Mengenal Lambang Adat Semende

115
H. Albar Sentosa Subari, SH SU (kiri) dan Marsal, S. Ag (kanan)

BERITAANDA – Setiap masyarakat hukum adat di nusantara mempunyai ajaran-ajaran berupa nilai-nilai yang berlaku sebagai pedoman berkehidupan dalam pergaulan satu sama lain.

Salah satu nilai yang hidup di masyarakat adat di Sumsel adalah masyarakat hukum adat Semende. Masyarakat hukum adat Semende, nilai-nilai kehidupannya digambarkan sebagai berikut :

1.Kujur / Tombak / Balau
Dari segi bentuk, lambang ini mencerminkan kejujuran. Jadi, kejujuran menjiwai kepribadian warga masyarakat hukum adat Semende seutuhnya tercermin dalam lambang, walaupun lambang ini seolah olah hanya untuk tunggu tubang, namun berlaku umum.

2. Kampak / Kapak
Kampak jenis alat yang digunakan untuk memotong, menebang dan membelah kayu. Mata kampak terdiri dari sisi kiri dan kanan. Lambang ini justru mengandung makna bahwa dua keluarga yakni keluarga pihak laki-laki dan perempuan harus diperlakukan sama dalam membina jurai. Jadi, Tunggu Tubang Semende dan masyarakat Semende umumnya berlaku adil dalam membina, mengayomi keluarga.

3. Jale / Jala
Jala semacam alat untuk digunakan menangkap ikan. Benda ini terbuat dari benang. Jala terdiri dari tiga bagian penting yaitu pusat jala, daun jala dan rantai yang disebut batu jala. Jala dapat ditarik, sehingga batu jala yang berbentuk cincin akan terkumpul. Secara philosofis lambang ini mengandung makna persatuan keluarga yang disebut jurai tidak terpecah yang dikomandoi para meraje.

4. Tebat / Kolam Ikan
Tradisi masyarakat hukum adat semende bahwa kolam ikan merupakan kebanggaan Tunggu Tubang. Kolam ini, berisi air dan ikan yang dipelihara oleh Tunggu Tubang, dimana satu saat dapat dipanen baik menggunakan pancing atau jala.

Disamping merupakan suku cadang lauk pauk, kolam ini perlambang kepribadian Tunggu Tubang yang tetap sabar walau pun ada gejolak ditengah jurai. Biar ada angin dan badai, namun air kolam tetap tenang seolah olah tiada persoalan.

5. Guci
Benda ini berbentuk bhnder telur, sebelah atasnya berlubang kecil. Terbuat dari tanah yang dibakar. Guci berfungsi tempat penyimpanan makanan persediaan bila ada tamu seperti meraje dan apit jurai saat mereka menginap.

Biasanya yang disimpan dalam guci antara lain ikan yang sudah diawetkan dan tempoyak dan garam. Orang semende biasa menerima tamu baik keluarga dekat ataupun keluarga jauh.

Pada hari itu mereka dijamu oleh Tunggu Tubang secara keluarga. Penulis sudah merasakan bagaimana rasanya dijamu oleh Tunggu Tubang saat melakukan penelitian hukum adat Semende, baik secara bersama maupun sendirian.

Biasanya rumah Tunggu Tubang cukup luas dan biasanya bertingkat lantainya. Pengalaman ini pernah penulis rasakan menginap di Desa Pulau Panggung (depan Masjid Tuwa) yang sekarang dijadikan rumah adat Semende Muara Enim. (*)

Bagaimana Menurut Anda