Dua Penerbangan di Bandara SMB II Palembang Terganggu Kabut Asap Karhutla

15

PALEMBANG, BERITAANDA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) mulai berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.

PGS Executive General Manager Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Tubagus Gemal Syahir mengatakan, hingga saat ini tercatat dua penerbangan yang terdampak langsung akibat menurunnya jarak pandang.

Gangguan pertama terjadi pada penerbangan Garuda Indonesia rute Palembang-Cengkareng pada 23 Agustus 2026. Pesawat mengalami keterlambatan karena jarak pandang di Bandara SMB II Palembang hanya sekitar 500 meter.

“Standar keselamatan untuk proses lepas landas minimal 700 meter. Saat itu jarak pandang hanya sekitar 500 meter sehingga penerbangan mengalami keterlambatan,” kata Tubagus, Selasa (1/9/2026).

Gangguan kembali terjadi pada 29 Agustus 2026. Pesawat Citilink dengan rute Cengkareng-Palembang harus menunda pendaratan karena jarak pandang hanya sekitar 1.200 meter. Sementara, standar keselamatan untuk pendaratan minimal 1.700 meter.

“Untuk landing standarnya 1.700 meter, sedangkan kemarin hanya 1.200 meter sehingga penerbangan harus ditunda,” ujarnya.

Meski terdapat dua penerbangan yang terdampak, Tubagus memastikan secara keseluruhan operasional penerbangan di Bandara SMB II Palembang masih berjalan normal dan lancar.

Selain dua penerbangan yang terdampak langsung, Bandara SMB II Palembang juga sempat menerima enam penerbangan divert atau pengalihan penerbangan dari tujuan awal.

Enam pesawat tersebut sebelumnya dijadwalkan menuju Jambi. Namun, penerbangan dialihkan ke Palembang karena kondisi kabut asap di Jambi menyebabkan pesawat tidak dapat mendarat di Bandara Jambi.

“Karena Palembang menjadi salah satu bandara yang terdekat, kita melayani divert tersebut dan semuanya berjalan lancar,” jelas Tubagus.

Menurutnya, potensi gangguan penerbangan akibat kabut asap umumnya lebih besar pada pagi hari. Kondisi kabut asap biasanya lebih pekat pada pagi hari dan berangsur menipis setelah memasuki siang.

“Biasanya pagi hari kabut asap lebih pekat. Setelah agak siang, kabut asap berangsur tipis sehingga jarak pandang lebih jauh,” katanya.

Untuk itu, calon penumpang diimbau terus memantau dan memperbarui informasi terkait jadwal penerbangan sebelum menuju bandara.

Apabila terjadi keterlambatan atau gangguan penerbangan, penanganan penumpang dilakukan oleh masing-masing maskapai sesuai ketentuan yang berlaku. Penumpang dapat mengikuti jadwal penerbangan berikutnya atau membatalkan penerbangan dengan mekanisme pengembalian dana tiket sesuai kebijakan maskapai.

Sementara itu, General Manager Garuda Indonesia Cabang Palembang Yona Wahyuni, membenarkan adanya satu penerbangan Garuda Indonesia yang mengalami keterlambatan akibat kabut asap.

“Alhamdulillah cuma satu pesawat delay. Delay-nya hanya satu jam, sehingga pesawat dijadwalkan ulang terbang satu jam kemudian. Penerbangan berikutnya lancar dan tidak terdampak,” ujar Yona. (Febri)

Bagaimana Menurut Anda