Antara K-Popers, Akulturasi Budaya dan Jati Diri Bangsa

168

Oleh Amanda Davina Putri [Universitas Bina Nusantara]

BERITAANDA – Kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa lepas dari ragam budaya popular seperti musik, film, sinetron, iklan, fashion, media sosial, dan lain-lain. Banyak dari kita bahkan yang memiliki ketertarikan, bahkan ketergantungan akan produk-produk budaya populer.

Selama beberapa dekade, reputasi Korea Selatan dikenal sebagai produsen mobil dan ponselnya dari perusahaan besar seperti Hyundai dan LG. Sementara film, acara TV, dan musiknya sebagian besar dikonsumsi pemirsa regional. Sekarang bintang K-pop seperti Blackpink, drama dystopian ‘Squid Game’ dan film pemenang penghargaan seperti ‘Parasite’ muncul dimana-mana, seperti halnya ponsel Samsung.

Begitulah transformasi negara gingseng ini berubah dari konsumen budaya Barat menjadi raksasa hiburan dan pengekspor budaya ke pelbagai belahan dunia. Selama bertahun-tahun mereka mempelajari Hollywood dan pusat hiburan lainnya, mengadopsi dan menyempurnakan formula dengan menambahkan sentuhan khas Korea. Begitu pula layanan streaming seperti Netflix meruntuhkan hambatan geografis, budaya Korea menyebar menjadi trendsetter dunia.

Dilansir dari Detik.com, menjamurnya budaya pop Korea Selatan di seluruh dunia adalah karena kebudayaan Korea yang sudah mulai terbuka dan bahkan mulai menyatu dengan budaya global. Hal ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah sana dalam mengekspor budaya.

Pemerintah Korea Selatan pun ikut turun tangan dalam usaha untuk memperluas budaya Korea ke seluruh dunia. Tak lagi memperbanyak ekspor barang-barang mewah seperti mobil, pemerintah mulai mengajak publiknya untuk ‘mengekspor’ kebudayaan mereka ke seluruh dunia. Sebut saja salah satu contohnya adalah candu akan hiburan K-Pop Culture oleh group band BTS (Bangtan Boys).

Kata “bangtan” memiliki arti anti peluru, sementara“sonyeandan” bermakna sekelompok anak laki – laki. Bangtan Sonyeondan bisa disebut sebagai penangkal hal buruk. Group boy band ini memulai debutnya pada tanggal 13 Juni 2013. Grup musik idola asal Korea Selatan besutan Big Hit Entertain mentini popularitas BTS di dunia sudah tidak diragukan lagi. Dalam hitungan menit saja lagu-lagu mereka berhasil ditonton jutaan orang. Channel YouTube resmi HYBE Labels mereka telah memiliki 59.5 juta subscribers.

Untuk menjadi setenar sekarang, perjuangan group band anak muda ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Kisah itu dilakoni Park Jimin atau biasa dipanggil penggemarnya dengan Jimin atau Chimmy. Salah satu pentolan group BTS.

Pria yang lahir pada tanggal 13 Oktober 1995 di Busan ini menapak karirnya melalui jalan terjal. Bahkan kemampuannya sempat diragukan oleh agensi. Oleh karena itu, Jimin membulatkan tekad. Pria ini adalah seorang pekerja keras. Tidur sekitar 2-3 jam saja dalam sehari. Jam 7 sampai 3 dia bersekolah, sepulang sekolah dia habiskan waktunya untuk latihan hingga 4 pagi. Bahkan Jimin sering sekali merasa tidak percaya diri dengan berat badannya, hingga dia melakukan diet ketat. Karena terlalu memaksakan diri, acap kali dia mengalami mimisan sampai pingsan saat latihan. Hal tersebut sangat membuat member lain khawatir.

Sebelum menjadi traine di Big Hit Entertainment, Jimin sempat menyerah terhadap mimpinya karena Jimin berasal dari keluarga yang kurang mampu, jadi ia tidak bisa membayar kelas dance dan nyanyi. Selain itu, ayahnya Jimin juga sempat tidak menyetujui impian Jimin menjadi seorang penyanyi karena ayahnya menginginkan dia menjadi pegawai negeri. Ayah Jimin berpikir bahwa menjadi seorang penyanyi belum tentuia memilikigaji yang tetap. Lalu, Jimin dan gurunya berhasil meyakinkan sang ayah. Akhirnya Jimin bisa bersekolah di Busan High School of Art dan guru Jimin pun menyarankan ia untuk mengikuti audisi Big Hit Enterteiment.

Di sekolah ini juga Jimin bertemu dengan Kim Taehyung. Jimin dan Taehyung merupakan teman seperjuangan. Berkat Taehyung juga Jimin bisa debut di BTS. Taehyung lah orang yang meyakinkan pihak agensi bahwa Jimin mampu debut sebagai BTS. Dan akhirnya, Jimin debut menjadi anggota BTS pada tanggal 13 Juni 2013.

