Cegah Penyebaran Penyakit, Dinkes OKI Gencar Adakan Program STBM

270

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Dalam rangka memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan, Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ilir (Dinkes OKI) terus gencar melaksanakan Program Sanitasi Total berbasis Masyarakat (STBM) di wilayahnya.

Hal ini dilakukan, karena tujuan akhir dari penyelenggaraan program STBM ini sendiri untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri, hingga upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten OKI dapat dicapai.

Kepala Dinas Kesehatan OKI HM Lubis, SKm.,MKes menjelaskan, STBM merupakan suatu strategi atau program intervensi yang menitikberatkan pencapaian kondisi sanitasi total di masyarakat melalui perubahan perilaku higienis dengan memberdayakan seluruh komponen di masyarakat.

“Program STBM adalah merupakan komitmen pemerintah Indonesia yang dituangkan daIam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 03 Tahun 2014 tentang STBM,” ungkap Lubis dalam acara pertemuan evaluasi program STBM yang dilaksanakan di aula rapat Hotel Dinesti Kayuagung, Selasa (23/7/2019).

Upaya tersebut, katanya, dilakukan untuk menguatkan komitmen pemerintah daerah dalam mengimplementasikan kebijakan pusat yang berbasis masyarakat, terutama menekankan pada pelaksanaan 5 (lima) pilar perubahan perilaku higienis. Sebab, sanitasi yang aman dan sehat merupakan salah satu faktor penting bagi kesehatan lingkungan.

“Di era desentralisasi saat ini, tanggung jawab pembangunan kesehatan adalah tanggung jawab bersama, antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota sampai ke tingkat desa, kelurahan dan masyarakat, dalam rangka menumbuhkan kemandirian masyarakat itu sendiri,” ungkapnya.

Hal itu menjadi satu kesatuan secara berkesinambungan. Katanya lagi, karena pada dasarnya ada dalam satu ruang kebersamaan yang harus bersinergi serta membangun kekuatan bersama dalam melaksanakan program STBM sesuai proporsi, potensi dan kemampuan daerah sehingga pelaksanaan program dapat tercapai.

“Tantangan dihadapi terkait pembangunan kesehatan, khususnya bidang higiene dan sanitasi masih sangat besar. Untuk itu perlu dilakukan intervensi terpadu melalui pendekatan sanitasi total. Pemerintah berupaya merubah pendekatan pembangunan sanitasi nasional dari pendekatan sektoral dengan penyediaan subsidi perangkat keras,” ujarnya.

Lanjutnya, yang selama ini tidak memberi daya ungkit terjadinya perubahan perilaku higienis dan peningkatan akses sanitasi menjadi pendekatan sanitasi total berbasis masyarakat yang menekankan pada 5 (lima) pilar perubahan perilaku higienis.

“Pilar STBM sebagaimana dimaksud ini terdiri atas perilaku stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah tangga dan pengamanan limbah cair rumah tangga,” ungkap dia.

Dengan pelaksanaan STBM 5 pilar tersebut, lanjutnya lagi, akan mempermudah upaya meningkatkan PHBS masyarakat yang lebih baik, serta mengubah dan mempertahankan keberlanjutan budaya hidup bersih dan Sehat (PHBS). Yang jika dalam jangka panjang dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian diakibatkan sanitasi kurang baik.

“Tak hanya itu, juga dapat mendorong terwujudnya masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan. Perubahan perilaku dalam STBM dilakukan melalui metode pemicu yang mendorong perubahan perilaku masyarakat secara kolektif dan mandiri sesuai kemampuan,” pungkasnya. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda