Ujang Komarudin: Melalui Aplikasi ‘Si Pandu’ Pelayanan Lebih Cepat, Mudah dan Akuntabel

96

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Laut [BBPBL] Lampung, Ujang Komarudin, berharap agar aplikasi ‘Si Pandu’ (Sistem Informasi Pelayanan Terpadu) segera bisa digunakan oleh seluruh warga, khususnya masyarakat pembudidaya ikan, pengusaha, akademisi baik dosen maupun guru, serta rekan-rekan para penyuluh.

“Sehingga kedepannya seluruh fasilitas pelayanan yang kami berikan dari BBPBL Lampung ini lebih cepat, mudah, dan akuntabel,” ungkap Ujang Komarudin kepada BERITAANDA usai kegiatan launching aplikasi pelayanan publik ‘Si Pandu’ dan diseminasi teknologi perikanan budidaya bidang kawasan dan kesehatan ikan di Golden Tulip Springhill, Bandar Lampung, Selasa (23/3) .

“Aplikasi ini juga sudah digunakan di pusat dan UPT Perikanan Budidaya lainnya. Siapapun bisa dan boleh mengakses aplikasi ini. Kelebihan dari aplikasi ini lebih cepat, mudah dan akuntabel,” jelasnya lagi.

Sementara itu, Makmur Hidayat, S.Pi, MM selaku Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung yang juga hadir pada kegiatan itu menyampaikan, di tengah kondisi pandemi sektor perikanan masih menunjukan pertumbuhan positif.

Nilai ekspor perikanan Lampung tahun 2020 mengalami kenaikan. Pada tahun sebelumnya, 12,5% menjadi senilai Rp 2,3 triliun. Nilai Tukar Nelayan (NTN) menunjukkan perbaikan, naik dari 102,21 menjadi 102,96, Nlai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) naik dari 100,80 menjadi 101,44 pada akhir 2020.

“Sebelum terjadinya pandemi Covid-19 di Indonesia, Pemerintah Provinsi Lampung sudah menginisiasi digitalisasi petani dan mengintegrasikan segala kebutuhan petani dalam satu program Kartu Petani Berjaya (KPB), mulai dari kebutuhan bibit, sarana produksi, pupuk, pembiayaan, asuransi hingga informasi pasar akan diintegrasikan dalam program KPB,” ujarnya.

Oleh karena itu, dirinya berharap agar aplikasi Si Pandu ini bisa bersinergis dengan program Provinsi Lampung, khususnya dalam sektor kelautan dan perikanan dalam rangka memudahkan para pembudidaya ikan meningkatkan produksi dan kesejahteraannya. Juga bisa memberikan kemudahan bagi para stakeholders kelautan dan perikanan dalam menjalankan usaha.

Terkait dengan diseminasi sendiri,  Ujang Komarudin kembali menerangkan bahwa diseminasi teknologi budidaya merupakan bentuk upaya penyampaian hasil – hasil kajian/pengujian/percobaan budidaya yang  dilakukan Balai kepada masyarakat (stakeholder).

Salah satu topik teknologi budidaya adalah pengelolaan lingkungan budidaya dan pengendalian penyakit. Secara langsung, diseminasi dilakukan secara tatap muka antara Balai dengan stakeholder pembudidaya ikan, penyuluh perikanan, pengusaha bidang perikanan, dinas/instansi terkait, akademisi, dan pihak – pihak lain yang memiliki konsen terhadap perikanan budidaya, seperti yang dilaksanakan melalui acara diseminasi pada saat ini.

Secara tidak langsung, diseminasi dilaksanakan melalui media online/internet, dimana materi diseminasi disampaikan tanpa tatap muka, sementara tujuannya adalah untuk menyampaikan informasi terkini tentang kondisi lingkungan budidaya dan memberikan pemahaman dan jalan keluar.

“Salah satu contoh terkait penyakit ikan/udang yang banyak terjadi saat ini. Penyakit muncul tidak disebabkan oleh faktor tunggal, biasanya disebabkan oleh tiga faktor yang bekerja saling terkait, antara lain faktor sumber penyakit (bakteri, virus, jamur), kondisi lingkungan, dan faktor vitalitas ikan/udang itu sendiri,” pungkas Ujang Komarudin. [Katrine]

Bagaimana Menurut Anda