Soekirman: Toleransi Antar Umat Beragama Sudah Membudaya di Zanzibar dan Tanzania

281

SERGAI-SUMUT, BERITAANDA – Meskipun pemeluk agama Hindu sangat minoritas di Zanzibar, para mufti dan pemerintah melarang warga Muslim memotong lembu di wilayah tempat tinggal warga Hindu.  Dan ini merupakan suatu bentuk toleransi kepada warga bagi agama yang tidak memotong dan mengkonsumsi daging lembu.

Demikian halnya dengan umat Muslim terhadap warga Nasrani saling mengucapkan selamat di setiap  hari besar keagamaan, serta saling kunjung dan mengirim makanan sebagai hadiah. Seperti yang disampaikan oleh Bupati Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) Ir. Soekirman dididampingi oleh Ketua TP PKK Sergai Hj. Marliah Soekirman dari Zanzibar City melalui WhatsApp (WA)-nya kepada BERITAANDA, Ahad (22/9/2019) Malam.

Soekirman juga memaparkan bahwa saat hari Natal, umat Muslim dikiirim makanan oleh warga Nasrani.  Begitu juga jika pada hari raya Idul Fitri, warga Nasrani mendapat kiriman kue dan makanan dari umat Muslim.

“Hubungan saling hormat menghormati merupakan kebiasaan dan sudah membudaya di kalangan para pemeluk agama di Zanzibar dan Tanzania secara umum. Bentuk toleransi yang dipelihara sejak abad ke-18 masa pemerintahan Sultan Oman, telah menjadi budaya yang turun temurun di Zanzibar,” ungkap Soekirman.

Kultur toleransi interfaith menjadi pertimbangan UEM (United Evangelical Mission) Germany memilih Zanzibar sebagai best practice, dan menempatkan Interreligious Peace Confrence di Zanzibar, yang dibuka oleh Vice President Amb.Seif A.Iddy di Zanzibar Beach Resort, 19-23 September 2019. Konferensi ini diikuti sekitar 70 orang dari 11 negara Afrika, Asia, dan Eropa.

Penduduk Zanzibar sekitar 1,5 juta dan 95% beragama Islam, masyarakat Kristen dan Hindu merupakan minoritas karena jumlahnya hanya beberapa persen. Mayoritas sangat melindungi kaum minoritas, dimana peran pemerintah memberi kebebasan kepada rakyat untuk memilih agama dan kepercayaan masing-masing.

Sejak Presiden Nyrere menjabat, budaya saling hormat antar agama semakin subur. Selain kebebasan memeluk kepercayaan, hubungan antar agama di Zanzibar sudah masuk pada masalah sosial, ekonomi dan budaya. Urusan agama tak lagi menjadi perdebatan.

“Mayoritas Islam disini pengikut mahzab Syafii atau Ahlus sunnah wal jamaah. Salah satu contoh upaya bersama antar agama seperti usaha upendo, yakni tempat belajar wiraswasta, belajar konveksi dan pemasaran produksi di Stonetown Zanzibar,” kata dia.

Untuk melestarikan lingkungan dan mencegah kerusakan, pemerintah Tanzania melarang keras buang sampah plastik. Gerakan yang dimulai dari komunitas kini menjadi gerakan negara dan di-back up undang-undang dan sanksi hukum bagi pelanggar. Bahkan kini gerakan anti sampah plastik telah jadi gerakan bersama Afrika Timur, seperti Kenya, Tanzania, Rwanda, Namibia, Cameroon, dll.

Inter religous Islam, Nasrani, Budha dan Hindu sama-sama melakukan langkah bersama untuk common sence dalam melindungi planet bumi yang semakin keberatan beban.

Bupati Sergai juga menyampaikan, praktek terbaik memelihara toleransi antar umat beragama, konservasi lingkungan, gerakan ekonomi kerakyatan, silaturahmi antar agama, cocok dibawa ke Indonesia.

Gerakan anti radikalisme dan saling hormat bisa menjadi cara untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat. Pancasila dan UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan pusaka yang pantas kita rawat. Untuk itu, delegasi Indonesia siap membawa Zanzibar spirit untuk menjadi ingatan dan komitmen bersama membumikan di Indonesia.

Forum antar agama seperti FKUB, MUI, PGI, Walubi, Parisada Hindhu serta lembaga-lembaga profesi lainnya akan diajak serta untuk melakukan aksi nyata di masyarakat. Bupati Serdang Bedagai berjanji akan membawa hasil Zanzibar spirit tersebut.

Pada sidang plenary session, Soekirman menampilkan presentasi harmony among the believers. Bupati juga didaulat menyerahkan ulos dan cenderamata kepada vice Presiden Zanzibar, di ujung acara pembukaan konferensi tersebut. (Dipa)

Bagaimana Menurut Anda