Proyek Irigasi BWSS II Resahkan Para Petani di 3 Kecamatan Sergai

416

SERGAI-SUMUT, BERITAANDA – Para petani di 9 desa dalam 3 kecamatan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) merasa resah akibat dampak pembangunan proyek irigasi dan rawa I milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jendral Sumber Daya Air Balai Sungai Wilayah Sumatera Utara (BWSS II). Karena lahan pertanian para petani tersebut mengalami kekeringan.

Udin, salah satu petani di Kecamatan Sei Rampah mengatakan, pada awak media mengatakan, masyarakat terutama petani mulai resah akibat tidak adanya air, sebab ratusan hektare persawahan yang akan bercocok tanam padi mengalami kekeringan.

“Bukan hanya di desa kami, tapi juga berdampak di 9 desa lainnya yang berada di 3 kecamatan, yakni Kecamatan Sei Rampah, Teluk Mengkudu dan Tanjung Beringin. Akibatnya, pembibitan yang sudah mendekati cocok tanam terancam gagal tanam, jika air belum juga disalurkan di lahan persawahan milik warga,” ungkap Udin.

“Sebagian masyarakat juga sudah mendekati masa tanam, namun karena tidak adanya air, sehingga harus diundur untuk bercocok tanam, karena lahan persawahan belum bisa di traktor akibat lahan kekeringan akibat tidak mendapatkan air dari dampaknya adanya pembangunan irigasi,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang yang bernama Sipahutar selaku pengawas proyek irigasi dan rawa I milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jendral Sumber Daya Air BWSS II mengatakan, per 1 Desember ini, proyek tersebut harus selesai dan pengairan akan dimulai serta mereka akan mengatasi masalah tersebut.

Karena menurutnya, sejak awal pembangunan, sudah ada surat pemberitahuan kepada bupati, kepala desa, camat, P3A, GP3A, mengenai hal ini.

“Cuma di tingkat koordinasi desa kita enggak tahu. Artinya, kalau ada pembangunan mereka yang bikin pola tanam siapa, desa kah atau dari camat. Kalau sebagian saya lihat di tempat lain kadang-kadang ikut pertanian, ikut PPL-nya. Sehingga disini adanya benturan-benturan koordinasi tidak sinkron,” dijelaskan oleh Sipahutar. (Dipa)

Bagaimana Menurut Anda