Air Selutut Orang Dewasa di Dalam Rumah, Pasutri Tua Mengungsi ke Pondok Sementara

33

SEKADAU-KALBAR, BERITAANDA – Belum merapat ke tepi, speedboat yang kami tumpangi, beberapa anak-anak berteriak riang dari kejauhan.

“Ada orang datang bawa barang di speedboat,” ucap salah seorang dari mereka ketika angkutan sungai yang kami tumpangi merapat ke bibir pantai, Sabtu (20/11) siang.

Dari atas speedboat, terlihat jelas pemandangan deretan tenda – tenda berbahan tarpal. Warnanya pun tak seragam, dominan hijau dan beberapa lainnya pink. Itu adalah pemandangan dari atap gubuk yang dibangun warga Dusun Teribang Desa Seberang Kapuas Kecamatan Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau Provinsi Kalbar.

Mereka (warga) adalah bagian dari ribuan masyarakat yang harus meninggalkan rumahnya yang masih digenangi banjir.

Setalah speedboat yang kami naiki merapat ke bibir pantai sungai, salah seorang teman turun untuk mengangkat tali speedboat ke sebatang kayu yang tertancap. Hal itu untuk mencegah speedboat hanyut terbawa arus Sungai Kapuas.

Beberapa orang dewasa diantara mereka (masyarakat) menyambut di tepi. Setelah semua kru speedboat turun ke bibir pantai sungai, perbincangan dengan warga yang mengungsi dilakukan dengan hangat.

Beberapa warga, termasuk pengurus Rukun Tetangga (RT) mengeluarkan data. Terlihat puluhan nama warga terdata sebagai korban banjir sejak tiga pekan terkahir di Dusun (Teribang) yang berseberangan dengan Pasar Sekadau.

Puluhan paket sembako yang terbungkus dalam kantong kresek merah, satu persatu mulai diturunkan dari speedboat ke tempat yang tidak tergenang air. Bersamaan dengan itu, beberapa karung berisi pakaian layak pakai dan kardus berisi obat-obatan juga dipindahkan.

Tak beberapa lama, giliran bantal dan guling serta sebuah kasur biru juga disertakan. Beberapa warga lantas berdiskusi mengenai bantuan yang disalurkan, terutama mengenai kasur dan bantal yang hanya berjumlah satu set.

Beberapa pengungsi menyebut nama Salmah. Ia adalah perempuan paruh tua yang diusulkan menerima bantuan bantal dan tilam itu, selain sembako dan lainnya.

“Sebentar saya panggil Ibu Salmah,” kata seorang pemuda kepada tim relawan yang mengantarkan beberapa jenis donasi dari para donatur.

Tak berapa lama, dengan perlahan pemuda yang menjemput, berjalan seorang perempuan. Dengan pakaian khas seorang ibu dibaluti kerudung coklat, ibu itu tampak terdiam setelah menemui beberapa rekan yang tergabung dalam tim distribusi donasi sembako dan kebutuhan lainnya.

“Ibu, kami ada sedikit bantuan, tapi untuk ibu, kami juga berika tilam dan bantal untuk tidur,” kata Aliong, salah satu koordinator tim distribusi kepada Ibu Salimah [56].

Sembari mengangguk, Salmah dan Aliong berjalan menuju pondok tempatnya mengungsi.

Setelah di depan pondok Salmah, kami disambut seorang pria. Ia berjalan dengan sebatang kayu kecil yang dijadikan tongkat.

Ia adalah Hamdi, pria berusia 61 tahun, suami dari Salimah. Hamdi kemudian masuk ke dalam pondok sambil tertatih. Ternyata ia masih dalam kondisi sakit pasca mengalami struk.

“Bapak kena struk, sekarang masih belum sembuh benar,” kata Salimah menceritakan kondisi suaminya.

Pasangan suami istri tua ini merupakan bagian dari puluhan warga RT 01 Dusun Teribang yang mengungsi dari genangan banjir.

Bersama mereka, warga lainnya juga mendirikan pondok – pondok untuk menjauh dari banjir yang menggenangi rumah – rumah mereka lebih dari tiga pekan terakhir.

“Disini sudah tiga pekan, didalam rumah kami air selutut,” sambung Salmah.

Dengan adanya bantuan dari donatur ini, Salmah merasa senang. Meski harus berdiam sementara di pondok, ia mensyukuri bantuan demi bantuan yang salurkan para donatur.

“Alhamdulilah ada bantuan, ndak mikir untuk makan dan tidur disini,” sambung Salmah.

Salmah

Di RT 01 Teribang, lebih dari lima pondok dibangun masyarakat yang mengungsi. Selain pondok, sebuah tenda juga didirikan seadanya untuk dapur umum.

Masih di sekitaran pondok, sebuah tong air berlogokan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berada tak jauh dari pondok pengungsi. Namun saat diguncang dengan tangan, tong berbahan fiber itu dalam keadaan kosong.

Beberapa warga juga terlihat berada di dalam pondok bersama anak – anak. Sejumlah barang elektronik, pakain bergeletakan di dalam pondok.

“beginilah kondisi kami, sudah belasan hari kami disini, harus mengungsi karena banjir,” timpal salah seorang warga saat kami memasuki pondok mereka.

Warga di RT 01 Teribang ini, membangun pondok di dataran yang cukup tinggi. Dengan demikian, genangan bajir dapat mereka hindari. Namun demikian, tak seberapa jauh dari rumah-rumah mereka.

Saat ini, kondisi Sungai Kapuas mengalami penurunan debet air. Di sejumlah titik, banjir mulai surut. Namun, dikarenakan umumnya perkampungan masyarakat berada di bibir pantai sungai, rumah – rumah warga masih digenangi air dengan ketinggian yang bervariasi.

Setelah semua bantuan donasi dari para donatur diserahkan kepada pengurus RT, tim penyaluran beranjak menuju speedboat untuk menuju perkampungan berikutnya, guna menyalurkan bantuan dari para donatur.

Tak lupa, tim berpamitan kepada pengurus RT dan masyarakat setempat. Setelah mesin dinyalakan, perlahan speedboat yang digunakan sebagai transportasi distribusi perlahan tapi pasti meninggalkan Dusun Teribang menyusuri pinggiran Sungai Kapuas.

Dari dalam speedboat, terlihat puluhan rumah warga Teribang masih digenangi bajir. Bahkan beberapa jamban (fasilitas MCK) warga dijadikan lahan parkir sepeda motor atau barang – barang untuk menghindari luapan Sungai Kapuas.

Pemandangan seperti ini hampir terlihat selama tim distribusi ini mengantarkan donasi ke beberapa dusun, RT di Desa Seberang Kapuas.

Donasi yang disalurkan ini merupakan penyaluran tahap ketiga oleh pengelola Vinca Borneo Hotel Sekadau yang dipercaya donatur – donatur dari Pontianak dan Sekadau, sebagai salah satu penyalur bantuan kepada korban banjir Sekadau.

Hingga saat ini, banjir di Kabupaten Sekadau menyebabkan 3.048 jiwa mengungsi atau 858 kepala keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, tercatat 19.601 jiwa terdampak atau  5.518 KK. Sedangkan korban jiwa tercatat 1 orang yang meninggal akibat tenggelam di daerah Desa Mugguk, Sekadau Hilir beberapa waktu lalu.

Kecamatan yang terdampak bencana ini (banjir) di Kabupaten Sekadau sebanyak empat wilayah, terdiri dari Sekadau Hilir, Belitang Hilir, Belitang dan Sekadau Hulu serta 28 desa. (Arni)

Bagaimana Menurut Anda