Menyiapkan Generasi Tangguh untuk Indonesia Maju

102

Oleh: Wantutriyani, S.Tr.Stat (Statistisi Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta)

BERITAANDA – Adanya pandemi Covid-19 membuat perayaan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli menjadi sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Perayaan Hari Anak Nasional pada tahun ini didesain dengan sistem virtual, dikarenakan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.

Tema yang diangkat pada perayaan Hari Anak Nasional tahun ini adalah ‘Anak Terlindungi, Indonesia Maju’. Perayaan ini diharapakan dapat menjadi momentum yang tepat untuk menyiapkan generasi baru yang tangguh dan siap untuk menghadapi era new normal.

Lalu sudah siapkah bekal mereka untuk menghadapi masa depannya?

Potret Pendidikan di Indonesia

Pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi bagi anak untuk menghadapi masa depannya dan juga masa depan bangsa ini. Pendidikan menjadi pegangan dalam menghadapi persaingan dunia yang cukup menantang dengan diikuti perubahan yang dinamis. Pembangunan di bidang pendidikan telah disepakati oleh oleh pemimpin-pemimpin dunia yang tertuang dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu ‘menjamin pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara serta meningkatkan kesempatan belajar seumur hidup bagi semua’.

Fokus utama dalam pembangunan pendidikan saat ini masih pada peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2019, persentase penduduk berumur 5 tahun ke atas yang tidak / belum pernah sekolah sebesar 6,4 persen dan didominasi di daerah pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa belum semua anak di Indonesia mendapatkan hak pendidikannya terlebih bagi mereka yang berada di desa.

Melihat hal tersebut tentunya pemerintah harus menaruh perhatian lebih ekstra, khususnya untuk daerah pedesaan dalam meningkatkan baik kualitas maupun fasilitas pendidikan agar semua anak dapat merasakan bangku pendidikan.

Salah satu agenda pembangunan di bidang pendidikan yang digaungkan oleh pemerintah adalah Program Indonesia Pintar. Wacananya program tersebut akan memberlakukan wajib belajar 12 tahun untuk memenuhi hak pendidikan bagi seluruh anak di Indonesia tanpa terkecuali agar dapat menyelesaikan pendidikan dasar sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD 1945.

Namun jika dilihat dari Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) di Indonesia pada tahun 2019 berkisar di angka 8,34 tahun. RLS mengindikasikan rata-rata jumlah tahun yang dicapai oleh penduduk di suatu daerah dalam menjalani pendidikan formal. Artinya secara rata-rata penduduk Indonesia telah mengenyam pendidikan formal selama 8,34 tahun atau dapat dikatakan bahwa jenjang pendidikan yang ditamatkannya hanya berada di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini tentunya masih jauh dari standar wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan pemerintah.

Indikator lain untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan dapat dilihat melalui Angka Partisipasi Kasar (APK). Nilai APK menunjukkan seberapa besar tingkat partisipasi penduduk pada suatu tingkat pendidikan. Hampir seluruh provinsi di Indonesia sudah mencapai APK untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) lebih dari 100 persen, kecuali Provinsi Papua dengan APK yang hanya mencapai 91,94 persen. Bahkan Provinsi Papua juga mengantongi nilai terendah APK untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) / sederajat dibanding provinsi lainnya di Indonesia dan nilainya pun masih jauh dari nilai APK nasional. Hal ini menandakan pemerintah masih memiliki ‘pekerjaan rumah’ untuk memeratakan pendidikan di Indonesia bagian timur tersebut agar dapat mengejar ketertinggalannya dengan daerah lain.

Pembangunan infrastruktur berupa fasilitas pendidikan serta alokasi kebutuhan tenaga pengajar masih menjadi aspek penting yang dibutuhkan dalam menunjang pendidikan di Pulau Cendrawasih tersebut.

Faktor Ekonomi

Tidak dapat dipungkiri perekonomian dalam suatu keluarga juga turut menentukan pendidikan anak dalam keluarga tersebut. Realitanya pun pendidikan ‘gratis’ di Indonesia juga masih belum dapat terlaksana sepenuhnya. Walaupun memang biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) di beberapa jenjang pendidikan telah ditiadakan, akan tetapi nyatanya pendidikan juga masih membutuhkan biaya ekstra seperti buku pelajaran hingga media penunjang pembelajaran lain yang tidak difasilitasi oleh pihak sekolah. Terlebih dengan kondisi saat ini yang mengharuskan kita hidup berdampingan dengan Covid-19, membuat gerak kita terbatas dalam menjalani rutinitas, termasuk kegiatan pendidikan di dalamnya.

