Gerak Pemkot Sidempuan Tahan Inflasi, Pasar Murah Jadi Solusi

145
Kadis Ketapang Chairunnisa Daulay bersama Kadis Perdagangan Ridoan Pasaribu tampak melayani warga di Pasar Murah yang diadakan Pasar Dalihan Natolu Sadabuan.

PADANG SIDEMPUAN-SUMUT, BERITAANDA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang baru ditetapkan pemerintah pusat, membuat sejumlah harga komoditas di pasaran seperti sembako ikut serta merangkak naik.

Kondisi demikian juga terjadi di pasar tradisional yang ada di Kota Padang Sidempuan. Masyarakat setempat harus dibuat ketar-ketir dengan banyaknya komoditas pangan yang mengalami ketidakstabilan harga pasar.

Peka dengan kegamangan warga itu, Pemerintah Kota Padang Sidempuan melalui Dinas Ketahanan Pangan berkolaborasi dengan Dinas Perdagangan pun beraksi membuat gebrakan melakukan operasi pasar murah.

“Kegiatan pasar murah ini kita lakukan berangkat dari adanya instruksi Walikota Padang Sidempuan, Bapak Irsan Efendi Nasution,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang), Chairunnisa Daulay, Jumat (9/9/2022).

Chairunnisa yang ditemui wartawan di Pasar Dalihan Natolu Sadabuan Padang Sidempuan, menyebutkan bahwa kegiatan sambang pasar ini menjadi kali kedua yang dilakukan pihaknya, setelah Rabu (7/9/2022) kemarin.

“Bekerjasama dengan Dinas Perdagangan, sementara waktu komoditas pangan yang kita jual baru ada dua jenis. Yakni, beras medium serta bawang merah, hasil produksi dari petani lokal kita,” sebut Kadis Ketapang.

Selain di Pasar Dalihan Natolu Sadabuan, Pasar Saroha Padangmatinggi menjadi sasaran operasi pasar murah. Untuk harga, di hari pertama atau Rabu kemarin beras dijual Rp 9.000/Kg, dan bawang merah Rp 26.000/Kg.

Sedangkan pada operasi pasar murah kedua ini, beras lokal sebanyak 1 ton berasal dari Perum Bulog Subdivre Padang sidempuan dijual Rp 9.600/Kg atau Rp 48.000 per sak, bawang merah lokal dijual Rp 26.000 per Kg.

“Total beras yang kita jual di hari pertama pasar murah sebanyak setengah ton, bawang merah 120 kilogram. Di kali kedua ini disediakan 1 ton beras, plus 100 kilogram bawang merah produksi petani lokal,” ujar Choirunnisa.

Menurut Kepala Dinas Perdagangan, Ridoan Pasaribu, operasi pasar murah ini bertujuan mengatasi inflasi, di tengah kenaikan harga BBM. Sekaligus mengantispasi ulah oknum-oknum pedagang yang memainkan harga.

“Kita berharap dengan adanya operasi pasar murah ini bisa mengendalikan laju harga komoditas pangan dari kemungkinan adanya permainan para spekulan, yang ujungnya menciptakan beban bagi warga,” harapnya.

Lebih lanjut Kadis Perdagangan mengutarakan, saat ini beberapa komoditas pangan seringkali terjadi fluktuasi. Semisal cabai merah, jika Selasa (6/9/2022) Rp 85.000/Kg, keesokan harinya dijual dengan harga Rp 90.000/Kg.

“Tapi hari ini justru turun harga menjadi Rp 70.000/Kg. Sama halnya dengan harga beras dan bawang merah, yang saban hari cenderung naik turun. Fluktuasi harga tersebut yang kita jaga lewat pasar murah ini,” ujarnya.

Pantauan BERITAANDA di lokasi, dua jenis komoditas pangan yang dijual di stand pasar murah ini disambut antusias warga. Sehingga tidak mengherankan, hanya dalam hitungan setengah jam saja semua ludes dibeli.

Adanya selisih harga yang ditawarkan oleh pihak kedua organisasi perangkat daerah (OPD) itu menjadi alasan mendasar bagi warga datang berduyun-duyun membeli.

Beras di pasar murah dijual Rp 9.600/Kg, sementara itu beras dengan jenis dan kualitas yang sama dijual oleh pedagang setempat dengan harga Rp 12.000/Kg. Terjadi selisih harga sebesar Rp 2.400 untuk setiap kilogramnya.

Kemudian, jika harga bawang merah di lapak pedagang Rp 28.000/Kg untuk jenis Solok, dan Rp 35.000/Kg jenis Balige. Maka harga yang dipatok pada pasar murah ini adalah Rp 26.000/Kg. Lagi-lagi terdapat selisih harga.

“Kami sangat senang dengan diadakannya pasar murah ini, betul-betul sangat membantu meringankan beban di tengah kondisi sulit karena kenaikan harga BBM,” tegas Boru Ritonga merespon pertanyaan wartawan. [Anwar]

Bagaimana Menurut Anda