Peringatan Hari Pahlawan di Mako Brigif 4 Marinir/BS Berlangsung Khidmat

161

PESAWARAN-LAMPUNG, BERITAANDA – Brigade Infanteri 4 Marinir/BS melaksanakan upacara dalam rangka memperingati Hari Pahlawan ke-74 di Mako Brigif 4 Marinir/BS, Piabung, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Ahad (10/11/2019).

Komandan Brigade Infanteri 4 Marinir/BS Kolonel Marinir Ahmad Fajar diwakilkan oleh Perwira Staf Operasi (Pasops) Brigade Infanteri 4 Marinir/BS Letkol Marinir Isna Muksin Abdilah yang bertindak selaku inspektur upacara, dan Lettu Mar Septian Subali sebagai komandan upacara.

Dalam amanat Menteri Sosial Republik Indonesia Bapak Juliari P. Batubara yang dibacakan oleh Pasops Brigif 4 Mar/BS, Kusuma Bangsa, dengan menyalakan jiwa kepahlawanan dalam perjuangan mengisi kemerdekaan. Peringatan tersebut didasarkan pada peristiwa “pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, sebagai pertempuran pertama dan terbesar antara pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, dengan memakan korban jiwa yang sangat besar.

Peristiwa tersebut memberi kita pelajaran moral bahwa warisan terbaik para pahlawan bangsa bukanlah politik ketakutan, melainkan politik harapan, bahwa seberat apapun tantangan yang dihadapi dan keterbatasan yang ada, tidak akan menyurutkan semangat perjuangan.

Pengalaman merebut dan mempertahankan kemerdekaan juga menunjukkan betapa spirit kemerdekaan juga menunjukkan betapa spirit perjuangan dan mental karakter kepahlawanan memiliki daya hidup yang luar biasa dalam menghadapi berbagai rintangan dan penderitaan.

Peringatan Hari Pahlawan harus mampu menggali upaya, bukan abunya. Dengan meminjam ungkapan Bung Karno, semangat kepahlawanan itu adalah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme dengan mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi.

Sejalan dengan orientasi Trisakti tersebut pemerintah, dalam hal ini Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH. M. Amin hadir dengan menawarkan visi transformative, terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian yang berlandaskan gotong-royong.

Dalam kerangka mewujudkan visi tersebut telah dirumuskan sembilan agenda prioritas pemerintah ke depan yang disebut Nawa Cita. Kesembilan agenda prioritas itu bisa dikategorisasikan ke dalam tiga ranah, ranah mental-kultural, ranah material (ekonomi) dan ranah politik. Pada ketiga ranah tersebut, pemerintah saat ini berusaha melakukan berbagai perubahan secara akseleratif, berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Dalam amanat Presiden pada ulang tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1956. Setahun setelah pemilihan umum pertama tahun 1955. Bung Karno menjelaskan tiga fase revolusi bangsa. Dua fase telah dilalui dengan berhasil, dan satu fase lagi menghadang sebagai tantangan. Indonesia telah melewati ‘taraf physical revolution’ dan ‘taraf survival’. Lantas, Bung Karno menandaskan, ‘sekarang berada pada taraf investment, yaitu taraf menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas luasnya, investmen of human skill, material investmen, dan mental investmen.

Selanjutnya Bung Karno mengingatkan, kelemahan jiwa kita ialah, bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar-negri, kurang percaya mempercayai satu sama lain, padahal kita ini pada asalnya ialah rakyat gotong-royong, kurang berjiwa gigih melainkan terlalu lekas mau enak dan cari gampangnya saja. Dan itu semua, karena makin menipisnya rasa harkat nasional, makin menipisnya ras national dignity, makin menipisnya rasa bangga dan rasa hormat terhadap kemampuan dan kepribadian bangsa dan rakyat sendiri. Revolusi mental diharapkan bisa mendorong gerakan hidup baru, dalam bentuk :

  1. Perombakan cara berfikir, cara kerja, cara hidup, yang merintangi kemajuan.
  2. Peningkatan dan pembangunan cara berfikir, cara hidup, dan cara hidup yang baik.

Singkat kata, gerakan hidup baru adalah gerakan revolusi mental untuk menggembleng manusia Indonesia ini menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemampuan baja, bersemangat elang raja wali, berjiwa api yang menyala-nyala. Itulah jiwa patriotisme progresif yang harus kita kobarkan dalam menghadapi tantangan dan persoalan pembangunan hari ini.

Turut Hadir dalam upacara tersebut para Perwira jajaran Brigif 4 Mar/BS, dan seluruh prajurit Brigif 4 Mar/BS. (Katrine)

Bagaimana Menurut Anda