Nyaris 6 Bulan, Kasus Pencabulan yang Dilakukan Oknum Guru Ponpes di OKI Belum Juga Usai

235
Ilustrasi

OGAN KOMERING ILIR, BERITAANDA – Nyaris sudah 6 bulan, kasus pencabulan yang dilakukan AM (38), oknum guru Pondok Pesantren Yasinda yang berada di Desa Tugu Jaya Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) hingga kini belum juga selesai.

Oleh karenanya, SS (41) yang merupakan ibu dari B (14), salah satu korban keganasan oknum guru bejat tersebut, berharap agar kasus itu bisa segera selesai dan juga pelaku mendapat hukuman maksimal, setimpal dengan kesalahannya.

“Kita berharap kasus ini segera selesai dan para hakim dapat memberi putusan hukuman maksimal kepada pelaku, sesuai Pasal 82 Ayat 1 dan Junto 76 E UU perlindungan anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara,” pungkas dia.

SS yang didampingi kuasa hukumnya Aulia Aziz Al Haqqi SH dari Kantor Advocate and Legal Consultant Prasaja Law Firm juga mengatakan, mengingat korbannya tak hanya satu tapi banyak, kalau bisa dihukum lebih berat, 20 – 30 tahun penjara.

“Dalam persidangan dan didepan majelis hakim, pelaku (terdakwa -red) juga sudah mengakui jika korban atas perbuatannya banyak,” ujar SS dengan tatapan penuh amarah bercampur sedih hingga tak urung deraian air keluar dari sudut matanya mengalir ke pipi.

Dengan wajah kian redup tanda kesedihan yang mendalam, mengenang perbuatan bejat pelaku AM hingga kini menimbulkan perubahan diri anaknya yang mengalami trauma. SS juga mengatakan bahwa kini putra kesayangannya tak lagi mau sekolah.

“Saat peristiwa terjadi, anak saya kelas VIII dan seharusnya kini sudah kelas IX, tetapi kini tak lagi mau sekolah. Sekarang jadi pendiam dan serasa enggan bersosialisasi dengan orang lain. Masih trauma,” tandas SS masih dengan isak tangis.

Untuk para orang tua yang anaknya turut menjadi korban perbuatan bejat pelaku AM, lanjut dia, jika tak ingin melapor tolong bantu doa agar atas apa yang menimpa anak-anak kita, pelakunya bisa mendapatkan hukuman setimpal dan maksimal.

Terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten OKI H. Muazni saat diminta tanggapannya mengatakan, setelah dilakukan peradilan, pihaknya tentu sangat mendukung ketetapan hukum itu sesuai kesalahannya.

“Kalau bisa diringankan, atas kesalahannya yang memang ringan tak masalah, tetapi bila kenyataannya apa dilakukan pelaku benar salah, dan menurut UU harus dihukum secara berat, kita sangat mendukung sekali,” ujar dia.

Selain itu, ia mengimbau kepada keluarga korban dan masyarakat lainnya untuk berhati – hati serta tetap melakukan pengawasan terhadap anaknya.

“Walaupun di ponpes itu diawasi selama 24 jam, tetapi kita selaku orang tua tidak serta merta melepas begitu saja, juga berhak melakukan pemantauan dengan berkunjung dan bertanya tentang kondisi atau bagaimana keadaan anak – anak kita selama berada di ponpes,” tandas dia.

Di lokasi berbeda, Ketua Dewan Dakwah Kabupaten OKI, Ustadz Suparjon Ali Haq Al Tsabit mengatakan, kasus pencabulan tersebut memang dari awal, pihaknya sudah meminta penegakan hukum seadil-adilnya sesuai prosedur dan aturannya.

“Dan juga meminta transparansi kasus itu untuk diangkat ke peradilan, serta meminta hukuman terhadap pelaku harus maksimal. Karena ini akan menjadi efek jera, terlebih yang bersangkutan salah satu publik figur di dalam lingkungan ponpes maupun di luar,” ujar dia.

Ia kembali berharap kepada keluarga korban untuk memaksimalkan semua relasi dan koneksi, terutama melalui pengacara untuk menekan penegakan hukum supaya hasil dari tuntutan bisa maksimal.

“Kekhawatiran kita, bila tidak maksimal upaya dilakukan, nanti ada pengurangan hukuman, jadi perlu didorong semaksimal mungkin. Kami selaku tokoh agama dan masyarakat berharap pelaku dihukum seberat-beratnya, apalagi yang kita tahu korbannya tidak hanya satu, tetapi banyak,” pungkas dia. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda