242 Lokasi Karhutbunla di Muba, Bupati Toha Berharap Titik Api Terus Berkurang

14

MUSI BANYUASIN, BERITAANDA – Kebakaran hutan, kebun dan lahan (karhutbunla) masih menjadi perhatian serius di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Hingga awal September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muba mencatat 242 lokasi karhutbunla yang tersebar di 14 kecamatan dengan total luasan mencapai sekitar 228 hektare.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 lokasi telah berhasil ditanggulangi. Kecamatan Bayung Lencir tercatat sebagai wilayah dengan jumlah lokasi karhutbunla terbanyak, yakni 44 lokasi. Berikutnya Lais 43 lokasi, Sekayu 42 lokasi dan Sungai Keruh 31 lokasi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru saat turun langsung meninjau sejumlah titik kebakaran di Kecamatan Lais, Kabupaten Muba.

Gubernur didampingi Bupati Muba HM Toha Tohet meninjau salah satu lokasi karhutbunla di Desa Tanjung Agung Timur. Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi di lapangan sekaligus mengevaluasi langkah penanganan kebakaran yang masih terjadi.

Bupati Muba HM Toha Tohet mengapresiasi langkah Gubernur Sumsel yang turun langsung meninjau kondisi karhutbunlah di wilayah Muba. Menurutnya, kehadiran gubernur di lapangan diharapkan dapat memperkuat koordinasi sekaligus menghasilkan langkah penanganan yang lebih efektif.

“Terima kasih kepada Pak Gubernur yang sudah hadir langsung ke Kabupaten Muba. Semoga dengan peninjauan ini titik api di Kabupaten Muba terus berkurang dan tidak terjadi lagi,” ujar Toha.

Toha menegaskan, karhutbunla di Muba tidak seluruhnya disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan. Berdasarkan temuan disejumlah lokasi, terdapat indikasi penyebab lain, seperti puntung rokok maupun faktor alam.

Karena itu, menurutnya, penanganan karhutbunlah harus disesuaikan dengan kondisi dan penyebab kebakaran yang ditemukan di lapangan.

Sementara itu, Gubernur Sumsel H Herman Deru mengungkapkan bahwa hasil patroli udara menunjukkan hotspot tidak selalu identik dengan titik api. Menurut Deru, dalam sejumlah kasus api sudah padam, namun asap masih bertahan, khususnya di wilayah dengan karakteristik lahan gambut.

“Api bisa sudah padam, tetapi asap masih bertahan, terutama di wilayah gambut,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Deru, membutuhkan penanganan khusus dengan dukungan ketersediaan air yang memadai agar bara di dalam lahan gambut benar-benar dapat dipadamkan.

Deru juga meminta agar riwayat hotspot selama tiga tahun terakhir diinventarisasi. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui desa-desa yang berulang kali mengalami karhutla.

Ia mengusulkan adanya skema penghargaan bagi desa yang berhasil mencegah kebakaran sekaligus sanksi bagi wilayah yang terus mengalami kejadian serupa.

Selain pemadaman dan pencegahan, Herman Deru menilai program cetak sawah dapat menjadi salah satu solusi untuk mengelola lahan terbengkalai yang selama ini rawan terbakar. Menurutnya, sebagian karhutla terjadi di lahan yang tidak dikelola sehingga mudah menjadi lokasi kebakaran.

“Kejadian karhutla ini mayoritas di lahan terbengkalai. Kita harapkan dengan cetak sawah lahannya terkelola, menghindari karhutla dan pada akhirnya ekonomi tumbuh,” tandasnya. (Sansida)

Bagaimana Menurut Anda