Program Konservasi di Ekosistem Batang Toru Terus Dipertahankan

347

TAPSEL-SUMUT, BERITAANDA – Konservasi di ekosistem Batang Toru meliputi kekayaan flora dan fauna harus tetap terjaga, terutama perlindungan terhadap keanekaragaman hayati, guna diwariskan kepada generasi mendatang.

Demikian disampaikan Bupati Tapsel H. Syahrul M. Pasaribu, selepas menerima kunjungan Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial KLHK RI, bertempat di ruang kerjanya, Kamis (17/10/2019).

Dalam pertemuan ini, Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial didampingi Staf Khusus Menteri LHK Bidang Koordinasi Jaringan LSM dan Amdal Ir. Hanni Adiati, M.Si beserta jajaran, dan Kepala Balai BKSDA Provinsi Sumatera Utara Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For beserta jajaran.

Bupati Tapsel menyampaikan, upaya itu antara lain adalah dengan menerapkan program kawasan ekosistem esensial di bentang alam Batang Toru yang beririsan dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

“Cakupan kawasan itu 60% berada di Tapanuli Utara, 30% di Tapanuli Selatan, dan 10%-nya di Tapanuli Tengah,” sebut bupati yang ketika itu didampingi oleh Asisten Ekbang, Staf Ahli Bupati Bidang Ekbang, Kadis Lingkungan Hidup, Kadis PU dan PR, Kadis Pertanian, dan Kabag Humas dan Protokol.

Menurut Syahrul, Pemkab Tapsel sudah memberikan perhatian yang cukup baik kepada konservasi maupun upaya-upaya pelestarian lingkungan, sehingga Tapsel menjadi kabupaten percontohan bagi daerah tetangga untuk dapat memberi upaya-upaya peningkatan konservasi.

Dia pun menegaskan, pihaknya sangat konsekuen mendukung upaya-upaya konservasi. Aplikasi nyatanya, Pemkab Tapsel menginisiasi komitmen bersama dalam menjaga ekosistem Batang Toru, termasuk upaya pelestarian orangutan dan habitat lainnya.

Komitmen yang sudah diwujudnyatakan tersebut, jelas Syahrul, antara lain melalui penyusunan rencana detail tata ruang (RDTR) kawasan strategis Batang Toru dan sekitarnya.

“Poin penting dalam komitmen itu yakni mendeliniasi koridor satwa liar dan tindaklanjutnya pembentukan forum kolaborasi pengelolaan koridor, dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait agar pengelolaannya saling bersinergi,” terang dia.

Hal ini juga sebagai tindaklanjut rapat yang pernah dilaksanakan pada bulan Juli lalu, membangun koridor orangutan maupun satwa liar lainnya yang ada di ekosistem Batang Toru. Tujuannya, agar para satwa liar lebih leluasa bergerak, baik dari selatan ke utara ataupun dari barat ke timur.

Koridor inilah yang menjadi poin utama bagi orangutan yang ada di Area Penggunaan Lain (APL) untuk mereka bebas bergerak sekaligus berinteraksi dengan kawanan di habitat utamanya, di cagar alam Lubuk Raya, Dolok Sipirok, serta cagar alam Sibual-buali.

“Dibangunnya koridor ini juga untuk mencegah terjadinya imbreding atau perkawinan sedarah. Karena perkawinan sedarah itu akan menimbulkan resiko keturunan yang tidak baik,” ujar bupati dua periode berturut-turut tersebut.

Direktur Bina Pengelolaan Ekosisten Esensial pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK RI, Tandya Tjahjana, menyambut baik konsekuen Pemkab Tapsel dengan upaya konservasi alamnya.

“Substansi kawasan ekosistem esensial seperti ini, mudah-mudahan tidak cuma dikembangkan di Tapsel. Akan tetapi bisa dilakukan oleh kabupaten tetangga lainnya. Karena mengingat, jelajah orangutan tidak cuma di Tapsel, tetapi meliputi kabupaten tetangga,” harap Tandya. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda