Pemkab Lampung Selatan Perkuat Sinergi dengan Basarnas, Ancaman Tsunami dan Anak Krakatau Jadi Perhatian

9

LAMPUNG SELATAN, BERITAANDA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan memperkuat koordinasi dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) guna meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi menghadapi berbagai potensi bencana di wilayah tersebut.

Sejumlah ancaman menjadi perhatian, mulai dari tsunami, aktivitas Gunung Anak Krakatau, banjir, tanah longsor, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Penguatan koordinasi tersebut dibahas dalam audiensi Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, bersama Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Lampung, Deden Ridwansyah, di rumah dinas bupati, Selasa (3/11/2026).

Dalam pertemuan itu, Deden menyampaikan bahwa audiensi bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat koordinasi antara Basarnas dan pemerintah daerah, khususnya dalam penanganan kebencanaan serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi ancaman.

Menurutnya, kondisi geografis Lampung Selatan memiliki sejumlah kerawanan bencana yang membutuhkan perhatian dan antisipasi bersama. Selain banjir dan tanah longsor saat musim hujan, wilayah ini juga memiliki potensi ancaman gempa megathrust, tsunami, serta dinamika aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Aktivitas penyeberangan yang berlangsung selama 24 jam juga menjadi perhatian tersendiri. Kondisi tersebut menuntut kesiapan pelayanan pencarian dan pertolongan agar dapat merespons secara cepat apabila terjadi keadaan darurat.

Deden menegaskan, penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sinergi antara Basarnas, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai penting untuk memperkuat upaya pencegahan, kesiapsiagaan, hingga penanganan saat bencana terjadi.

Sebagai langkah konkret, Basarnas juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Desa Tangguh Bencana dan Kampung Rescue. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat di lingkungan masing-masing.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama mengapresiasi koordinasi dan kerja sama yang selama ini telah terjalin dengan Basarnas. Menurutnya, kolaborasi antar lembaga menjadi salah satu kunci dalam memperkuat perlindungan masyarakat dari berbagai risiko bencana.

“Tentu kami mengapresiasi kerja sama yang selama ini sudah berjalan dengan baik dan menghasilkan berbagai output positif. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan selalu terbuka terhadap kolaborasi, terutama dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana,” ujar Egi.

Ia menilai, berbagai potensi ancaman bencana di Lampung Selatan harus diantisipasi secara serius, terutama aktivitas Gunung Anak Krakatau yang memiliki dinamika perubahan tingkat aktivitas.

Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga perlu mendapat perhatian karena berpotensi menimbulkan kerugian, baik bagi masyarakat maupun lingkungan.

Egi menekankan bahwa penguatan kesiapsiagaan tidak cukup hanya dilakukan melalui koordinasi antarlembaga. Edukasi dan simulasi secara langsung kepada masyarakat juga harus ditingkatkan agar warga mampu mengenali potensi bahaya, memahami prosedur penyelamatan diri, serta mengambil tindakan yang tepat ketika bencana terjadi.

Kesiapan sarana dan prasarana pendukung juga menjadi hal penting. Ia meminta agar seluruh peralatan mitigasi dan penanganan bencana dipastikan dalam kondisi baik dan siap digunakan sewaktu-waktu.

Sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan hingga tingkat masyarakat, Egi mengungkapkan rencana pengembangan program Masyarakat Tanggap Bencana (Mastana) pada 2027.

Melalui program tersebut, masyarakat akan mendapatkan pembekalan berupa edukasi, pelatihan, dan simulasi mitigasi bencana yang disesuaikan dengan karakteristik serta potensi risiko di wilayah masing-masing.

Dengan demikian, kesiapsiagaan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga menjadi kemampuan yang tumbuh dan melekat di tengah masyarakat.

Selain peningkatan kapasitas warga, Egi turut menyoroti pentingnya kesiapan jalur evakuasi sebagai bagian dari upaya penyelamatan saat bencana terjadi.

Menurutnya, jalur evakuasi harus direncanakan secara matang, memiliki petunjuk arah yang jelas, mudah diakses, serta didukung kondisi infrastruktur jalan yang memadai.

“Yang tidak kalah penting adalah jalur evakuasi. Kita harus memastikan arah evakuasinya jelas dan jalan yang akan dilalui masyarakat dalam kondisi baik, sehingga ketika terjadi bencana, proses penyelamatan dapat dilakukan dengan cepat dan tidak menyulitkan masyarakat,” tegasnya.

Melalui penguatan sinergi bersama Basarnas, Pemkab Lampung Selatan berharap upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana dapat berjalan semakin optimal.

Kolaborasi tersebut akan terus diperkuat melalui peningkatan koordinasi antarlembaga, kesiapan sarana dan prasarana, serta pemberdayaan masyarakat agar lebih tanggap dalam mengenali risiko dan melakukan langkah penyelamatan ketika menghadapi situasi darurat. (Kmf)

Bagaimana Menurut Anda