Munculnya pandemi Covid-19 membuat pembelajaran dilakukan secara daring, dimana dalam praktiknya tentu membutuhkan media seperti laptop, smartphone, hingga paket data yang cukup. Ketika perekonomian suatu keluarga tersendat, dimana kebutuhan sehari-hari semakin hari semakin meningkat, maka tentunya secara tidak langsung juga akan menghambat proses pendidikan anak tersebut.

Hal ini dibuktikan dengan hasil olah data Susenas tahun 2019 dimana masih terdapat kesenjangan pendidikan anak yang tinggal di rumah tangga dengan status ekonomi yang berbeda. Kesenjangan yang paling besar terlihat di jenjang pendidikan Perguruan Tinggi (PT). Nilai APK untuk PT pada rumah tangga dengan status ekonomi rendah hanya sebesar 9,58 persen, sedangkan untuk rumah tangga dengan status ekonomi tinggi sebesar 51,28 persen. Hal ini memperlihatkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, kebutuhan biaya pendidikan yang dibutuhkan pun akan semakin meningkat sehingga membuat orang tua berpikir dua kali untuk memfasilitasi pendidikan yang lebih tinggi untuk anaknya.

Sangat disayangkan apabila generasi muda terhambat dalam mengembangkan potensi diri mereka hanya karena mahalnya biaya pendidikan yang ada.

Peluang dan Tantangan di Era Digital

Anak di era digital ini merupakan aset bagi bangsa. Era digital menawarkan peluang tersendiri bagi anak muda untuk dapat mengembangkan kapasitas dirinya. Dengan perkembangan digitalisasi yang ada seharusnya mampu dimanfaatkan dengan baik oleh orangtua dalam membesarkan anak-anaknya.

Saat ini anak-anak sudah banyak yang melek internet. Penelitian yang dilakukan UNICEF pada tahun 2019 menunjukkan bahwa anak-anak dapat menghabiskan lima hingga tujuh jam dalam sehari untuk mengakses internet. Internet menjadi sumber dari segala informasi, membuka peluang bagi anak untuk belajar, bermain, hingga bersosialisasi. Terlebih dengan hadirnya pandemi Covid19 mengharuskan anak untuk tetap di rumah saja dan cenderung lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menggunakan gawainya untuk mengakses internet. Di sisi lain banyak orang tua yang mengkhawatirkan anak-anak mereka terpapar konten berbahaya dalam menggunakan teknologi digital tersebut.

Oleh karena itu, diperlukan bukan hanya kesadaran, melainkan juga komitmen bersama untuk memaksimalkan penggunaan teknologi pada anak pada hal-hal yang positif. Jadi orang tua pun mau tidak mau harus melek internet juga agar dapat mengawasi sekaligus mengawal anaknya dalam hal penggunaan gawai untuk mengakses internet.

Pemahaman akan literasi digital sangat penting baik bagi anak maupun orang tua agar dapat menjadikan mereka lebih peka dalam menyikapi informasi yang mereka dapatkan maupun sebarkan. Hal tersebut sangat penting, mengingat saat ini informasi sangat cepat menyebar melalui internet. Edukasi penggunaan internet secara bertanggung jawab, aman, inspiratif, dan kreatif sangat penting dimiliki orangtua agar dapat mencari formulasi yang tepat dalam memberikan pemahaman kepada anak tentang internet.

Mendidik anak sesuai zamannya sangat penting dilakukan oleh orang tua. Tidak boleh membatasi terlalu ketat dan juga tidak boleh bersikap terlalu luwes sehingga lengah. Biarkan anak-anak hidup sesuai eranya. Dengan sistem pembelajaran daring yang berlangsung saat ini, orangtua ditantang mampu atau tidak untuk menjadi fasilitator pendidikan kepada anaknya dalam memahami materimateri pelajaran yang juga dikolaborasikan dengan penggunaan teknologi dan internet di dalamnya. Kini orangtua memegang peranan penting untuk menyiapkan anaknya menjadigenerasi tangguh penerus bangsa ini.

Bagaimana Menurut Anda