Ayam dan Beras Sokong Inflasi Sumsel Tertinggi pada Agustus 2026

3

PALEMBANG, BERITAANDA – Harga daging ayam ras dan sejumlah komoditas pangan kembali menekan inflasi Sumatera Selatan (Sumsel). Pada Agustus 2026, inflasi bulanan Sumsel tercatat 0,06 persen (mtm), berbalik dari deflasi 0,24 persen pada Juli 2026.

Secara tahunan, inflasi Sumsel juga meningkat menjadi 2,60 persen (yoy) dari sebelumnya 2,50 persen (yoy). Kenaikan tersebut sejalan dengan inflasi nasional yang mencapai 3,19 persen (yoy), naik dari 2,88 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Selatan Bambang Pramono mengatakan, daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar inflasi Agustus, dengan andil mencapai 0,33 persen.

Selain ayam ras, tekanan inflasi juga berasal dari emas perhiasan sebesar 0,07 persen, beras 0,02 persen, kacang panjang 0,02 persen, dan jagung manis 0,01 persen.

Menurut Bambang, kenaikan harga ayam ras tidak terlepas dari gangguan pada sisi pasokan. Cuaca panas membuat pertumbuhan ayam tidak optimal sehingga masa pemeliharaan menjadi lebih panjang.

“Pertumbuhan ayam yang tidak optimal karena cuaca panas sehingga memperpanjang masa pemeliharaan. Akibatnya, pasokan berkurang dan harga naik karena minim pasokan,” ujar Bambang, Rabu (2/9/2026).

Disisi lain, harga emas perhiasan ikut terdorong naik akibat tingginya permintaan yang dipengaruhi penguatan harga emas global.

Tekanan juga datang dari komoditas beras. Berkurangnya pasokan dari petani di tengah permintaan yang masih tinggi membuat harga beras ikut terkerek.

“Harga beras naik karena pasokan kurang dan harga bahan baku plastik kemasan ikut naik karena dampak operasional MBG,” kata Bambang.

Bank Indonesia mengingatkan tekanan inflasi masih perlu diwaspadai pada bulan berikutnya. Pasalnya, kemarau yang diperkirakan masih berlangsung berpotensi mengganggu pasokan sejumlah komoditas pangan, terutama hortikultura.

“Akibatnya, pasokan pangan hortikultura turun karena kemarau dan gelombang panas sehingga harga akan naik lagi,” ujarnya.

Tekanan harga juga berpotensi semakin besar seiring normalisasi aktivitas sekolah yang kembali berjalan penuh. Kondisi tersebut diprakirakan meningkatkan permintaan sejumlah bahan pangan, terutama daging ayam ras dan telur ayam ras.

Komoditas emas juga masih berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi seiring perkembangan harga emas di pasar global.

Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.

Hingga akhir Agustus 2026, lebih dari 385 kegiatan operasi pasar murah telah dilaksanakan di berbagai wilayah Sumatera Selatan. Selain itu, puluhan inspeksi mendadak (sidak) pasar dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok sekaligus kepatuhan terhadap harga eceran tertinggi.

“Ini bagian dari upaya menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia dengan harga yang terjangkau,” tutup Bambang. (Febri)

Bagaimana Menurut Anda