Pemkot Gunungsitoli Tak Melarang Jual Makanan Berbahan Daging Babi di PJM, Asal Ikuti Aturan

300

GUNUNGSITOLI-SUMUT, BERITAANDA – Menanggapi isu viral di media sosial tentang pelarangan menjual jajanan atau kuliner berbahan baku daging babi di pusat jajanan malam [PJM] di Taman Yaahowu, Pemerintah Kota Gunungsitoli menegaskan tidak ada larangan jual makanan berbahan daging babi jika mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pihak pengelola.

“Adapun aturan dimaksud antara lain, bila tempat penjualan di tempat permanen kios/ruko pada jalur jalan sebelah kanan diperkenankan melaksanakan proses pengolahan bahan makanan berbahan daging babi dalam ruangan yang sudah tersedia, dan bukan di halaman/trotoar ruko atau toko. Hal ini bisa kita lihat usaha jualan bak mie babi di dekat Vihara masih berjalan sampai saat ini,” jelas Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Yurisman Telaumbanua, S.Sos M.Ec.Dev, Senin (7/6).

Selanjutnya, kata dia, bila tempat jualannya di sisi kiri jalan, membelakangi laut atau tempat terbuka dengan wadah tempat jualan gerobak atau sejenisnya, diharapkan melakukan proses pengolahan makanan yang sebelumnya telah disiapkan setengah matang dari rumah pelaku usaha. Dan di lokasi berjualan tinggal menghidangkan atau mematangkan menggunakan media pengolahan seperti oven, atau sejenisnya.

“Kebijakan ini dilakukan mengingat keterbatasan lokasi yang tersedia dan tentunya juga untuk menghargai saudara-saudara kita di lingkungan sekitar dan pelanggan yang beragama Islam,” ujarnya.

Jelasnya lagi, bahwa pada awalnya PJM dibuat dengan pertimbangan untuk mengumpulkan para pedagang jajanan malam yang biasa berjualan pada malam hari dengan menggunakan gerobak yang tersebar di berbagai lokasi dalam satu kawasan. Hal itu dibuat untuk menghindari kesemrawutan lingkungan perkotaan pada malam hari dan memudahkan akses masyarakat untuk mendapatkan layanan kuliner pada malam hari, serta memudahkan dalam melakukan pembinaan kepada para pedagang yang notabenenya merupakan para pelaku usaha mikro.

“Seiring perkembangannya, PJM ini sangat diminati para pelaku usaha mikro sehingga terdapat antrian para pedagang yang mau berjualan di lokasi yang sudah ditentukan. Keberadaan PJM baru berjalan kurang lebih 2 tahun dan masih membutuhkan berbagai pembenahan. Kita sangat mengapresiasi saran dan pendapat terkait pengembangan kuliner khas Nias, dan hal ini menjadi bahan evaluasi bagi kita terkait kebijakan pengembangan kuliner di Kota Gunungsitoli,” ungkapnya mengakhiri. [Ganda]

Bagaimana Menurut Anda