Soekirman: Sistem Zonasi di Makkah Serasa di Kampung Sendiri

138

SERGAI-SUMUT, BERITAANDA – Terkait dengan pelaksanaan ibadah haji, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI telah menerapkan sistem zonasi untuk mengatur ratusan ribu calon jemaah haji (CJH) asal Indonesia. Demikian disampaikan Ketua TPHD kloter 7 embarkasi Medan, Ir H Soekirman, yang juga menjabat sebagai Bupati Serdang Bedagai (Sergai) kepada Kadis Kominfo Drs H Akmal, M.Si melalui WhatsApp langsung dari Makkah Arab Saudi, Selasa (30/7/2019) malam.

Soekirman menerangkan, bahwa penerapan zonasi ini akan lebih mempermudah bagi jemaah haji Indonesia. Misalnya dalam hal bahasa, budaya dan adat istiadatnya. Karena dapat dikumpulkan dalam satu tempat. Hal ini juga akan lebih memudahkan para petugas untuk memberikan maupun menyediakan makanan khas daerah dengan konsep cita rasa nusantara.

Penginapan (pondokan) dengan sistem zonasi membuat rasa Indonesia sangat kental, sehingga persaudaraan haji sangat mudah untuk terjalin disana. Demikian halnya yang dirasakan calon haji kloter 7 asal Sergai, Tebing Tinggi, Binjai dan Nias. Meskipun jauh dari Masjidil Haram, namun tidak ada masalah, karena tersedianya shuttle bus salawat yang melayani sampai 24 jam.

Lebih rinci lagi disampaikan Soekirman, dari Makkah al Mukaromah, bagi yang sudah pernah berhaji, dapat membandingkan dengan sistem zonasi saat ini.

“Tentu lebih mudah dan nyaman dengan sistem zonasi, seolah kita berada di Indonesia, atau daerah sendiri. Terdapat juga toko yang menyediakan bahan pokok dan berbagai kebutuhan termasuk oleh-oleh. Semua toko tersebut diberi merk’Toko Indonesia’, bahkan ada yang mengibarkan bendera merah putih juga,” kata Soekirman.

“Intinya sekitar pondokan, zonasi Sumut berdekatan, sehingga suasananya seperti di kampung sendiri, kata Soekirman penuh semangat.

Lebih lanjut diceritakannya, bahwa hal menarik lainnya semua pemondokan selalu dilengkapi dengan Toko Indonesia yang menjual barang-barang kebutuhan, seperti layaknya di negeri kita.

Bagi jemaah yang ingin masak sendiri bisa membeli beras pandan wangi atau jasmin R6/kg, sambal terasi R15/botol, tomat R6/kg, cabe merah/hijau R10/kg, kerupuk R5/bungkus, pisang ambon R10/kg, popmie R5/gelas, dan banyak lagi yang ditawarkan seperti obat-obatan, minyak angin, tolak angin, dan lainnya.

Kemudian, lanjutnya, bagi yang tidak suka masak sendiri, di Restoran Indonesia juga tersedia lontong, soto madura, bakso, nasi campur, nasi pecal, rata-rata R12/porsi. Teh manis panas R2/gelas, juice mangga, lemon R3/porsi.

“Semua serasa menu di kampung sendiri,” ujarnya penuh semangat.

Ditambahkan Soekirman, bagi yang suka jatah makanan dari daker Kemenag sudah cukup lezat dengan menu nasi, dàging atau ayam goreng dan ikan, telor dadar, serta sayuran biasnya terong, sambel tempe dan brokoli. Masing-masing jemaah biasanya diberi 1 kotak dengan isi teh, kopi, gula dan 1 gelas untuk buat sarapan pagi, air panas tersedia di dispenser masing-masing level hotel.

Di akhir laporannya, Bupati Soekirman yang penuh semangat menjalankan tugasnya sebagai TPHD kembali menguraikan bahwa pondokan zonasi hampir semuanya ada masjid lokal yang diperuntukan bagi jemaah yang akan melaksanakan sholat fardu. Ada pula tausyiah Tuan Syekh dari Arab Saudi yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu untuk kapasitas masjid masing-masing maktab berkisar 500 orang, termasuk perempuan di lantai atas. Dekatnya masjid sekitar 20 meter dari pondokan. Hal ini sangat membatu bagi jemaah yang tidak pergi ke Masjidil Haram.

Sedangkan bagi para jemaah yang ingin pulang dengan membawa oleh-oleh seperti kurma nabi, sajadah, pernak pernik, jam tangan, batu cincin, baju gamis, topi lobe, tasbih, mainan anak, dan lainnya. Semua tersedia di took-toko Indonesia. Umumnya pemilik toko orang Arab, tetapi bisa berbahasa Indonesia. Demikian dilaporkan dari Makkah melalui Ketua TPHD Ir H Soekirman. (Dipa)

Bagaimana Menurut Anda