Abdul-Jabbar: Rasialisme di AS Lebih Mematikan dari Covid-19

109

OLAHRAGA, BERITAANDA – Legenda NBA Kareem Abdul-Jabbar menganggap rasialisme di Amerika Serikat lebih mematikan daripada pandemi Covid-19 menyusul kasus kematian George Floyd.

Lewat tulisan di Los Angeles Times, Abdul-Jabbar mengkritik sikap pemerintah dan polisi terhadap masyarakat kulit hitam. Mantan pemain Los Angeles Lakers itu mengatakan kasus rasial terhadap orang kulit hitam di AS selalu dianggap sebelah mata.

“Masyarakat Afrika-Amerika tinggal di gedung yang terbakar selama bertahun-tahun, tersedak karena asap ketika api semakin dekat. Rasialisme di Amerika Serikat seperti debu di udara,” tulis Abdul-Jabbar dikutip dari CNN.

“Tampak tidak terlihat, bahkan jika Anda tersedak, sampai Anda membiarkan matahari masuk. Lalu Anda sadar itu ada di mana-mana. Komunitas kulit hitam terbiasa dengan rasialisme institusional yang melekat dalam pendidikan, sistem peradilan dan pekerjaan,” sambung Abdul-Jabbar.

Abdul-Jabbar yang menjadi mualaf pada 1974 kemudian mendesak pemerintah AS memberi perlakuan yang sama untuk masyarakat kulit hitam. Pengoleksi enam gelar juara NBA itu menganggap orang kulit hitam di AS sudah lama menderita.

“Jadi mungkin masalah utama komunitas kulit hitam saat ini bukan apakah pengunjuk rasa berdiri terpisah tiga atau enam kaki atau bahkan membakar kantor polisi, tetapi apakah putra-putri, suami, saudara dan ayah mereka akan dibunuh oleh polisi atau ‘polisi jadi-jadian’ hanya karena ingin jalan kaki, jogging atau berkendara,” ujar Abdul-Jabbar.

“Apakah karena kita kulit hitam, kita harus tetap berada di rumah seumur hidup kita karena virus rasialisme yang menginfeksi negara ini lebih mematikan daripada Covid-19,” tulis Abdul-Jabbar.

Abdul-Jabbar dianggap sebagai salah satu pemain NBA terhebat dalam sejarah. Di luar lapangan, pemain yang terlahir sebagai Ferdinand Lewis Alcindor Jr itu aktif bersuara ketika muncul isu sosial. (*)

Sumber: cnnindonesia.com

Bagaimana Menurut Anda