Usai Reses, Herman Jaya Harefa Dorong Pemerintah Daerah Bantu Permasalahan Warga

270

GUNUNGSITOLI-SUMUT, BERITAANDA – Usai reses masa sidang I, Wakil Ketua DPRD Kota Gunungsitoli, Herman Jaya Harefa, mendorong pemerintah daerah untuk dapat membantu masyarakat terkait kelangkaan pupuk bersubsidi, masalah air bersih, persoalan listrik PLN yang hampir setiap hari padam, serta peningkatan perekonomian masyarakat melalui pertanian.

“Pada saat melaksanakan reses, kami mendengar keluhan dari masyarakat mengenai kelangkaan pupuk yang berimbas tanaman mereka tidak bisa bertumbuh dengan baik. Kemudian masalah air bersih yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat, keluhan tentang PLN yang sering kali padam. Pemerintah diharapkan aktif dalam melakukan koordinasi terkait pemadaman lampu ini, dan mencari solusi secara bersama-sama dengan pihak PLN,” ungkap Herman Jaya Harefa ketika ditemui di ruang kerjanya di Kantor DPRD Kota Gunungsitoli, Selasa (18/2/2020).

Terkait dengan masalah ekonomi, Herman Jaya Harefa mendorong para kepala desa dan BPD mulai tahun 2020 lebih inovatif dan kreatif dalam mengalokasikan dana desa ke arah pemberdayaan dengan membentuk atau mengaktifkan BUMDes, mengidentifikasi produk apa yang bisa ditanam di setiap desa oleh masyarakat, dan kemudian ditampung hasilnya oleh BUMDes untuk dijual ke pasar.

“Kita harus menyadari bahwa anggaran pemerintah daerah sangat terbatas, karena ruang fiskal yang terbatas, sehingga melalui dana desa ada alokasi anggaran yang tidak hanya fokus kepada infrastruktur tetapi dialokasikan sebagian ke pemberdayaan masyarakat,” kata dia.

Selaku koordinator Komisi I DPRD Kota Gunungsitoli yang kebetulan bermitra dengan pemerintahan desa, Herman Jaya Harefa mendorong agar setiap desa memiliki produk pertanian yang tidak sama dengan desa lain. Identifikasi kebutuhan pasar mulai dari sayur, cabe, bawang, jahe, kunyit, buah pepaya, timun dan berbagai tanaman lainnya untuk ditanam dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Gunungsitoli dan jika bisa seluruh Pulau Nias.

“Sekarang ini kita mengimpor semua dari luar daerah untuk seluruh kebutuhan. Saya kira saatnya masyarakat Kota Gunungsitoli dapat memulai pertanian yang serius dan sungguh-sungguh untuk memenuhi kebutuhan lokal kita tanpa harus membeli dari luar daerah. Kuncinya adalah sungguh-sungguh, mau bekerja serta tidak menanam produk yang sama dengan desa-desa lain, agar produksi tidak melebihi kebutuhan pasar dan harga tetap terjaga,” imbaunya.

Herman berharap pemerintah daerah melalui dinas pemberdayaan masyarakat desa dan kelurahan, dapat mengalokasikan dana di tahun 2021 untuk pelatihan secara berkesinambungan personel BUMDes di setiap desa, serta pelatihan kepada para pendamping desa dalam meningkatkan sumber daya manusia dalam mendampingi masyarakat desa guna mengembangkan pertanian dengan bekerjasama dengan BUMDes.

“Saya yakin jika pengembangan pertanian ini di 98 desa digerakan dengan sungguh-sungguh, maka PDRB dari sektor pertanian yang selama ini berada pada urutan ketiga dengan angka 14 persen akan meningkat dan akan bersaing dengan PDRB dari sektor perdagangan/perbengkelan yang 26 persen, serta dari sektor infrastruktur yang berada pada urutan kedua dengan persentase 23 persen,” paparnya.

Berdasarkan data statistik penghasilan rata-rata di Kota Gunungsitoli saat sekarang ini masih jauh dari rata-rata penghasilan di tingkat Sumatera Utara. Kota Gunungsitoli berada pada angka 35 jutaan setiap tahun, sedangkan tingkat Sumatera Utara berada angka 51 jutaan.

“Ini menunjukkan bahwa penghasilan kita di Gunungsitoli jauh tertinggal. Sedangkan angka kemiskinan menurun dari 18 persen di tahun 2018, menjadi 16 persen di tahun 2016. Namun penurunan angka kemiskinan itu harus dikawal dengan membuka lapangan-lapangan pekerjaan yang baru,” pungkas dia. (Ganda)

Bagaimana Menurut Anda