Ketua Tim Kloter 7 Sergai Paparkan Serba Serbi Musim Haji di Makkah

160

SERGAI-SIMUT, BERITAANDA – Kampung Indonesia implementasi dengan sistem zonasi untuk pelaksanaan ibadah haji bagi jemaah asal Indonesia, membuat para jemaah seperti tinggal sekampung.

Kawasan Syisyah berkisar 4,5 Km dari timur Kota Makkah, yang disekitarnya banyak hotel sebagai maktab embarkasi Sumut, sehingga kemanapun pergi selalu bertemu dengan orang Indonesia.

“Di masjid sudah pasti, dalam bus juga dominasi, di kedai-kedai maupun toko Indonesia (tetap milik orang Arab) dipenuhi dengan aktivitas belanja orang Indonesia,“ kata Ketua TPHD Sergai Soekirman yang tergabung dalam kloter 7 embarkasi Medan yang disampaikan kepada Kadis Kominfo Kabupaten Serdang (Sergai) Drs H Akmal, M.Si melalui WhatsApp langsung dari Makkah Arab Saudi, Jumat (2/8/2019).

Soekirman menjelaskan, seperti pada pagi ini, usai melaksanakan sholat Subuh, di depan pintu masjid banyak dijajakan nasi uduk, nasi putih telur sambel, nasi goreng dadar suwir, bakwan, telor ayam rebus, kentang rebus. Harganya juga cukup murah antara RAS 5-8 per pak.

“Ayoo sarapan. Murah, murah, benar-benar seperti di Indonesia,” kata Soekirman sembari tertawa.

Sementara itu di lantai 3 Masjidil Haram sisi timur, tepatnya di atas posisi Bukit Safa-Marwa ada jasa skuter resmi yang dikelola manajemen masjid. Meskipun diprioritaskan untuk lansia atau disabilitas, namun siapa saja boleh menggunakan untuk ibadah tawaf dan sa’i.

Soekirman menjelaskan cara mendapatkan jasa tersebut, untuk jemaah cukup dengan mendaftar di bagian reception yang terdapat loket pria dan wanita. Biaya untuk 1 orang RAS 100 atau setara Rp400 ribu per sekali pakai. Lama tidak dihitung, terserah kecepatan pemakainya.

Sedangkan kupon dari loket dibawa ke jalur skuter, setelah diajari sebentar pemakai menuju jalur titik hijau, sembari menghadap Ka’bah dan mengucapkan, Bismillah, Allahuakbar, lalu melanjutkan tawaf keliling Ka’bah tujuh putaran,

Dilanjutkan sa’i sebanyak tujuh kali dari Bukit Safa dan Marwa. Sepanjang rute skuter jemaah tetap membaca doa sesuai yang diajarkan manasik haji.

“Alhamdulillah ibadah lancar, tenaga tidak terlalu terkuras,” ucapnya penuh syukur.

Kemudian Soekirman menambahkan, sudah diketahui bahwa salah satu ikon kota Makkah sekarang  adalah jam raksasa di atas Hotel Royal Makkah. Bangunan jam raksasa dengan tinggi mencapai 743 meter dan mempunyai 4 sisi serta terlihat dari kejauhan hingga 30 Km. Bagi peziarah yang mengarah ke Bukit Jabbal Rahmah di Arafah dapat melihat jam penanda posisi Ka’bah di Kota Makkah ini.

Di bawah jam raksasa tersebut, tidak hanya Royal Hotel, tetapi ada hotel-hotel kelas dunia lainnya seperti Pullman, Raffless dan banyak lagi. Museum jam raksasa ini dibuka setiap hari bagi pengunjung dari pukul 9 pagi hingga 10 malam Waktu Arab Saudi (WAS). Untuk mengunjungi museum dan bagian teratas jam ini dikenakan biaya RAS 150 atau setara Rp600 ribu.

“Untuk sekedar diketahui, menurut guide bahwa jarum jam tersebut yang terlihat dari bawah sebagai penunjuk waktu beratnya mencapai 5 ton, sungguh luar biasa,” ujar Soekirman penuh semangat.

Tak lupa juga Soekirman mengingatkan bagi jemaah orang tua dan yang jalan sendirian dalam beribadah di sekitar Masjidil Haram berhati-hatilah, sudah banyak kejadian seperti pencopetan.

“Modusnya pun macam-macam, ada perempuan berjilbab berpura-pura minta sedekah, sementara temannya disebelah merogoh tas korban. Ada pula yang ketika seseorang mengeluarkan dompet untuk mengambil uang tiba-tiba ada yang nyerobot dan melarikan diri,” katanya mengingatkan.

Namun, kembali diceritakan Soekirman, bahwa banyak sekali modus pencopetan di Makkah. Seperti saat berada di terminal bus, dengan jutaan manusia berjubel sering kali copet beraksi, mereka gunakan silet untuk mengambil barang di tas korban.

“Adalagi yang pura-pura menawarkan jasa tenaga mendorong tawaf dan sa’i, ternyata setelah mengambil uang tidak muncul lagi. Oleh karena itu, jemaah sebaiknya tidak jalan sendirian memasuki Masjidil Haram, terutama yang sudah sepuh atau lansia,” tukas Soekirman.

Terkadang Soekirman bertanya dalam hati, heran ya?, di tempat suci Baitullah ini, kok ada orang jahat. Namun hal ini ditepisnya, karena kita tidak perlu heran dan terkesima, seperti riwayat pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, karena pada saat itu sudah ada orang bernama Abu Lahab dan Abu Jahal.

“Semoga jemaah terhindar dari hal-hal yang menyusahkan. Aamiin,” ungkapnya penuh doa.

“Saat ini suasana Masjidil Haram semakin padat manusia, dan suhu di luar ruangan pagi ini masih kondusif berkisar 32 derjad celcius. Pada pukul 2 siang WAS di Arafah diperkirakan suhu mencapai 42 derjad celcius,” pungkas Soekirman (Dipa)

Bagaimana Menurut Anda