Berhasil debut di BTS, bukan berarti rintangan Jimin selesai. Setelah debut dia banyak menerima hujatan dari netizen Korea maupun netizen internasional. Mereka menyebut Jimin tidak memiliki kualitas yang bagus untuk standar K-POP. Bahkan, tidak sedikit juga orang yang menyuruh Jimin untuk keluar saja dari grup BTS. Namun sekali lagi Jimin berhasil membuktikan bahwa dia memiliki kualitas yang baik. Terbukti Jimin selalu menjadi ranking pertama brand reputation Korea Selatan.

Penetrasi Budaya

Munculnya budayak-pop di Indonesia ini menciptakan “Hallyu” atau “Demam Korea” di kalangan remaja Indonesia. Adanya “Hallyu” ini membuat para remaja Indonesia menjadi sosok yang fanatic terhadap K-Pop, sehingga mereka rela mempelajari kultur budaya Korea Selatan selaku negara yang menyebarkan K-Pop. Para remaja yang menggandrungi K-Pop ini sering kali melupakan kearifan lokal negara sendiri. Alhasil, beberapa penggemar K-Pop ini lebih percaya diri menggunakan kultur budaya Korea Selatan dibandingkan budaya Indonesia sendiri.

Mengapa penyebaran K-Pop di Indonesia ini begitu cepat?, jawabannya adalah internet. Era 4.0 membuat semua orang bisa dengan mudah mengakses internet hanya dari jemari. Melalui perkembangan K-Pop yang begitu pesat melalui boyband dan girlband yang menarik minat remaja Indonesia, dengan menawarkan musik serta paras dari member boyband dan girlband yang menarik perhatian remaja Indonesia. Proses itu akhirnya melahirkan penetrasi budaya, yaitu masuknya pengaruh suatu kebudayaan-kebudayaan lain. Dimana penetrasi Budaya K-Pop ini masuk dengan damai, karena penerimaan kebudayaan ini tidak mengakibatkan konflik di masyarakat.

Fanatisme K-Popers Terhadap Budaya Idolanya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009), fanatisme adalah suatu keyakinan atau kepercayaan yang kuat terhadap suatu ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Fanatisme sendiri bisa disebut orang yang menyukai sesuatu secara berlebihan. K-Popers yang memiliki jiwa fanatic ini mengalami perubahan kultur budaya yang menimpa remaja Indonesia, terlihat dari penggunaan bahasa, gaya berpakaian dan makanan. Mulaidaricara menyapa yang menggunakan kata “annyeong haseo”, terkejut “omona”, benarkah? “jinjjayo?”, tidak tahu “molla”, dan beberapa kata Korea yang popular dikalangan penggemar K-Pop Indonesia.

Penggunaan bahasa populer Korea ini membuat penggunaan bahasa daerah makin merangkak mundur. Selain gaya bahasa yang lambat laun berubah, gaya berpakaian para remaja K-Pop ini lebih condong ke Korean Style. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki gaya berpakaian remaja masa kini bisa terbilang aneh.

Untuk makanan Korea Selatan yang terkenal di kalangan fans seperti bulgogi, kimchi, ramyeon, bibimbap, dan kimbap yang merupakan menu wajib yang harus dicicipi oleh penggemar K-Pop. Padahal, seperti yang kita tahu makanan khas Indonesia kini makin sulit dijumpai karena bersaing dengan makanan dari budaya asing yang masuk ke Indonesia, salah satunya makanan Korea.

Akulturasi Budaya

Melalui akulturasi budaya K-Pop dengan budaya Indonesia dapat membuat sebuah budaya baru yang dapat diminati remaja sekarang. Misalnya memainkan lagi K-Pop dengan angklung atau gamelan. Tentu saja, melalui akulturasi budaya ini diperkenalkan alat musik Indonesia agar lebih mendunia tanpa harus menghilangkan salah satu budaya, baik dari budaya K-Pop dan budaya Indonesia.

Selain akulturasi di bidang musik, akulturasi kebudayaan juga terjadi pada bidang fashion, yakni perpaduan antara kain tenun dengan hanbok (pakaian tradisional Korea), seperti yang dilakukan oleh Rindra Mc Draw yang memadupadankan kain tenun dengan hanbok di gelaran Hartono Mall Fashion Trends 2017, Yogyakarta lalu.Melalui akulturasi budaya ini menjadi sebuah alternatif bagi remaja Indonesia yang menyukai budaya K-Pop, namun tidak ingin menghilangkan budaya Indonesia. Diharapkan melalui akulturasi budaya ini, penggemar K-Pop di Indonesia tetap ingatakan kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia.

K-Popers harus bagaimana?

Menjadi penggemar K-Pop itu bukanlah dosa, hanya saja sebagai penggemar tentu ada batas wajarnya. Tidaklah seorang penggemar harus bertindak fanatik yang dapat merugikan pihak lain atau membahayakan idolanya sendiri bahkan orang lain dan juga tidak menghilangakan kultur budaya yang dimiliki oleh negara sendiri. [*]

Bagaimana Menurut Anda