Hari Ketiga di Sukarami, BNNK OKI Bedah Tekanan Teman Sebaya dan Cara Kurangi Perilaku Negatif Anak

1

OGAN KOMERING ILIR, BERITAANDA – Komitmen Badan Narkotika Nasional Kabupaten Ogan Komering Ilir (BNNK OKI) dalam membangun keluarga tangguh anti narkoba terus berlanjut. Memasuki hari ketiga, Rabu (4/11/2026), program intervensi pelaksanaan program ketahanan keluarga anti narkoba kembali digelar di Desa Sukarami, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten OKI.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut merupakan bagian dari rangkaian program Non-DIPA BNNK OKI yang berlandaskan DIPA BNNK OKI Nomor SP DIPA-066.01.2.403709/2026.

Jika pada hari kedua peserta diajak mempelajari cara mengubah perilaku menantang dan mengelola stres, pada hari ketiga materi yang diberikan semakin mendalam dan berkaitan erat dengan persoalan nyata dalam keluarga maupun lingkungan pergaulan anak.

Kegiatan tersebut dihadiri dan dipimpin langsung oleh Kepala BNNK OKI AKBP Irfan Arsanto S.Sos. Turut hadir Ketua Tim Pencegahan Masrohaya L Gaol SKM M.Kes, Penata Layanan Operasional Yessy Tri Anggraini SH, serta staf Mario Septiawan S.P.

Dalam arahannya, AKBP Irfan Arsanto menegaskan, bahwa penyalahgunaan narkoba kerap terjadi bukan semata-mata karena anak memiliki perilaku buruk, melainkan karena mereka tidak mampu menghadapi tekanan lingkungan, sementara orang tua terkadang kehabisan cara untuk mengarahkan dan membimbing anak.

“Anak itu korban, bukan pelaku utama. Kalau kita hanya marah, kita kalah. Tapi kalau kita ajari cara menolak ajakan buruk dan kita ajari cara mendidik dengan benar, anak kita akan punya tameng sendiri,” tegas AKBP Irfan Arsanto.

Kegiatan ini kembali dipandu oleh dua fasilitator andalan Tim Pencegahan BNNK OKI, yakni Masrohaya L Gaol sebagai fasilitator orang tua, dan Yessy Tri Anggraini sebagai fasilitator anak. Sementara itu, narasumber yang dihadirkan adalah Ida Royati S.S.T M.Kes dari Dinas DPPKB Kabupaten OKI dan Rodes Barma S.Psi Psikolog dari SMK Negeri 2 Kayuagung.

Sesi 1 – Orang Tua: Mengurangi Perilaku yang Tidak Diinginkan

Sesi pertama dikhususkan bagi para orang tua atau wali dengan mengangkat tema ‘Mengurangi Perilaku yang Tidak Diinginkan’. Sesi ini dipandu oleh Ida Royati bersama Masrohaya L Gaol.

Dalam sesi tersebut, para orang tua diajak untuk mengevaluasi pola pengasuhan yang selama ini diterapkan. Mereka diajak menyadari bahwa cara menegur anak yang kurang tepat justru dapat membuat anak semakin melawan, tertutup, bahkan menjauh dari orang tua. Beberapa contohnya adalah membentak anak di depan umum, membanding-bandingkannya dengan anak tetangga, hingga memberikan hukuman tanpa disertai penjelasan.

Melalui diskusi dan simulasi, peserta mempelajari teknik pengasuhan yang lebih efektif, mulai dari menetapkan aturan secara jelas dan konsisten, memberikan pujian ketika anak melakukan hal positif agar perilaku baik tersebut terus terulang, hingga mengurangi perilaku negatif tanpa menggunakan kekerasan verbal maupun fisik.

“Mengurangi perilaku yang tidak diinginkan itu bukan dengan menambah marah, tapi dengan menambah paham. Anak yang paham kenapa perbuatannya salah, dia akan berhenti sendiri. Anak yang hanya takut dimarahi, dia akan mengulang lagi saat kita tidak ada,” jelas Ida Royati.

Sejumlah orang tua di Desa Sukarami mengaku baru menyadari bahwa selama ini mereka terlalu berfokus pada kesalahan anak dan kerap melupakan pentingnya memberikan apresiasi terhadap usaha kecil maupun perilaku positif yang telah dilakukan anak.

Sesi 2 – Anak: Hadapi Tekanan Teman Sebaya, Berani Bilang TIDAK!

