Saat Way Kambas Belajar Berdamai dengan Gajah: Dari Lebah, Serai Hingga Mahot ke Thailand

3

LAMPUNG TIMUR, BERITAANDA – Bagaimana jika salah satu cara menghadapi gajah bukan dengan mengusirnya, melainkan membuat lahan warga menjadi kurang menarik untuk didatangi?

Pertanyaan itu kini menjadi bagian dari upaya mencari solusi atas konflik manusia dan gajah di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.

Lebah dan tanaman serai mulai dikembangkan sebagai bagian dari strategi mitigasi. Di sisi lain, cara manusia berinteraksi dengan gajah juga mulai diubah, salah satunya dengan mengirim mahot untuk belajar ke Thailand.

Sejumlah penelitian menunjukkan gajah memiliki respons menghindar ketika menghadapi koloni lebah yang terganggu. Dengungan lebah dapat memicu kewaspadaan sehingga gajah cenderung menjauh.

Pendekatan menggunakan sarang lebah bahkan telah diterapkan untuk melindungi lahan pertanian dari serbuan gajah di sejumlah negara.

Menariknya, metode tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghalau alami. Masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi dari madu yang dihasilkan.

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen Sriyanto mengatakan, sekitar 900 kotak lebah yang sebelumnya diberikan kepada masyarakat kini telah menghasilkan panen.

“Sekarang sudah mulai pemecahan koloni. Kalau kemarin kita lihat semua boks yang kita serahkan, minggu depan mungkin sudah menjadi 1.500 boks lebah,” kata Sriyanto di TNWK, Selasa (1/9/2026).

Menurut Sriyanto, budidaya lebah tersebut nantinya dikelola masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan secara langsung.

Sriyanto mengatakan sebagian tanaman mengalami kendala akibat kondisi cuaca. Namun, tanaman yang masih memungkinkan untuk dikembangkan akan terus dipelihara, sementara penanaman berikutnya menunggu kondisi yang lebih mendukung.

“Serai pun sangat bermanfaat. Kita sudah memesan mesin untuk penyulingan serai,” ujar Sriyanto.

Hasil penyulingan serai nantinya berupa minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk, seperti sabun, pengharum, hingga aromaterapi.

Dengan pola ini, upaya meredam konflik tidak berhenti pada bagaimana menjauhkan gajah dari lahan warga. Masyarakat juga diberikan alternatif usaha yang dapat menghasilkan nilai ekonomi tanpa harus berhadapan langsung dengan gajah.

Perubahan berikutnya justru menyasar manusia yang sehari-hari berhadapan langsung dengan gajah. Balai TNWK kini mengirim mahot untuk mengikuti pelatihan di Elephant Nature Park (ENP), Thailand.

Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari perubahan pendekatan dalam menangani gajah.

“Ke depan kita akan berusaha bahwa tidak ada lagi gajah yang dirantai. Jadi model pendekatan antara pawang dengan gajah nanti akan berubah,” kata Zaidi.

Menurut dia, hubungan antara mahot dan gajah tidak seharusnya dibangun atas dasar rasa takut.

“Kalau dulu mungkin pendekatan antara mahot dengan gajah itu dengan unsur bahwa gajahnya takut dengan mahot. Ke depan enggak, bukan begitu. Hubungannya adalah hubungan harmonis,” ujarnya.

Pelatihan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Setelah mahot yang saat ini mengikuti pelatihan kembali ke Way Kambas, TNWK berencana mengirim peserta berikutnya. Bahkan, pelatih dari Thailand diharapkan dapat datang langsung ke Way Kambas untuk memberikan pelatihan kepada para mahot di lapangan.

Jika lebah dan serai merupakan pendekatan berbasis masyarakat, sementara pelatihan mahot menyasar perubahan perilaku manusia, TNWK juga menyiapkan perlindungan fisik. Tanggul pembatas dibangun di sejumlah area yang dinilai rawan menjadi jalur keluar-masuk gajah.

Sriyanto menyebut pembangunan tanggul menjadi salah satu pekerjaan kritis karena sebagian wilayah memiliki kondisi tanah labil serta berbatasan dengan sungai dan daerah aliran sungai (DAS).

“Tanggul ini merupakan faktor kritis yang jadi perhatian. Karena kalau dilihat di bagian utara, itu tanahnya labil, berbatasan dengan sungai dan kawasan DAS. Itu tantangan bagi kita,” katanya.

Pembangunan tanggul ditargetkan rampung pada pekan kedua September dan akan mendapatkan pemeliharaan selama 12 bulan.

Di tengah berbagai upaya tersebut, revitalisasi TNWK tetap berjalan. Progres keseluruhan pembangunan saat ini mencapai 75,81 persen. Namun, bagi pengelola TNWK, pembangunan fisik tersebut pada akhirnya harus berjalan seiring dengan perubahan yang lebih besar dalam pengelolaan gajah.

Zaidi mengatakan pola interaksi wisatawan dengan gajah juga akan ditata kembali setelah revitalisasi selesai.

“Mungkin nanti kita akan dengan model revitalisasi yang baru, kita akan buat skema model interaksi yang baru. Jadi mungkin tidak lagi seperti dulu,” kata Zaidi.

Dengan demikian, wajah baru Way Kambas nantinya bukan hanya soal bangunan dan fasilitas wisata. Ada pekerjaan yang jauh lebih mendasar: mengubah cara manusia berhadapan dengan gajah—dari saling menghalau menjadi mencari ruang untuk hidup berdampingan. (*)

Bagaimana Menurut Anda