Gubernur Mirzani Dorong Hilirisasi Peternakan, Lampung Ditarget Jadi Lumbung Pangan Berdaya Saing

25

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menjadi keynote speaker dalam pelantikan Pengurus Wilayah Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Provinsi Lampung periode 2026–2031 yang dirangkaikan dengan diskusi hilirisasi peternakan di Hostel Aston, Sabtu (9/5/2026).

Dalam sambutannya, Mirzani menegaskan pentingnya peran ISPI sebagai mitra strategis pemerintah daerah, terutama dalam mendorong transformasi sektor peternakan dari hulu hingga hilir. Ia berharap kepengurusan baru mampu menghadirkan inovasi dan memperkuat kontribusi profesi dalam pembangunan ekonomi daerah.

Menurut Mirzani, Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk pengembangan sektor pertanian dan peternakan. Dengan luas wilayah sekitar 3,3 juta hektare, sebagian besar lahan dinilai produktif dan dapat dioptimalkan untuk mendukung produksi pangan.

“Lampung dianugerahi sumber daya yang sangat besar. Hampir seluruh wilayahnya bisa ditanami dan dikembangkan untuk berbagai komoditas,” ujarnya.

Ia menyebut sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Dari sekitar 9 juta penduduk Lampung, sekitar 75 persen bergantung pada sektor tersebut.

Komoditas unggulan seperti padi, jagung, singkong, dan hortikultura dinilai memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi daerah maupun nasional. Produksi padi Lampung disebut mencapai lebih dari 3 juta ton per tahun dengan tingkat konsumsi yang lebih rendah sehingga menghasilkan surplus. Sementara itu, produksi jagung yang sebagian besar digunakan untuk pakan ternak juga dinilai memiliki potensi besar, meski distribusi dan serapan pasar masih perlu ditingkatkan.

Mirzani turut menyoroti pentingnya hilirisasi di sektor peternakan, khususnya dalam pengolahan pakan dan produk turunan. Menurutnya, selama ini banyak komoditas masih dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah ekonomi belum optimal dirasakan petani dan peternak.

“Ke depan, kita ingin komoditas tidak lagi keluar dalam bentuk bahan mentah. Harus ada pengolahan di daerah agar nilai tambahnya dinikmati masyarakat Lampung,” katanya.

Selain itu, Mirzani menilai pendekatan pembangunan ekonomi yang kini lebih berorientasi dari bawah (bottom-up) mulai memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani, termasuk melalui membaiknya harga komoditas seperti padi dan jagung.

Ia juga mengklaim pertumbuhan ekonomi Lampung menunjukkan tren positif. Pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Lampung tercatat sekitar 5,58 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata sebelumnya.

Peningkatan daya beli masyarakat, lanjutnya, terlihat dari meningkatnya penjualan kendaraan di wilayah berbasis pertanian. Di sisi lain, angka kemiskinan di Lampung juga disebut turun signifikan dalam setahun terakhir, dari sekitar 10,56 persen menjadi 9,6 persen.

Meski demikian, Mirzani mengakui tantangan hilirisasi masih cukup besar, terutama terkait infrastruktur, distribusi, dan investasi industri pengolahan. Karena itu, ia menilai organisasi profesi seperti ISPI memiliki peran penting dalam mendorong inovasi teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas sektor.

Diakhir sambutannya, Mirzani mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk akademisi dan praktisi peternakan, untuk bersama-sama memperkuat sektor peternakan sebagai fondasi ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kita tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah kolaborasi dan keberanian untuk mengubah cara kerja, agar Lampung benar-benar menjadi lumbung pangan yang berdaya saing,” tandasnya. (Katharina)

Bagaimana Menurut Anda