Sementara itu, sesi khusus anak yang mengangkat tema ‘Tekanan Teman Sebaya’ atau peer pressure berlangsung dengan suasana penuh antusias. Sesi ini dipandu oleh Psikolog Rodes Barma bersama Yessy Tri Anggraini.

Rodes Barma mengajak anak-anak Desa Sukarami untuk berani berbagi pengalaman nyata dalam pergaulan sehari-hari. Mulai dari pernah diajak bolos sekolah, dipaksa merokok, diejek karena tidak mau ikut nongkrong hingga larut malam, hingga ditawari barang yang tidak mereka kenal.

Dengan bahasa yang mudah dipahami kalangan remaja, Rodes menjelaskan bahwa tekanan teman sebaya merupakan salah satu pintu masuk penyalahgunaan narkoba yang perlu diwaspadai. Pasalnya, pada usia remaja, rasa takut dijauhi teman sering kali lebih besar dibandingkan kesadaran terhadap bahaya narkoba itu sendiri.

Anak-anak kemudian mendapatkan pelatihan melalui praktik langsung mengenai cara menolak ajakan negatif secara tegas tetapi tetap sopan, tanpa harus kehilangan teman. Mereka belajar mengucapkan, ‘tidak, aku nggak mau’, mengalihkan pembicaraan, menyampaikan alasan yang kuat, hingga memilih teman yang dapat memberikan dukungan terhadap hal-hal positif.

“Teman yang baik itu bukan yang ngajak kamu rusak, tapi yang ngajak kamu maju. Kalau kamu harus merusak diri sendiri hanya supaya diterima teman, itu bukan teman, itu jebakan,” pesan Rodes Barma yang langsung disambut anggukan para peserta.

Sesi ini menjadi salah satu bagian paling berkesan bagi anak-anak. Mereka merasa didengarkan, tidak dihakimi, serta mendapatkan bekal nyata untuk menghadapi berbagai tantangan dalam pergaulan di luar rumah.

Sesi 3 – Keluarga: Menimbang Nilai-Nilai Keluarga dan Membangun Komunikasi

Puncak kegiatan hari ketiga ditutup dengan sesi keluarga bertema ‘Menimbang Nilai-Nilai Keluarga dan Komunikasi’. Sesi ini dipandu bersama oleh Ida Royati, Rodes Barma, Masrohaya L Gaol, dan Yessy Tri Anggraini.

Jika dalam dua sesi sebelumnya orang tua dan anak mengikuti kegiatan secara terpisah, pada sesi ini mereka kembali dipertemukan. Orang tua dan anak diajak duduk bersama untuk saling mengevaluasi nilai-nilai yang selama ini menjadi pegangan keluarga. Mereka diajak merefleksikan apakah kejujuran, sikap saling menghargai, saling membantu, dan saling menjaga benar-benar telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Dalam sesi ini, setiap keluarga juga diajak menyusun kesepakatan sederhana, seperti tidak bermain ponsel saat makan bersama, selalu bersikap jujur ketika menghadapi masalah, serta berkomitmen untuk saling menjaga agar tidak ada anggota keluarga yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.

Suasana haru kembali terasa ketika anak-anak diminta mengungkapkan harapan mereka kepada orang tua, sementara para orang tua diminta menyampaikan hal-hal yang mereka banggakan dari anak-anaknya. Momen tersebut membuat sejumlah peserta saling berpelukan dan meminta maaf satu sama lain.

“Komunikasi itu bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mau mendengarkan. Kalau di rumah sudah nyaman untuk bercerita, anak tidak akan mencari kenyamanan di luar yang belum tentu aman,” ujar Masrohaya L Gaol saat menutup sesi.

Secara keseluruhan, kegiatan hari ketiga ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bahaya narkoba, sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya yang ada di desa untuk mendukung program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

BNNK OKI berharap, melalui intervensi yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut ini, Desa Sukarami tidak hanya menjadi desa yang memahami bahaya narkoba, tetapi juga mampu membangun keluarga-keluarga yang tangguh, kompak, dan saling melindungi dari ancaman penyalahgunaan narkotika.

“Kalau nilai keluarga sudah kuat dan komunikasinya sudah hidup, narkoba tidak akan punya tempat di Desa Sukarami. Ini yang kita perjuangkan, dari keluarga untuk Indonesia Bersinar,” tutup AKBP Irfan Arsanto.

Kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh antusiasme. Para peserta pun berkomitmen untuk terus menerapkan ilmu dan pengetahuan yang telah diperoleh serta menjadi agen perubahan dalam upaya pencegahan narkoba di lingkungan masing-masing. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda