Pemkab Berupaya Wujudkan OKI Bebas Stunting

565

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) saat ini masuk menjadi salah satu kabupaten sedang menghadapi tantangan utama dalam percepatan penurunan angka stunting.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Bupati OKI, HM. Dja’far Shodiq SH pada saat memberikan kata sambutannya dalam acara rembuk stunting tingkat Kabupaten OKI tahun 2019, di Gedung Kesenian Kayuagung, Selasa (9/7/2019).

Pada kegiatan yang mengambil tema ‘Dengan Rembuk Stunting Kita Tingkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Yang Sehat, Cerdas Dan Berprestasi’ ini, wabup mengatakan, Pemkab OKI sendiri menyambut baik kegiatan ini, mengingat Indonesia dan khususnya Kabupaten OKI masuk dalam 160 kabupaten yang sedang menghadapi tantangan utama dalam percepatan penurunan angka stunting.

“Isu stunting atau gizi buruk menjadi perhatian serius pemerintah. Negara Indonesia ditetapkan sebagai salah satu negara dengan penderita stunting yang tinggi di dunia. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengurangi prevalensi gagal tumbuh melalui program-program anti stunting antar kementerian, pemerintah nasional dan pemerintah daerah,” katanya.

Riset kesehatan dasar (riskesdas) 2013 memperkirakan hampir 9 juta anak di Indonesia atau sepertiga dari seluruh anak berusia di bawah lima tahun mengalami gagal tumbuh (stunting).

“Salah satu komitmen pemerintah daerah dengan adanya konvergensi percepatan penurunan stunting yaitu intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu dan bersama-sama menyasar kelompok sasaran prioritas di desa,” ungkapnya.

Pencegahan stunting dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik meliputi kecukupan asupan makanan dan gizi, pemberian makanan, perawatan, pola asuh dan pengobatan infeksi/penyakit. Sedangkan intervensi gizi sensitif mencakup peningkatan akses pangan bergizi, peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan ibu dan anak, peningkatan akses, kualitas pelayanan gizi dan kesehatan serta peningkatan penyediaan air bersih dan sarana sanitasi.

“Upaya percepatan pencegahan stunting akan lebih efektif bila intervensi gizi spesifik dan sensitif dilakukan secara konvergen,” bebernya.

Upaya dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga pemantauan dan evaluasi program/kegiatan. Saat ini ada lima (5) pilar penting yang harus dilakukan agar semua program stunting bisa sukses berjalan, yaitu komitmen, kampanye, konvergensi program, akses pangan bergizi dan monitoring program.

Kabupaten Ogan Komering Ilir telah melakukan upaya komitmen, dimana ditahap awal telah terbitnya peraturan bupati nomor : 342 /kep/dinkes tahun 2018 tentang pembentukan tim koordinasi penanggulangan, pencegahan dan intervensi stunting di Kabupaten Ogan Komering Ilir, surat edaran nomor 779/kep/dinkes/2018 tentang implementasi komunikasi perubahan perilaku masyarakat.

Dalam pelaksanaannya upaya konvergensi percepatan pencegahan stunting agar tercapai secara efektif dan efisien, perlu dilakukan 8 (delapan) aksi konvergensi yaitu:

  1. Analisis situasi.
  2. Rencana kegiatan.
  3. Rembuk stunting.
  4. Perbup tentang peran desa.
  5. Pembinaan kader pembangunan manusia.
  6. Sistem managemen data.
  7. Pengukuran dan publikasi data stunting.
  8. Review kinerja.

Permasalahan stunting tidak dapat diselesaikan oleh jajaran Dinas Kesehatan semata, melainkan perlu didukung peran serta berbagai pihak, baik lintas sektor, organisasi masyarakat dan dunia usaha. Seluruh OPD terkait program stunting harus lebih sering duduk bersama agar konvergensi bisa terwujud.

“Di aksi 1 tahun 2018 dan 2019, Kabupaten Ogan Komering Ilir telah melakukan analisis situasi, terutama di 10 desa fokus stunting, yakni Desa Jambu Ilir, Tanjung Merindu, Tanjung Beringin, Sukarami, Muara Telang, Benawa, Sugih Waras, Tanjung Sari 1, Sukadamai,” jelasnya.

Kemudian analisi situasi juga dilakukan diseluruh desa di Kabupaten OKI, sehingga didapatkan desa-desa baru yang berpotensi menjadi desa fokus di tahun 2020. Dengan kerjasama dan dukungan dari berbagai sektor, diharapkan angka stunting di Kabupaten OKI dapat diturunkan, bahkan menjadikan Kabupaten OKI bebas stunting.

“Sejalan dengan itu angka stunting di Kabupaten OKI telah mengalami penurunan dari tahun 2015 di 34,7 %; tahun 2016 menjadi 29,2%, tahun 2017 turun 22,5%. Sedangkan untuk jumlah kematian ibu juga mengalami penurunan dari tahun 2015 sebanyak 18 kasus, tahun 2016 ada 8 kasus, dan 2017 sebanyak 2 kasus. Begitu juga dengan kematian bayi, pada tahun 2015 ada 49 kasus, tahun 2016 ada 43 kasus dan tahun 2017 sebanyak 33 kasus,” katanya sembari menututrkan, pada kesempatan yang baik ini, ia sampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada semua penggerak upaya pencegahan stunting di Kabupaten OKI yang telah melakukan berbagai upaya dan inovasi program demi Kabupaten OKI bebas stunting di tahun 2023.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan OKI, HM. Lubis, M.Kes mengatakan, sebagian masyarakat belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek dari standar usianya.

Penurunan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk memghindari dampak jangka panjang yang merugikan, seperti terhambatnya tumbuh kembang anak. Stunting mempengaruhi perkembagan otak sehingga kecerdasan anak tidak maksimal. Hal inti beresiko menurunkan produktifitas pada saat dewasa. Stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit. Anak stunting beresito lebih tinggi menderita penyakit kronis dimasa dewasanya.

“Bahkan stunting dan berbagai bentuk masalah gizi diperkirakan berkontribusi pada hilangnya 2-3% produk domestic bruto (PDB) setiap tahunnya,” kata Lubis.

Rembuk stunting merupakan suatu langkah penting yang harus dilakukan Pemerintah Kabupaten OKl untuk memastikan terjadinya integrasi pelaksanaan intervensi penurunan stunting bersama-sama antara OPD penanggung jawab layanan dengan sektor non pemerintah dan masyarakat dengan tema ‘tingkatkan kualitas pelayanan 1000 HPK’. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda