Juniardi Minta Polda Lampung Segera Tangkap Pelaku Pengancam Wartawan dengan Celurit

19
Ilustrasi

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Dewan Pakar Jaringan Serikat Media Siber (JMSI) Provinsi Lampung, Juniardi SH MH, mendesak polisi segera menangkap Radan, pelaku penimbunan BBM subsidi yang melakukan pengancaman wartawan menggunakan celurit saat dilakukan konfirmasi, Selasa (3/9/2024) lalu.

Juniardi mengatakan, menghalangi wartawan atau jurnalis pada saat menjalankan tugasnya dapat dipidana.

“Selain pidana umum, pelaku bisa dijerat pidana UU Pers, karena sengaja menghalangi wartawan menjalankan tugas jurnalistiknya,” kata Juniardi, Rabu (11/9/2024).

Ia menjelaskan, bagi seseorang yang dengan sengaja menghalangi wartawan menjalankan tugasnya dalam mencari, memperoleh dan menyebarluaskan informasi dapat dikenakan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers.

“Dengan demikian, seseorang yang dengan sengaja menghambat dan menghalangi tugas wartawan otomatis melanggar ketentuan pasal tersebut dapat diancam pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta,” katanya.

Selain itu, kata Juniardi, indeks kemerdekaan pers di Lampung sangat rendah, salah satunya tingginya ancaman dan kekerasan terhadap wartawan saat menjalankan tugas.

“Kekerasan baik verbal hingga non verbal kerap terjadi di Lampung. Ini harus menjadi perhatian serius,” katanya.

Sebelumnya, wartawan media online Lantangnews.id bernama Slamet Riyadi (51) melaporkan pelaku penimbunan BBM subsidi jenis Solar dan Pertalite bernama Radan, warga Desa Sukamaju, Kecamatan Way Sulan, Lampung Selatan, ke polisi atas tuduhan melakukan pengancaman menggunakan senjata tajam jenis celurit, intimidasi dan menghalangi kerja jurnalistik.

Slamet diancam dengan dikalungi celurit di lehernya, saat melakukan konfirmasi terkait dugaan penimbunan BBM jenis Solar dan Pertalite, di kediaman Radan. Peristiwa itu juga disaksikan anak dan istri Radan, termasuk rekan Slamet bernama Lina (43).

Slamet mengatakan, awalnya dirinya mendapatkan informasi dari masyarakat terkait aktivitas penimbunan BBM subsidi jenis Solar dan Pertalite. Slamet bersama timnya kemudian mengonfirmasi kepada Radan terkait hal itu.

“Saat dikonfirmasi mengenai BBM yang berada di rumahnya, Radan tidak berkelit bahkan mengakui bahwa BBM tersebut didapatnya dari SPBU Tanjung Bintang, dan mendapat arahan dari Hendra yang menjabat sebagai Kepala Dusun (Kadus) Sukanegara, Desa Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung,” katanya.

Saat itu, kata Slamet, Radan mempersilahkan wartawan untuk diberitakan. Namun tiba-tiba Radan marah dan mengambil senjata tajam jenis sabit (celurit -red) dan langsung dikalungkan ke lehernya, sambil menyebut nama orang yang diduga sebagai pemain BBM oplosan yang berada di wilayah tersebut.

“Kecamatan Way Sulan, masuk Desa Sukamaju itu areal saya itu saja intinya. Seumpama saya ini main minyak oplosan terus jualan BBM itu menyalahi aturan, merusak motor masyarakat baru boleh dipegang, kayak bos Carsim. Bos Carsim jelas pemain besar, modelnya minyak mentah,” kata Slamet menirukan ucapan Radan yang juga direkam wartawan.

Lina (43), saksi yang berada di lokasi kejadian membenarkan peristiwa tersebut. Radan mengalungkan senjata tajam jenis sabit itu kepada wartawan asal Kecamatan Sidomulyo itu di hadapan anak istri pelaku.

“Jangan nantang saya,” ucap Lina menirukan ucapan Radan saat terjadi pengancaman tersebut.

Slamet Riyadi yang merasa terancam dan terganggu kerjanya melaporkan kasusnya ke Polsek Katibung, Polres Lampung Selatan. Dengan bukti laporan STPL/646/IX/2024/SPKT/Polsek Katibung/Polres Lamsel/Polda Lampung. (*)

Bagaimana Menurut Anda