Didit Ahady, dari Berjualan Ikan Hias Hingga Menjadi Pemusik Handal di Kota Bandar Lampung

523

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Didit Ahady adalah seorang musisi yang bisa memainkan beberapa alat musik. Laki-laki bertutur halus dan berpenampilan tenang ini mengisahkan bagaimana dirinya saat ini bisa menjadi seorang musisi pengiring (player) dari sejak awal karirnya.

Diawal perbincangan dengan BERITAANDA, ia mengatakan, pernah berjualan ikan hias dan bibit ikan gurame di seputaran Jalan Sultan Agung, Way Halim, Kota Bandar Lampung, saat kali pertama hijrah dari Kota Baturaja Kabupaten OKU Provinsi Sumsel ke Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung.

“Saya mulai mengenal musik bermula dari keyboard pemberian ibunda, sebagai hadiah mau dikhitan saat berusia 5 tahun,” tutur Didit mengawali kisahnya.

Saat duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan pertama (SMP), dirinya tinggal di Baturaja Sumsel. Akan tetapi, meski ia banyak memiliki prestasi di bidang musik, namun tidak berkembang. Oleh sebab itu, dirinya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMA di Bandung, kota kelahirannya.

Di SMA Karya Pembangunan 2 Bandung, banyak teman-teman seangkatannya yang hobi bermusik. Kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya pun sangat mendukung.

“Hari-hari di Bandung saya jalani dengan bermusik. Ngamen dan cari uang. Juga sebagai anak asuh dari pemusik profesional Kota Bandung, Kang Hari Roesli. Disana, sama halnya dengan pegawai, kita diajarkan untuk disiplin waktu dan profesional,” ucap dia.

Lulus SMA, kata dia, sang ayah menginginkannya untuk kuliah di APDN (saat ini bernama STPDN), kemudian diterima. Namun karena pendidikannya pada waktu itu sangat keras, hatinya berkata lain dan memutuskan untuk keluar, kemudian kabur dari asrama.

Selanjutnya, Didit kembali melanjutkan pendidikan di FISIP Universitas Pasundan jurusan Administrasi Negara hingga menyandang gelar sarjana.

“Semasa kuliah, saya tetap main musik secara ngamen ataupun reguler di hotel – hotel, pub atau cafe. Senang rasanya bisa cari uang sendiri. Karena rasa bangga yang amat sangat. Saya pernah berkata kepada ayah, ‘jangan dikirimi uang bulanan lagi, termasuk biaya kuliah’. Sebab waktu itu sudah bisa cari uang sendiri,” kenang dia.

Pada tahun 1996, dirinya kembali ke Kota Baturaja. Sangatlah mudah mencari kerja kalau punya keahlian. Berbagai instansi ataupun perusahaan sangat banyak yang menawarkan pekerjaan kepada dirinya.

“Satu persatu dicoba, tapi tidak ada yang cocok. Bekerja paling lama 5 bulan, kemudian keluar,” jelasnya.

Meski sudah menjadi pegawai, hari – harinya diisi dengan main musik, baik itu main band atau organ tunggal. Hasilnya lumayan tanpa menyebut nominalnya. Didit berkata, yang pasti cukup untuk modal nikah.

Dengan uang yang berhasil dikumpulkan, dirinya berhasil mendirikan studio musik untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Seiring berjalannya waktu, Didit memutuskan untuk pindah ke kota yang lebih besar. Dengan meninggalkan anak dan istrinya, dia hijrah ke Kota Bandar Lampung.

Di kota ini tak semudah yang ia bayangkan. Dengan tinggal menumpang di rumah saudara dan tidak punya penghasilan, akhirnya dia berjualan ikan hias dan bibit ikan gurame di seputaran Jalan Sultan Agung, Way Halim, Bandar Lampung.

Pada suatu hari, ada 2 orang pembeli ikan hias jualannya. Mereka berbincang-bincang, susah mencari seorang player untuk piano. Kepada merkalah dirinya menawarkan diri untuk menjadi player.

“Ternyata kedua orang tersebut adalah orang RRI, kemudian saya diminta datang esok harinya untuk menjalani berbagai macam tes, dan akhirnya diterima sebagai tenaga honorer di RRI,” jelas dia.

Berangsur – angsur ekonominya mulai membaik, ia pun memutuskan mengajak keluarganya untuk pindah ke Bandar Lampung.

Seiring dengan berjalannya waktu, ketika anak – anaknya sudah mulai sekolah dan kebutuhan meningkat, Didit memutuskan untuk mengambil reguler musik di hotel, cafe dan resto (Katrine)

Bagaimana Menurut Anda