Erick Thohir Sindir Bos BUMN Merugi Makan di Restoran Mahal

323

NASIONAL, BERITAANDA – Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, Menteri BUMN Erick Thohir sempat agak marah dengan kelakuan petinggi perusahaan BUMN. Kata Arya, Erick menyampaikan kekesalannya ini saat bertemu dengan 32 pimpinan BUMN top di Jakarta pada Selasa (19/11/2019) kemarin.

“Pak Erick juga sempat keras ngomong, beliau katakan, pernah dia ke salah satu restoran di Thamrim bertemu dengan eksekutif BUMN, makan di tempat cukup mahal mewah tapi ketika dilihat keuangan BUMN tersebut rugi,” ujar Arya di ruang media Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Erick, lanjut Arya, bukan tidak memperbolehkan petinggi BUMN makan di tempat mewah. Namun Erick ingin petinggi BUMN lebih peka melihat kondisi perusahaan.

“Bukan tidak boleh untuk sesuatu yang layak kita didapatkan, tapi harus punya hati dan akhlak, ketika perusahaan rugi ya mereka ikut prihatin dengan gaya hidupnya,” ucap Arya.

Kepada 32 pimpinan BUMN, Erick menyampaikan pentingnya menjaga kinerja perusahaan. Erick, lanjut Arya, mencontohkan dirinya yang merupakan seorang pengusaha, dimana saat perusahaan mengalami kerugian hanya Erick, keluarga, dan perusahaannya saja yang merugi. Hal ini berbeda dengan apa yang dialami perusahaan BUMN.

“Kalau BUMN rugi, ke negara larinya. Disitu Pak Erick katakan kita batust punya akhlak baik mengelola BUMN, bagi saya cukup keras pesannya beliau,” ucap Arya.

Dalam pertemuan tersebut Erick meminta para pimpinan BUMN tidak melakukan lobi-lobi kepada dirinya terkait posisi jabatan. Erick, kata Arya, mengatakan para dirut BUMN tersebut merupakan orang-orang terbaik bangsa yang memiliki amanah menjaga BUMN strategis.

Arya menyebut, 50 persen aset ekonomi dari BUMN strategis tersebut mempengaruhi setengah ekonomi Indonesia.

“Pak Erick menyampaikan bila BUMN baik maka ekonomi Indonesia baik, Pak Erick sampaikan juga dibutuhkan akhlak baik untuk para pemimpin BUMN ini,” kata Arya.

Bagi Erick, lanjut Arya, hal yang terpenting adalah BUMN mampu mencapai bottom line atau target dasar.

“Disampaikan juga mereka tidak perlu lobi-lobi untuk pertahankan jabatannya, kalau bottom line bagus nggak usah khawatir, jadi nggak ada namanya lobi-lobi. Kalau bottom line perusahaan bagus pasti dipertahankan,” ungkap Arya.

Sumber: republika.co.id

Bagaimana Menurut Anda