untuk menghadapi kemungkinan dampak aktivitas vulkanik.

“Selalu berkoordinasi dengan camat, kepala desa, dan petugas badan vulkanologi yang berada di Hargo Pancuran untuk mengamati situasi dan kondisi Gunung Anak Krakatau,” ujarnya.

BPBD Lampung Selatan juga mengingatkan masyarakat, khususnya nelayan dan wisatawan, untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif sesuai rekomendasi otoritas vulkanologi.

“Diimbau kepada seluruh warga masyarakat, nelayan, wisatawan untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau radius tiga kilometer, serta untuk selalu tenang dan waspada, serta tidak terpancing oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Maturidi.

Masyarakat yang berada di sekitar wilayah Selat Sunda juga diminta mengantisipasi kemungkinan hujan abu vulkanik. Jika terjadi hujan abu, warga dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut serta pelindung mata ketika berada di luar ruangan.

Warga juga disarankan menutup sumur dan sumber air terbuka untuk mencegah masuknya debu vulkanik yang dapat mencemari air.

BPBD Lampung Selatan mengimbau masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau hanya dari sumber resmi, diantaranya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, Syahbandar, dan BPBD setempat.

Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Dalam kondisi darurat atau jika membutuhkan penanganan kebencanaan, masyarakat dapat menghubungi Call Center BPBD Lampung Selatan di 0823-5892-4600.

Pemkab Lampung Selatan mengajak masyarakat tetap menjalankan aktivitas secara normal dengan tetap mengedepankan kewaspadaan, disiplin menerapkan langkah mitigasi, serta mengikuti setiap arahan dari instansi berwenang.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau sekaligus menjaga keselamatan masyarakat di wilayah pesisir Lampung Selatan. (Kmf)

Bagaimana Menurut Anda