Curah Hujan Tinggi, Penghasilan Petani Karet Anjlok

46
Batang karet basah sebab hujan, sulitkan petani menyadap.

INDRALAYA-OI, BERITAANDA – Bagai kota hujan seperti di Bogor, di daerah Kabupaten Ogan Ilir [OI] Sumatera Selatan, baik itu siang, pagi ataupun sore, dalam kurun waktu sepekan ini terus dilanda curah hujan dengan intesitas cukup tinggi.

Meski turunnya hujan diketahui sangat banyak membawa hal positif, apalagi saat bercocok tanam yang membutuhkan ketersedian air, namun demikian kerapnya hujan turun terus-menerus dan setiap hari dikurun ini, membuat petani karet di daerah Kecamatan Payaraman mengeluh.

Bukan tanpa sebab, pasalnya petani di daerah ini tidak bisa melakukan aktifitas menyadap, lantaran pohon karet mereka tersebut basah, sehingga getah yang disadap pun tak bisa didapatkan secara maksimal. Tak jarang juga saat mereka sedang beraktifitas itu, hujan melanda dan akhirnya pulang dengan tidak membawa apa-apa alias zonk.

“Sejak beberapa pekan ini hujan terus pak, kadang malam, kadang pagi, yang sedihnya saat sedang nampas (menyadap karet), hujan terus akibatnya getah yang disadap habis ditimpa hujan,”  tutur Zainal, warga Payaraman.

Dengan seringnya hujan, ditambahkan dia, berpengaruh dengan pendapatan, bahkan dirinya mengaku pernah tidak dapat getah karet sama sekali karena seringnya hujan turun.

“Ya, itu penghasilan sangat menurun, hujan tidak bisa diprediksi, kondisi hari sepertinya cerah, eh tahu – tahu hujan. Semoga saja kondisi ini tidak berlarut, sehingga kami [petani karet] bisa normal kembali dalam menyadap batang karet,” tandasnya.

Sementara dikutip dari covesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebanyak 85 persen dari zona musim di wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan menjelang akhir Desember 2020 lalu.

Fenomena La Nina, anomali iklim global yang ditandai oleh suhu permukaan laut Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin dibandingkan suhu normalnya, yang terjadi sejak awal Oktober 2020 diprakirakan berlangsung hingga Mei 2021. Kedua kondisi tersebut mempengaruhi curah hujan di wilayah Indonesia.

Update peringatan dini cuaca Sumsel tanggal 1 Februari 2021 pukul 21.00 Wib. Masih berpotensi terjadi hujan sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada pukul 21.30 Wib.

Menurut BMKG, saat terjadi La Nina, curah hujan umumnya meningkat 20 persen hingga 40 persen dibandingkan dalam keadaan normal. Namun, ada juga daerah-daerah yang peningkatan curah hujannya melampaui 40 persen akibat La Nina itu.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, bahwa berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer dan prakiraan curah hujan bulanan, hingga Maret 2021 musim hujan diprakirakan masih bersifat ‘normal’ sampai ‘atas normal’, dan cenderung lebih basah dibandingkan dengan musim hujan tahun lalu.

Menurut dia, beberapa daerah berpotensi menghadapi curah hujan dengan kategori tinggi, 300 sampai 500 mm per bulan, selama periode enam bulan ke depan dan intensitasnya lebih tinggi dibanding tahun lalu. (Adie)

Bagaimana Menurut Anda