Demo 11 April di Sidimpuan, Rangkulan Tangan Kapolres Tuai Pujian

339
Kapolres Padangsidimpuan AKBP Juliani Prihartini (tengah) didampingi Dandim 0212/TS Letkol Inf. Rooy Chandra Sihombing (kiri) tampak merangkul lengan kanan salah satu peserta aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD setempat, pada Senin, 11 April 2022 lalu.

PADANGSIDIMPUAN-SUMUT, BERITAANDA – Demo yang dilakukan oleh ratusan massa mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Salak Berduri Tabagsel (Amisabi) pada Senin 11 April 2022, menyisakan cerita yang menarik dan unik.

Jikalau pemandangan sehari-hari ruas jalan yang ada di depan gedung DPRD Kota Padangsidimpuan didominasi kenderaan dan pejalan kaki yang lalu lalang, tapi tidak di hari itu. Ada konsentrasi massa yang berhimpun di sana.

Ada isu nasional yang mereka (Amisabi) suarakan serta sampaikan kepada wakil rakyat setempat, melalui mobil pikap (bak terbuka) yang di atasnya berisi perlengkapan pengeras suara, yang kemudian dijadikan mimbar orasi.

Berbagai penolakan, meliputi tiga periode masa jabatan presiden, kenaikan bahan bakar minyak (BBM), kenaikan harga sembako, pajak pertambahan nilai (PPN). Berikut normalisasi pendidikan, jadi poin orasi para mahasiswa.

Banyak pemandangan yang disuguhkan dari kerumunan orang banyak yang mengenakan jas almamater menurut ciri khas kampus dan organisasinya. Sesekali, terdengar riuh rendah suara mahasiswa membalas pekikan orator.

“Hidup mahasiswa, hidup mahasiswa, hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia,” pekik si orator dari mimbar, atau tepatnya dari atas mobil komando alias podium aspirasi.

Meski tidak jarang pidato berapi-api yang disampaikan si orator membakar semangat membara para peserta aksi, tapi penetrasinya selalu berujung ketenangan dan damai. Di momen ini, sisi humanisme petugas keamanan terasa.

“Hubungan emosional di antara para demonstran dengan aparat begitu kental terasa. Massa dihadapi dan dilayani secara humanisme, mulai dari barikade polisi berkopiah dan polwan cantik,” tutur salah satu peserta aksi unras.

Kepada BERITAANDA, mahasiswi yang mengenakan jas almamater berwarna hitam itu mengaku trik yang dibuat pihak keamanan dalam mengawal aksi terbilang sukses mencairkan suasana dan hadirkan nuansa kebersamaan.

“Kehadiran pihak keamanan benar-benar membuat kami merasa aman dan nyaman, tak ada sedikitpun gambaran rasa ditakut-takuti ataupun dihalang-halangi dalam kami menyampaikan aspirasi ataupun tuntutan kami,” ujarnya.

Langkah penanganan maupun upaya aparat kemanan itu, menurut dia, juga kontras sekali dengan gestur Kapolres Padangsidimpuan AKBP Juliani Prihartini, di sela waktu aksi berjalan yang merangkul tangan rekan mahasiswa.

“Kalau memang beliau (Kapolres Padangsidimpuan) itu  menatap kami bukan sebagai anak-anaknya yang harus diayomi dan dilindungi, tentulah rangkulan itu takkan dia lakukan. Pokoknya top untuk ibu Kapolres kami,” pujinya.

Terpisah, Kapolres AKBP Juliani mengungkapkan, cara-cara yang dilaksanakan Polres Padangsidimpuan tidak terlepas dari arahan pimpinan institusinya, mulai Kapolri hingga Kapolda Sumatera Utara kepada segenap jajaran.

Pihaknya dalam kesempatan itu menekankan ke peserta aksi agar tidak anarkis saat menyampaikan pendapat di muka umum. Mereka (Polri dibekap TNI) hadir sekaligus tidak menyumbat mahasiswa menyampaikan aspirasi.

“Justru kita harus mampu menghadirkan rasa suka cita kepada adik-adik mahasiswa supaya nyaman pada saat menyampaikan pendapat dalam aksinya,” singkat polwan pertama yang menjabat Kapolres di Kota Salak tersebut. [Anwar]

Bagaimana Menurut Anda