Stabilitas Harga Terjaga, Lampung Jadi Provinsi dengan Inflasi Terendah Nasional

6

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Provinsi Lampung mencatatkan kinerja impresif dalam pengendalian inflasi dengan menjadi daerah berinflasi tahunan (year-on-year) terendah di Indonesia, yakni sebesar 0,53 persen pada April 2026.

Capaian tersebut terungkap dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah yang diikuti Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan (Ekubang), Liza Derni, secara daring dari Ruang Command Center Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Selasa (5/5/2026).

Dalam arahannya, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, meminta seluruh kepala daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar lebih proaktif memantau pergerakan harga komoditas di lapangan.

Ia menyoroti masih adanya sejumlah daerah dengan tingkat inflasi di atas rata-rata nasional sebesar 2,42 persen, bahkan melampaui batas ideal 2,5 persen.

“Saya minta seluruh kepala daerah beserta jajarannya, khususnya TPID, tidak hanya mengikuti rapat, tetapi benar-benar turun ke lapangan. Cek langsung ke pasar dan lakukan langkah konkret pengendalian,” tegasnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan, sejumlah komoditas pangan masih mengalami kenaikan harga di berbagai wilayah. Minyak goreng tercatat naik di 240 kabupaten/kota, bawang merah di 227 daerah, gula pasir di 193 daerah, dan cabai merah di 148 daerah. Sementara itu, beras juga mengalami kenaikan di 116 daerah.

Tomsi mengingatkan agar kenaikan harga sekecil apa pun tidak diabaikan karena dapat berdampak signifikan jika terjadi secara terus-menerus.

“Kenaikan Rp100 atau Rp500 tetap harus diwaspadai. Jika terjadi setiap hari, tentu akan memberatkan masyarakat. Bahkan kenaikan kecil pun seharusnya bisa dicegah, terutama untuk komoditas yang diatur pemerintah,” ujarnya.

Disisi lain, pemerintah pusat memberikan apresiasi kepada daerah yang berhasil menekan inflasi, termasuk Provinsi Lampung yang mencatat angka terendah secara nasional.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan bahwa secara nasional inflasi Indonesia pada April 2026 masih terkendali, yakni sebesar 0,13 persen secara bulanan (month-to-month) dan 2,42 persen secara tahunan.

“Secara year-on-year, inflasi April 2026 terhadap April 2025 sebesar 2,42 persen. Sementara secara year-to-date, inflasi April 2026 terhadap Desember 2025 tercatat 1,06 persen,” jelasnya.

Ia menambahkan, meskipun terdapat tekanan dari sektor transportasi akibat kenaikan harga avtur, beberapa daerah mampu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dengan baik.

“Jika dilihat berdasarkan year-on-year, Provinsi Lampung menjadi yang terendah dengan inflasi sebesar 0,53 persen,” ungkap Ateng.

Rendahnya inflasi di Lampung mencerminkan efektivitas sinergi antara Pemerintah Provinsi dan TPID dalam menjaga kelancaran distribusi serta stabilitas harga pangan.

Secara nasional, BPS mencatat sejumlah komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan telur ayam ras memberikan kontribusi deflasi yang cukup signifikan pada April, sehingga membantu meredam tekanan inflasi.

Meski demikian, pemerintah daerah diimbau tetap waspada terhadap kelompok pengeluaran transportasi serta penyediaan makanan dan minuman yang masih menunjukkan tren kenaikan.

“Meskipun inflasi bulanan relatif rendah, tetap perlu diwaspadai beberapa komoditas yang secara tahunan masih mengalami kenaikan cukup tinggi,” pungkas Ateng. (Katharina)

Bagaimana Menurut Anda