Pimpin Gugus Tugas ke Perbatasan, Bupati Jarot Beri Pemahaman Rapid Test dan Serahkan Bantuan

74

SINTANG-KALBAR, BERITAANDA – Bupati Sintang Jarot Winarno selaku Ketua Gugus Tugas, memimpin kunjungan kerja dalam rangka memberikan arahan upaya percepatan pencegahan dan penanganan Covid-19 di Batas Negeri Kecamatan Ketungau Hulu, sekaligus sosialisasi menuju new normal.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di gedung rapat Batas Negeri Desa Sungai Pisau Kecamatan Ketungau Hulu, Jumat (29/5/2020), yang diikuti unsur Forkopimcam Ketungau Hulu, Satgas Pamtas, Kepala Desa dan BPD di Kecamatan Ketungau Hulu, tokoh adat, serta tokoh masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, bupati memberikan arahan atau pemahaman terkait Covid-19 kepada kepala desa, BPD, tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat yang nantinya bisa disampaikan kepada masyarakat agar dalam menyikapi informasi terkait corona tidak terlalu panik. Terlebih jika mendegar ada warga yang berdasarkan rapid test itu hasilnya reaktif, sehingga sering muncul stigma negatif di tengah-tengah masyarakat.

Dikatakan Jarot bahwa, rapid test itu dilakukan apabila warga tersebut diduga ada kontak dengan orang yang sudah terpapar Covid-19. Jadi, rapid test pun bukan juga untuk menentukan apakah warga tersebut terpapar Covid-19 atau tidak.

“Tapi kita mau tahu di dalam badan dia, sudah ada anti bodi belum, atau anti bodi itu ibaratnya polisi yang jaga badan dia, corona itu ibarat penjahat. Jadi kalau ada kuman masuk dalam badan kita, otomatis tubuh kita membuat anti bodi, nah kalau mau menentukan mau tahu orang tersebut terpapar corona atau belum harus diambil swab tenggorkan yang kita kirim ke Jakarata atau Pontianak melalui PCR,” jelas Jarot.

Sehingga, lanjut Jarot, sambil menunggu hasil swab tenggorokan tersebut, orang yang berdasarkan rapid test hasilnya reaktif dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari, bahkan bisa lebih. Karena menunggu hasil swab tenggokokan itu biasanya cukup lama sampai tiga pekan.

“Sambil nunggu kepastian apakah terkena corona atau tidak, kita isolasilah selama 14 hari. Kenapa harus 14?, karena kalau orang dalam badannya masuk kuman corana, mau tahu dia timbul penyakit atau nda kita tunggu dua pekan, kalau dua pekan penyakitnya nda ada udah sembuh dia, apalagi kalau swab tenggorkan hasilnya negatif bisa balek,” kata Jarot.

Kemudian, kata Jarot, kalau orang yang sudah dinyatakan terpapar corona, kalau dia diisolasi dan diobati dikasih vitamin serta lainnya, pada hari ke-12 dia sudah tidak menularkan lagi. Jadi, tidak perlu juga takut dengan corona, karena kalau ada yang terpapar cepat diambil tindakan melalui isolasi dan perawatan pengobatan.

“Aku kabarkan dengan kita semua, kalau orang itu ketahuan udah corona, kalau dia diobati, diisolasi dikasih vitamin dan sebagainya pada hari ke-12, dia sudah tidak menularkan lagi ya, jadi jangan takut juga dengan corona, karena cepat kita isolasi, kita sembuhkan. Jadi kalau ada warga kita yang kena corona, sudah diobati segala, kalau dia pulang, jangan lalu diusir-usir. Apalagi kalau ada yang rapid test reaktif, udah macam-macam stigma tu, itu yang perlu saya sampaikan agar masyarakat nda terlalu takut,” terang Jarot.

Jarot pun menilai apa yang sudah dilakukan di Kecamatan Ketungau Hulu ini sudah cukup bagus, karena masyarakat secara ketat menjaga desa atau kampungnya masing-masing. Ia pun meminta jika ada tenaga kerja indonesia (TKI) yang pulang dari Malaysia melalui perbatasan Ketungau Hulu, Tim Gugus Tugas setempat segera membawanya ke Sintang untuk dilakukan penanganan, sesuai protokol kesehatan Covid-19.

“Kalau ada yang pulang dari Malaysia lewat perbatasan kita disini, saya minta segera bawa ke Sintang untuk ditangani, saya sudah standby-kan mobil satu disini untuk Gugus Tugas Kecamatan, tibanya di Sintang nanti, karena dia dari daerah yang sudah ada corona. Kita rapid test, kalau hasilnya reaktif kita langsung isolasi di Sintang, kalau hasilnya non reaktif, kita pulangkan ke tempat asalnya,” ujar Jarot.

Selain itu juga turut diserahkan bantuan sembako secara simbolis oleh Bupati Sintang dan romobongan lainnya kepada masyarakat kurang mampu di kawasan perbatasan yang belum tersentuh sama sekali oleh bantuan lainnnya dalam dampak covid-19.  (Arni)

Bagaimana Menurut Anda