Pemkab OKI Buka Peluang Bagi Pengusaha Lokal dan UMKM Go Digital

48

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Ogan Komering Ilir (OKI) kini memiliki kesempatan menjadi penyedia pengadaan barang dan jasa (PJB).

Pemkab OKI gencar mendorong dan membuka peluang bagi pelaku usaha lokal dan UMKM melalui digitalisasi belanja langsung (bela) dengan penyelenggara perdagangan melalui sistem elektronik (PPMSE).

“Dengan diterapkannya PPMSE di OKI maka produk lokal bisa masuk e-katalog pengadaan barang dan jasa serta dapat berkolaborasi dengan market place yang terlisensi LKPP,” ujar Sekretaris Daerah OKI, H. Husin S.Pd MM.M.Pd saat membuka sosialisasi dan bimbingan teknis belanja langsung (bela) melalui sistem elektronik di Kayuagung, Senin (6/6).

Dikatakan Sekda Husin, penerapan belanja langsung melalui skema PPMSE merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden sebagai upaya daya ungkit perekonomian lokal dengan mendorong pertumbuhan produk UMKM.

“Bela pengadaan yang diiniasi oleh LKPP dan KPK ini mampu mendorong UMKM di OKI GO Digital dengan transaksi maksimal Rp 200 juta bagi pengusaha lokal yang tergabung dalam market place yang telah terlisensi LKPP,” imbuhnya.

Selain itu, menurut Husin, dengan PPMSE ini dapat mencegah praktik korupsi sekaligus memajukan UMKM daerah.

“Pengadaan barang dan jasa jadi lebih transparan dan mempermudah untuk pelaporan serta pertangung jawab anggaran,” terang dia.

Sementara itu, Antonius Prabowo selaku Direktur Bisnis Bank Sumsel Babel mengatakan, sebagai bank daerah kami terus berpartipasi dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan digitalisasi perekonomian dan transaksi.

“Amanah digitalisasi ini ada di Bank Sumsel Babel dengan menyediakan layanan yang berbasis internet banking, sehingga mempermudah keinginan nasabah,” kata Anton yang tersambung secara virtual.

Prabowo juga mengapresiasi langkah Pemkab OKI yang telah melakukan lompatan besar dalam memajukan UKM dan transparansi belanja pemerintah.

“Kami mendukung langkah konkrit yang telah dilakukan Pemkab OKI,” ujar dia.

Menurutnya, elemen terpenting dari digitalisasi adalah mindset (pola pikir), dan perilaku yang harus terbuka dengan kemajuan sehingga mampu meningkatkan transparasi dan efisiensi.

Direktur Pengembangan Katalog Elektronik Lembaga Kebijakan Pengadaan Pemerintah (LKPP) diwakili Tito Sultyo menyampaikan, sekurang-kurangnya 40 persen anggaran PJB yang digelar pemerintah harus dialokasikan kepada pelaku UMKM.

“Pengadaan barang jasa 40 persen harus pakai UMKM,” kata tito.

LKPP, menurut dia, mendorong kementerian dan pemerintah daerah untuk menginput produk barang dan jasa pelaku UMKM binaannya ke katalog LKPP.

“Kalau produk UMKM sudah bisa masuk katalog dan toko daring, artinya Pemkab OKI sudah berikan karpet merah kepada UMKM,” jelas dia.

Sosialisasi dan bimbingan teknik yang dilaksanakan dari tanggal 6 hingga 10 Juni 2022 dengan melatih pejabat pengadaan, para bendahara dan PPK serta memfasilitasi pengusaha lokal dan UMKM untuk go digital. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda