Ini Klarifikasi Judul Berita Tribun Pontianak, Polres Sekadau: Tidak Ada Pembakar Lahan Ditahan

80
Redaksi Tribun Pontianak, Didik Widodo menyampaikan klarifikasi judul berita dihadapan jajaran Polres dan DAD serta wartawan media, Selasa (21/9) siang. (BERITAANDA.NET)

SEKADAU-KALBAR, BERITAANDA – Kepolisian Resor Sekadau bersama Sekretaris Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar dan Ketua DAD Sekadau serta redaksi media Tribun Pontianak melaksanakan press release kepada sejumlah wartawan di Sekadau, Selasa [21/9].

Konferensi pers ini dilaksanakan untuk mengklarifikasi judul berita di media Tribun Pontianak, terkait ditahannya dua peladang dalam kasus karhutla oleh polisi.

Kapolres Sekadau melalui Wakapolres Kompol Aminudin SIK menerangkan, terkait pemberitaan di Tribun Pontianak mengenai penahanan kedua pelaku pembakaran lahan (karhutla) oleh Polres Sekadau itu tidak benar.

“Pemberitaan ini telah meluas ke masyarakat di Kalbar dan luar Kalbar, sehingga muncul persepsi masyarakat bahwa Polres Sekadau melakukan penahanan kepada pelaku pembakar lahan,” beber Wakapolres.

Untuk itu, kata dia, Polres Sekadau meminta adanya klarifikasi oleh managemen media Tribun Pontianak. Waka juga menyampaikan penekanan Kapolres dengan adanya klarifikasi pemberitaan ini, diharapkan seluruh elemen masyarakat tidak membuat pernyataan di media sosial.

Sementara, managemen Tribun Pontianak yang diwakili Didit Widodo selaku redaksi, menyampaikan permohonan maaf pihaknya kepada Polres dan masyarakat Sekadau.

“Terkait pemberitaan dengan judul dua pelaku pembakar ladang ditahan Polres Sekadau, hal ini berbeda dengan data yang diperoleh wartawan kami saat konferensi pers beberapa waktu lalu,” ujar Didik.

Menurit Didik, proses jurnalistik yang masuk ke redaksi menjadi ranah penuh redaksi. “Prodak jurnalistik yang salah dijawab dengan prodak jurnalistik, dengan klarifikasi pemberitaan, sesuai UU Pers 40 Tahun 1999,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris DAD Kalbar Gloria Sanen menerangkan, dirinya secara pribadi ketika mengetahui adanya pemberitaan peladang ditahan Polres Sekadau, langsung mengkonfirmasi ke Kabag Ops, dan mendapat jawaban tidak ada peladang yang ditahan.

“Saya mengusulkan kepada Kabag Ops Polres Sekadau untuk meluruskan pemberitaan Tribun Pontianak,” beber Sanen.

Ditegaskan Sanen, terkait pemberitaan media Tribun Pontianak, isi berita proses peladang dan judul tidak sinkron. Dimana pada bagian judul tertulis peladang ditahan oleh Polres, sedangkan di isi pemberitaan dinyatakan tidak adanya penahanan kepada peladang.

“Mengenai peroses kepada peladang yang melakukan pembakaran lahan, berpatokan pada Perbub 103 Tahun 2020, sanksi yang diberikan kepada peladang adalah sanksi administrasi,” terang Sanen.

Ia juga menyampaikan permintaan Ketua DAD Kalbar agar semua masyarakat menahan diri dan mempercayai proses peladang ini kepada DAD dan pihak lainnya. “DAD akan melakukan pendampingan secara advokasi. DAD akan menjadi garda terdepan untuk advokasi para peladang,” tegasnya.

Ketua DAD Sekadau, Welbertus Willy menegaskan, semuanya telah mendengar klarifikasi oleh pihak Tribun Pontianak. “Apa yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang tertulis di judul pemberitaan,” ungkap Willy.

Ia menegaskan, dua peladang tidak dilakukan tindakan hukum, dan hanya diberlakukan sanksi administrasi. “Agar hasil konferensi pers ini disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk pemberitaan untuk klarifikasi berita,” pintanya.

Tak lupa, dirinya mengimbau semua pihak bersama – sama menjaga situasi kondusif di Kabupaten Sekadau. “Kepada rekan media supaya berhati-hati dalam membuat pemberitaan di media,” pesan dia.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Sekadau pada 9 September lalu mengadakan konferensi pers beberapa penanganan kasus, termasuk karhutla yang terjadi di dua desa di Kecamatan Belitang Hulu dengan dua pelaku yang juga peladang.

Dalam keteranganya, Kapolres AKBP Kayuswan Trie Panungko SIK saat itu menegaskan kepada kedua peladang tidak dilakukan penahanan, didasari oleh pertimbangan penyidik dan situasi kamtibmas di masyarakat.

Namun, media Tribun Pontianak pada pemberitaan terakit kejadian tersebut yang diekspos pada Ahad 19 September kemarin, membuat judul yang berbeda dengan keterangan Kapolres. Berita itu kemudian mendapatkan berbagai tanggapan dari masyarakat dan unsur ormas kemasyarakatan di Kalbar dan luar Kalbar. (Arni)

Bagaimana Menurut Anda